Kompleks Pemakaman Karl Marx Terancam Rusak Akibat Pemanasan Global | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 20.12.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Pemanasan Global

Kompleks Pemakaman Karl Marx Terancam Rusak Akibat Pemanasan Global

Pemanasan global ancam eksistensi pemakaman bersejarah Highgate Cemetery di London tempat Karl Marx dimakamkan. Jamur merajalela, letak makam dan batu nisan pun bergeser.

Pamakaman Highgate, London, Inggris

Sudut di Pemakaman Highgate, London, Inggris, tempat sejumlah pesohor termasuk Karl Marx dimakamkan.

Keberadaan pemakaman Highgate Cemetery di London, Inggris, tempat dimakamkannya Karl Marx terancam akibat pemanasan global. Pengurus makam kini tengah berusaha meminta bantuan para ahli untuk mempertahankan eksistensi pemakaman bersejarah ini. 

Prihatin dengan pertumbuhan jamur yang kian merajalela, badai yang semakin dahsyat, dan pergeseran letak makam, para pengurus makam pun merancang program kompetisi bagi arsitek lanskap untuk ikut membantu pemakaman yang terletak di London utara itu dalam menghadapi suhu yang akan semakin memanas dalam beberapa dekade mendatang.

"Rencananya harus bisa bertahan selama 20 tahun lebih dan selama itu pemanasan global akan terus berlanjut," ujar Martin Adeney, ketua Friends of Highgate Cemetery yang kini mengelola pemakaman tersebut.

Selain Karl Marx, pemakaman yang terletak di lereng bukit ini juga menjadi tempat beristirahat sejumlah tokoh terkenal, termasuk novelis George Eliot, dan penulis buku The Hitchiker's Guide to the Galaxy yakni Douglas Adams. Penyanyi pop George Michael yang meninggal pada 2016 juga dimakamkan pada sebuah makan tidak bertanda di sana, sesuai dengan keinginan pihak keluarga. Hingga kini, pemakaman ini masih aktif digunakan untuk penguburan.

Setiap tahunnya, pemakaman Highgate menarik sekitar 100.000 pengunjung dari seluruh dunia. Bahkan dalam tujuh tahun terakhir, jumlah pengunjung naik sebanyak 30 persen. Namun tahun ini pengunjung berkurang drastis akibat pembatasan untuk mengurangi sebaran wabah virus corona.

Kenaikan curah hujan dan serangan jamur

Terlepas dari pesona dan daya tariknya, sejumlah kerusakan dapat terlihat pada batu nisan dan katakombe akibat kenaikan suhu dan makam yang terabaikan selama beberapa waktu. Beberapa kuburan bahkan dikelilingi oleh pita pengaman untuk mengingatkan pengunjung bahwa area itu tidak aman. Nisan lainnya miring atau bahkan rata dengan tanah. Di beberapa tempat juga terlihat tutup kuburan yang berada di atas tanah telah dalam kondisi miring dan ditumbuhi pepohonan liar. 

Kepala pengelola kebun di pemakaman ini, Frank Cano, menunjuk ke sebuah makam batu dari abad ke-19 yang bagian atasnya telah doyong karena terdorong pohon yang tumbuh di dekatnya. Batu tersebut juga terlihat agak rompal.

Tingkat penyusutan tanah dan perluasan area tanah liat di London juga telah menyebabkan sejumlah kuburan batu bergeser, ujar Cano yang telah bekerja di pemakaman itu selama enam tahun. Hal ini memengaruhi akar pohon yang tumbuh liar di antara kuburan, membuatnya jadi lebih tidak stabil.

“Ancaman terhadap kuburan ini berasal dari pepohon, dari ivy, dari semak duri. Pada dasarnya alam mencoba menguasai kembali pemakaman ini.” Hembusan angin juga semakin kencang, kata Cano. Suhu yang lebih hangat menyebabkan jamur tumbuh subur dan pepohonan menderita “lebih banyak lagi hama dan penyakit,” ungkap Cano.

Tahun lalu, pemakaman ini juga harus menebang salah satu pohon kebanggaannya yakni sebuah pohon cedar lebanon karena terkena serangan jamur parah. Selain itu, peningkatan curah hujan menghapus jalur kerikil dan meluapi sistem drainase kuno yang ada di sana.

Rencana tata ulang lanskap akan juga meliputi penanaman pohon yang dapat lebih baik beradaptasi dengan perubahan iklim. Cano mengatakan dia berharap rencana baru itu akan membantu “menjaga sejarah dalam berjalan berdampingan dengan alam” sehingga “pemakaman itu masih bisa tetap ada hingga ratusan tahun mendatang.” 

Pengunjung memoto nisan Karl Marx Highgrave CEmetery, London

Makam Karl Marx menarik pengunjung dari berbagai penjuru dunia untuk datang ke Highgate Cemetery di London, Inggris.

Perlu renovasi besar-besaran

Rencana baru untuk merenovasi makam ini tidak diragukan lagi akan menjadi rencana yang terbesar sejak tahun 1970-an, ungkap Martin Adeney, ketua Friends of Highgate Cemetery, namun biayanya masih belum diketahui. 

“Kami perkirakan akan mencapai sekitar jutaan (pounds), tentu saja,” katanya, seraya menambahkan bahwa National Lottery Heritage Fund adalah sumber potensial untuk pendanaan. Friends of Highgate Cemetery juga mencari proposal dari arsitek agar kompleks pemakaman menjadi lebih ramah pengunjung, sambil tetap menghormati penghuni pemakaman.

Dalam situsnya, Highgate Cemetery mengatakan bahwa Pemakaman Highgate sangat sukses pada masanya, hingga membuka pemakaman di sisi timur pada tahun 1860 tempat Karl Marx dimakamkan.

Marx pada awalnya dimakamkan di kuburan istrinya di sebuah jalan yang kecil yang tidak terlalu menonjol. Namun di tahun 1956, patung dada raksasa karya pematung sosialis Laurence Bradshaw diinstal di lokasi yang kini lebih mudah dilihat. Sejak itu, patung ini telah menarik pengunjung dari berbagai belahan dunia.

Saat Karl Marx dikuburkan, pemakaman itu dikelola dengan sistem operasi komersial yang menghasilkan keuntungan. Namun seiring waktu, lahan pemakaman pun penuh dan pengelolaan makam menjadi tidak lagi ekonomis.

Pada tahun 1970-an, pihak pengelola asli pemakaman meninggalkan pemakaman ini dalam keadaan terbengkalai dan mengejutkan: banyak kuburan dan kubah makam rusak dan terbuka, serta tereksposnya kerangka manusia. Penduduk setempat kemudian mengambil alih pengelolaannya secara sukarela.

ae/vlz (AFP, highgatecemetery.org)

Laporan Pilihan