1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Kim Serukan Perubahan Radikal Ekonomi Korea Utara

1 Januari 2013

Pemimpin Korea Utara Kim Jong-Un, hari Selasa (1/1) dalam sebuah pidato tahun baru yang langka, menyerukan sebuah “pembalikan radikal” untuk memperbaiki ekonomi negara miskin tersebut.

https://p.dw.com/p/17Btz
Foto: dapd

Pidato Kim yang disiarkan oleh stasiun TV milik negara adalah jenis pidato pertama sejak 19 tahun, sejak kematian kakeknya yang juga merupakan pendiri Korea Utara Kim Il-Sung.

Ayam Kim yang merupakan penguasa Korea Utara sebelumnya yakni Kim Jong-Il tidak pernah menyampaikan pidato besar kepada rakyatnya.

Pembalikan Radikal Ekonomi

Tahun 2013 akan menjadi salah satu “kreasi besar dan kesempatan dimana sebuah pembalikan radikal akan dilaksanakan”, kata Kim, sambil menambahkan bahwa “membangun menjadi sebuah raksasa ekonomi adalah sebuah tugas penting” yang dihadapi negeri.

Sambil memuji keberhasilan para ilmuwan ruang angkasa negara itu dalam peluncuran sebuah roket jarak jauh bulan lalu, Kim mengatakan bahwa upaya nasional serupa kini dibutuhkan dalam bidang ekonomi.

“Seluruh partai, seluruh negeri dan semua rakyat harus berjuang habis-habisan tahun ini untuk melakukan sebuah perubahan dalam membangun sebuah raksasa ekonomi dan meningkatkan standar kehidupan rakyat,” kata Kim.

Rakyat Kurang Gizi Karena Ambisi Militer

Tapi Kim tidak memberikan detail tentang bagaimana hal ini bisa dicapai. Korea Utara adalah sebuah negara yang terisolasi, di bawah banyak sanksi ekonomi dan tergantung pada sekutu besar satu-satunya yakni Cina, dalam 70 persen perdagangan luar negerinya.

Saat Kim Jong-Il wafat Desember 2011, dia meninggalkan sebuah negara dalam keadaan ekonomi sulit, sebagai hasil kebijakan “militer sebagai yang utama”: dengan membangun proyek rudal dan nuklir ambisius, dan mengorbankan rakyatnya yang kelaparan.

Meski ada kenaikan dalam produksi makanan pokok, namun kehidupan sehari-hari jutaan orang Korea Utara masih berjuang dengan masalah kekurangan gizi, demikian menurut laporan Program Pangan Dunia PBB baru-baru ini.

Sinyal Persahabatan untuk Korsel

Dalam pidatonya, Kim memberi sinyal persahabatan dengan Korea Selatan yang baru saja memilih Presiden perempuan pertama dalam sejarah negeri itu Park Geun-Hye, yang sebelumnya juga telah memberi sinyal ingin lebih terlibat dengan Pyongyang.

Kim mendesak pentingya untuk menurunkan ketegangan antara dua Korea yang secara teknis kini masih berperang.

“Sebuah isu penting untuk mengakhiri pemisahan kedua negara dan mencapai reunifikasi adalah dengan menghapus konfrontasi antara Utara dengan Selatan,” kata Kim.

“Catatan masa lalu hubungan antara dua Korea menunjukkan bahwa konfrontasi antara orang-orang sebangsa hanya akan membawa ke arah peperangan,” tambah dia.

Presiden terpilih Korea Selatan Park telah mengambil jarak dengan pendahulunya Presiden Lee Myung-Bak yang dikenal bersikap keras terhadap Pyongyang.

Namun dalam pernyataan pertama menyusul terpilihnya dia sebagai presiden, Park dengan jelas memperlihatkan bahwa dia masih melihat Pyongyang sebagai sebuah ancaman serius dan akan menempatkan keamanan nasional sebagai prioritas.

Yu Woo-Ik, Menteri Unifikasi Korsel mengatakan bahwa Utara tidak harus menguji kesabaran komnunitas internasional dengan rudal dan program nuklir.


Militer Masih Penting

Dalam pidatonya, Kim menjelaskan bahwa pembangunan ekonomi tidak berarti akan menggeser sepenuhnya kebijakan ayahnya terkait “militer sebagai yang utama”.

“Kekuatan militer suatu negara merupakan kekuatan nasional. Hanya dengan membangun kekuatan militer dengan berbagai cara, maka sebuah negara akan berkembang,“ kata dia.

Dewan Keamanan PBB masih mempertimbangkan apakah akan menjatuhkan sanksi bagi Pyongyang atas peluncuran roket, yang dilihat dunia sebagai sebuah uji coba rudal balistik terselubung.

Dalam pidatonya, Kim memuji peluncuran itu sebagai sebuah pencapaian nasional bersejarah dan menekankan pentingya untuk melakukan pengembangan “peralatan militer yang lebih canggih“.

Uji Coba Nuklir?

Tapi Kim tidak menyinggung soal program nuklir Korea Utara, meski berkembang spekulasi bahwa Pyongyang kini sedang mempersiapkan sebuah uji coba senjata nuklir, menyusul keberhasilan uji coba peluncuran roket.

Yang Moo-Jin, seorang profesor di Universitas Seoul untuk Studi Korea Utara mengatakan bahwa secara umum nada Kim bersifat positif.

“Itu bisa jadi adalah sinyal reformasi ekonomi terbatas tahun ini dan juga mengirimkan pesan kepada Presiden Korea Selatan tentang keinginan untuk meningkatkan hubungan lintas perbatasan kedua negara,“ kata Yang.

AFP (ab/ hp)