Komputer Kembali Kalahkan Juara Dunia Catur | Iptek | DW | 06.12.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Iptek

Komputer Kembali Kalahkan Juara Dunia Catur

Tampaknya duel manusia melawan mesin memasuki fase baru. Juara dunia catur Vladimir Kramnik dalam kompetisi internasional di Bonn baru-baru ini, dikalahkan program catur di komputer yang bernama Deep Fritz.

Vladimir Kramnik ketika bertanding melawan Deep Fritz

Vladimir Kramnik ketika bertanding melawan Deep Fritz

Jika Alan Turing masih hidup, dia mungkin akan berteriak kegirangan melihat grand master catur seperti Gary Kasparov, David Levy dan Jan Hein Donner keok di panggung catur, menelan pahit kekalahan mereka melawan komputer. Alan Turing, sang ilmuwan komputer Inggris, dapat menyaksikan dari liang kubur fase baru kekalahan manusia melawan mesin.

Ketika Turing menciptakan program catur dunia pertama kali di tahun 1950, penemuannya itu dapat dikatakan temuan super cerdas. Namun pada saat itu, komputer catur masih langka memperoleh kesempatan bertarung melawan pemain tangguh.

Pada tahun 1985, juara dunia legendaris Gary Kasparov bertarung melawan 15 komputer secara simultan. Ia memenangkan seluruh pertandingan tersebut. Ketika itu, master catur masih terkikik-kikik geli melihat kelemahan otomatisasi catur. Tak seorangpun kala itu dapat membayangkan berakhirnya dominasi manusia pada pertandingan papan catur di masa mendatang.

April 1997 menandai awal era baru konfrontasi manusia melawan mesin. 1,4 ton silikon di mesin catur berotak komputer yang disebut Deep Blue, mampu berhitung 200 juta kali lebih cepat ketimbang manusia, Deep Blue melumat juara dunia Gary Kasparov. Kasparov, juara bertahan selama 12 tahun, terpojok melawan ganasnya mesin.

Dan kini, Deep Fritz, penerus Deep Blue. Ketika pecatur dunia Vladimir Kramnik bertanding dengan Deep Fritz di Bahrain tahun 2002, pertarungan masih berlangsung imbang. Kala itu, si mesin catur masih dengan taktik bertahan, namun sanggup memaksa Kramnik menerima hasil 4:4. Tapi sekarang, tahun ini dimana kembali manusia melawan mesin, skala nampaknya bergeser ke komputer.

Pada awalnya Deep Fritz dibangun sebagai alat untuk meningkatkan kemampuan para pehobi catur dan pemain amatir. Namun dalam pertandingan baru-baru ini melawan Valdimir Kramnik, Fritz tampil dnegan versi baru menggunakan 4 prosesor. Matthias Wüllenweber, yang membangun versi baru Depp Fritz berujar:

"Fritz dapat menghitung 10 juta posisi per detik. Dari pihak lawan, Kramnik menghitung hanya satu posisi per detik. Dan ini merupakan kekuatan program yang hanya bisa dengan tajam menghitung kekuatan lawan, sehingga dapat berada pada tingkatan yang sama dengan pecatur juara dunia.“

Dengan wawasan yang diambil dari berbagai turnamen dan pertandingan melawan manusia tangguh, membuat program Fritz bergaya layaknya manusia. Namun tetap tak mudah terkalahkan. Kembali Wüllenweber:

“Dia menggunakan pendekatan yang sungguh berbeda. Dia mengenali pola bermain secara intuitif, dia mengingat hal-hal dari pengalaman bermain sebelumnya. Deep Fritz menghitung dengan sangat cepat namun dia juga menghitung segalanya termasuk langkah tak penting dan tak bernilai.“

Setelah Kramnik memetik nilai 3:2 dari pertarungan berhadiah 1 juta Dolar Amerika ini pada hari Minggu (03/12), tampaknya kemenangan bergeser meninggalkan Kramnik.

Pertanyaannya kini: Apa tujuan dalam menciptakan sebuah mesin yang kompleks jika sudah tak terkalahkan?

"Tujuan utama dalam menciptakan komputer ini bukan untuk mengalahkan setiap makhluk hidup di planet ini. Tujuan dari pembuatan Deep Fritz adalah untuk membantu mengembangkan hobi dan meningkatkan pola pertandingan mereka. Dan untuk menunjukan pada pemain amatir bahwa, anda dapat sangat…sangat kuat seperti program catur. Namun kini, kita berada pada tingkatan ini, di mana manusia dan mesin memiliki kekuatan yang sama.“

Namun di atas papan catur, masih berkutat seputar menang atau kalah. Ketika ditanya bagaimana starategi yang baik dalam mengalahkan program catur komputer, Grand Master catur Belanda Jan Hein Donner menjawab : Ya..dengan palu..hehehe.“