Kompromi Demi Iklim? | Fokus | DW | 30.04.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Kompromi Demi Iklim?

Mulai hari Senin 30 April para pakar iklim terkemuka dunia berkumpul di Bangkok untuk membahas bagaimana ancaman bencana iklim dapat dibendung.

Hasil pertemuan ini akan dipublikasikan oleh Dewan Iklim PBB, Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), pada hari Jumat mendatang.

Apa yang harus dilakukan untuk mengatasi perubahan iklim dipahami oleh sekitar 2.500 penulis laporan PBB mengenai iklim. Tetapi dalam pertemuan di Bangkok itu hanya merupakan tema sampingan. Topik utama diskusi adalah sejauh mana negara-negara yang menjadi anggota Dewan Iklim PBB atau IPCC itu mau menerima hal-hal yang disimpulkan oleh para ilmuwan. Hasilnya kemudian akan dirangkum sebagai pedoman bagi para politisi. Olav Hohmeyer, guru besar manajemen energi dan lingkungan pada universitas Flensburg, akan ikut berdiskusi di Bangkok. Sebagai salah seorang penulis laporan iklim, ia mengenal prosesnya: "Karena rangkuman bagi para politisi merupakan bagian penting dari perembukan di Bangkok, akan terjadi perdebatan sengit karena misalnya AS, Arab Saudi dan Cina berusaha memperlunak segalanya. Mereka tidak menghendaki pernyataan tegas yang dapat membatasi ruang gerak politik. Sedangkan negara-negara lain terutama dari Eropa hendak menghendaki sebanyak mungkin kesimpulan ilmiah sebagai pedoman politik."

Para delegasi akan mempersengketakan setiap titik dan koma. Perembukan akan dipersulit dengan prinsip konsensus. Artinya tiap negara dapat menolak diikutkannya suatu rumusan yang tidak disetujuinya. Menurut Olav Hohmeyer: "Ada kerugian dan keuntungannya. Harus dicapai persetujuan, bagaimana tiap rumusan mencakup kesimpulan dari bidang ilmiah sehingga semua negara tidak dapat membantahnya. Jadi harus ditemukan kompromi bahasa. Sehingga kalau dokumen itu disetujui dengan konsensus, juga dari pihak AS, Cina dan Arab Saudi, maka mereka tidak dapat mundur lagi."

Tetapi kesimpulan mana dari laporan iklim PBB itu akan diikutkan dalam rangkumannya sebagai pedoman politik, masih tergantung pada perembukan yang dilakukan di Bangkok. Bila perubahan iklim harus dibendung, maka bagi para penulis laporan iklim PBB itu yang jelas harus diubah adalah terutama produksi energi. Selanjutnya Olav Hohmeyer mengemukakan: "Yang penting adalah penggunaan energi secara efisien dan hemat. Itu di tempat paling atas. Yang kedua, menyediakan energi yang bebas CO2. Yaitu dalam bentuk energi terbarukan yang tersedia dalam jumlah besar, tetapi tidak murah. Lalu ada pula opsi yang akan disukai oleh pemasok energi fossil, yaitu untuk menyaring zat karbon setelah pembakaran dan menyalurkannya ke lapisan air di bawah tanah untuk menghasilkan air mineral."

Olav Hohmeyer dari Universitas Flensburg tidak mendukung perluasan energi atom, betapa pun energi atom semakin ditonjolkan sebagai alasan untuk membendung perubahan iklim, karena reaktor atom tidak mengeluarkan emisi gas rumah kaca, karbondioksida. Sebab, bila semua pembangkit listrik digantikan oleh reaktor nuklir, maka cadangan uranium akan habis terlebih dulu sebelum punahnya cadangan minyak.