Kisah Para Wartawan di Medan Perang | NRS-Import | DW | 03.05.2018
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Hari Kebebasan Pers

Kisah Para Wartawan di Medan Perang

Jurnalisme semakin menjadi "misi bunuh diri" dengan koresponden asing yang meliput di tempat seperti Suriah dan Yaman menjadi korban faksi-faksi yang bertikai. Simak cerita jurnalis Jerman dan aktivis Suriah.

Kadang pekerjaannya bisa menjadi berbahaya. Husam, pria Suriah, yang menggunakan nama akun "aktivis Suriah melawan rezim brutal Assad & ISIS" di Facebook dan Twitter, telah mengunggah video dari Idlib di media sosial selama beberapa tahun.

Hal ini telah membuatnya menjadi target. Pada 2015, ia diculik oleh Jabhat al-Nusra, cabang al-Qaeda di Suriah, yang memisahkan diri dari jaringan teror tersebut pada 2016. Mereka menahannya selama 25 hari, katanya kepada DW melalui WhatsApp, "atas tuduhan berkomunikasi dengan intelijen Inggris."

Akhirnya, mereka membiarkannya pergi. Yang lainnya kurang beruntung: Siapa pun yang melaporkan berita dari Suriah telah lama menjadi target potensial dari faksi-faksi yang bertikai dalam konflik yang berlarut-larut selama tujuh tahun itu. Jurnalis independen diculik dan dibunuh. Sedikit yang dibebaskan. Warga Amerika Serikat James Foley dan Steven Sotloff serta Kenji Goto dari Jepang mungkin adalah kasus yang paling terkenal dari banyaknya wartawan asing yang diculik di Suriah dan kemudian dibunuh secara brutal. Mereka bertiga dipenggal, video dari siksaan mengerikan yang mereka alami diunggah di Youtube dan Twitter oleh ISIS.

Untuk kelompok ekstremis, eksekusi ini adalah propaganda berdarah. Sementara bagi yang lain, penculikan adalah bisnis yang menggiurkan, yang menjanjikan uang tebusan dalam jumlah besar.

Tak satu pun dari faksi yang bertikai tertarik pada jurnalisme independen, yang mengungkapkan kebohongan dan mempertanyakan propaganda mereka.

Para wartawan Suriah juga menjadi sasaran, tetapi kematian mereka nyaris tidak terdengar di Barat. Pada 2017 saja, sembilan wartawan Suriah tewas dalam perang, menurut Komite Perlindungan Jurnalis (Committee to Protect Journalist). Pada 2018, sejauh ini empat telah meninggal.

'Misi bunuh diri'

Meliput di Suriah adalah "misi bunuh diri," kata Martin Durm kepada DW. Jurnalis Jerman itu pernah mengalaminya sendiri. Pada awal 2012, ketika wartawan asing masih dapat melakukan perjalanan ke Suriah, Durm diserang ketika meliput di Aleppo dengan seorang rekan. Kantornya menyebut hal itu sebagai serangan "yang sudah ditargetkan".

Hari ini, perjalanan seperti itu hampir tidak mungkin, kecuali ke wilayah Kurdi dan wilayah yang dikendalikan oleh rezim Assad.

Kunjungan terakhir Durm ke Suriah adalah pada 2015. Sejak saat itu, rezim secara rutin mengabaikan atau menolak permohonan visanya. Seperti banyak wartawan lainnya, ia terpaksa meliput di suatu wilayah, yang tidak dapat mereka akses lagi kecuali mereka melakukan perjalanan bersama dengan militer Rusia atau pasukan Kurdi. Hal yang mereka dapat liput pun terbatas.

Para jurnalis asing, yang seringnya berbasis di Kairo, Istanbul atau Beirut, terpaksa mengumpulkan materi yang disediakan oleh jurnalis lokal dan aktivis seperti Husam.

Tapi, Durm memperingatkan, sangat sulit untuk memverifikasi informasi dan laporan yang diterima. "Mereka yang berasal dari rezim dan oposisi - yang sebagian besar terdiri dari pasukan jihad dan Islamis - menyebarkan propaganda untuk tujuan mereka sendiri."

Durm menyebutnya sebagai "kampanye disinformasi yang disengaja" oleh rezim dan para pemberontak.

Tetapi dengan koresponden independen yang berjarak ratusan kilometer, rezim Assad mampu, misalnya, berulang kali dan dengan keras menolak klaim bahwa ia berada di balik serangan kimia di kota Duma yang dikuasai pemberontak pada awal April, kata Durm.

Lelah perang?

Duma bukan satu-satunya titik buta di peta Suriah. Durm menunjuk ke Idlib, sebuah provinsi di Suriah utara, tempat pasukan jihad berkumpul. Koresponden perang senior ini yakin bahwa pertempuran terakhir Suriah akan terjadi di Idlib, mungkin dalam beberapa bulan mendatang. Tapi: "Tidak mungkin bagi wartawan asing untuk pergi ke Idlib dan melaporkan situasi mengerikan di sana."

Hal ini menjadi pilihan bagi orang seperti Husam untuk masuk dan melaporkan dari medan perang. Dia tahu dia mengambil risiko yang tinggi untuk pekerjaannya, tetapi dia tetap melakukannya. Mengapa? Ia langsung menjawab: "Tujuan pekerjaan saya adalah untuk menyampaikan suara revolusi Suriah dan penderitaan rakyat Suriah dan menyampaikannya kepada masyarakat Barat."

Tapi bukan hanya di Suriah, di mana peliputan bisa menjadi berbahaya atau bahkan tidak mungkin bagi koresponden asing. Libya, Yaman, dan sebagian wilayah Irak juga telah berubah menjadi titik buta. Durm khawatir, karena akses ke zona perang dan konflik semakin terbatas, maka konsekuensinya sangat besar. Berita-berita terpisah, yang kadang berasal dari sumber yang meragukan, menggantikan laporan yang disaksikan oleh koresponden berpengalaman dan ditulis dengan baik. Berita-berita dari sumber meragukan ini jauh dari realitas perang.

"Kenyataannya, perang terjadi dalam waktu nyata: Orang-orang mati dan menderita dan pada dasarnya Anda harus mengisi laporan Anda dengan apa yang Anda temukan di lapangan, apa yang Anda lihat, dengar dan cium," katanya.

Durm yakin itulah alasan mengapa konflik Suriah sering hanya disambut dengan ketidakpedulian dan sebagai "sesuatu yang tidak nyaman" di Barat. Banyak orang, menurutnya, yang ingin melupakan perang sepenuhnya.

"Itu mungkin dimotivasi oleh hasrat tersembunyi bahwa perang akhirnya ditentukan untuk kepentingan Assad. Bukan karena dia sangat populer, tetapi karena orang ingin semuanya cepat selesai."

Suara Durm terdengar sedikit pasrah.

na/vlz (dw)

Laporan Pilihan