1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Ilustrasi anak-anak belajar agama sebagai program ekstrakulikuler
Ilustrasi anak-anak belajar agama sebagai program ekstrakulikulerFoto: Getty Images/AFP/G. Chai Hin

Komnas HAM: Radikalisme Sudah Menyentuh Anak-anak

23 Februari 2018

Kebangkitan faham radikalisme juga mulai mengubah pola pikir anak-anak, klaim Komnas HAM. Jika dibiarkan, masa depan keberagaman di Indonesia terancam.

https://p.dw.com/p/2tDTw

Sebuah video yang viral di media sosial dianggap menjadi peringatan buat masa depan keberagaman di Indonesia. Di dalamnya tiga bocah bertelanjang dada dan memegang senjata tajam meneriakkan ancaman terhadap PKI. "Kami santri cilik di Tanggerang, Banten, siap menjaga ulama!," pekik salah seorangnya sembari mengacungkan celurit.

"Nilai-nilai ekstremis semakin kuat di masyarakat, termasuk anak-anak," kata Sandrayati Moniaga, Wakil Ketua Komnas HAM Bidang Eksternal. "Banyak orang yang melaporkan bahwa anak-anak menolak bermain bersama teman yang tidak seiman," imbuhnya kepada media dalam sebuah jumpa pers di Jakarta, Kamis (22/2).

Video serupa sempat mencuri perhatian publik ketika sekelompok bocah melakukan pawai obor di sela-sela Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017 sambil meneriakkan "bunuh Ahok!"

Menurut Komnas HAM Indonesia sedang menghadapi "masalah serius" dalam bentuk menguatnya pandangan radikal di masyarakat, termasuk anak-anak. Terutama penyalahgunaan isu agama untuk kepentingan politik ditengarai sebagai akar permasalahan. Komnas HAM mengkhawatirkan, Pilkada serentak 2018 dan Pemilu Kepresidenan 2019 akan memperkuat intoleransi serupa Pilkada DKI.

Baca: Seperlima Mahasiswa Indonesia Dukung Kekhalifahan Islam

"Dalam jangka panjang, negara kita menghadapi masalah besar dalam bentuk pandangan ekstremis yang diproduksi secara sistematis dan bisa dimanipulasi untuk kepentingan tertentu, tidak hanya pemilu", kata Sandrayati seperti dikutip Jakarta Post.

Menguatnya tendensi radikalisme di kalangan muda muslim juga dibuktikan oleh penelitian Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Meski baru berjumlah kecil, pengaruh ideologi ekstrim bisa ditemukan pada remaja dan anak-anak. "Kalaupun ada yang ekstremis, sikap seperti itu dianut mereka yang bergabung dengan kelompok jihadis," kata Koordinator Peneliti CSRC Chaider S Bamualim kepada Kompas.

Meskipun demikian, Chaidar meyakini sikap dasar kaum muda muslim Indonesia masih bersifat terbuka dan moderat.

rzn/yf (kompas, jakartapost, tribunnews, tirto)