Kim Dae-Jung Optimis Korea akan Bersatu | dunia | DW | 16.05.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Kim Dae-Jung Optimis Korea akan Bersatu

Sepuluh tahun lalu Kim Dae-Jung terpilih sebagai presiden Korea Selatan. Dengan kebijakan politiknya ia berusaha mencairkan kebekuan antara negaranya dengan Korea Utara.

Mantan Presiden Korsel Kim Dae-Jung

Mantan Presiden Korsel Kim Dae-Jung

Kim Dae-Jung merupakan presiden Korea Selatan pertama yang berkunjung ke Korea Utara yang ketika itu dipimpin Kim Jong Il. Saat ini pembicaraan antara kedua Korea kembali terhenti seperti halnya pembicaraan internasional yang diharapkan menghentikan Korea Utara dari pengembangan program atomnya. Dan juga ketika diketahui bahwa perusahaan-perusahaan Korea Selatan mengeluarkan banyak uang agar kedua presiden Korea tersebut dapat saling bertemu, politik Kim Dae Jung oleh banyak pihak dinilai gagal. Para diplomat semakin pesimis Korea Utara benar-benar akan melakukan kerja sama

Kim Dae-Jung: “Di masa depan Korea utara akan sangat berubah. Korea Selatan menyuplai sebagian besar barang ke Korea utara. Pada barang-barang ini tertera: Made in Korea. Dulu yang diketahui Korea Utara tentang Korea Selatan hanya apa yang dipropagandakan. Sekarang mereka melihat bahwa kondisi Korea Selatan jauh lebih baik dan mereka juga ingin hidup sejahtera. “

Mungkin orang harus memiliki keuletan Kim Dae-Jung untuk tetap bersikap optimis. Pada masa diktator militer selama sepuluh tahun ia mendekam di penjara atau dikenai tahanan rumah. Tahun 1973 Kim diculik dinas rahasia Korea Selatan dari sebuah kamar hotel di Tokyo dan berhasil selamat dari rencana pembunuhan hanya dengan bantuan cepat Amerika Serikat. Bahkan tahun 1981 ia divonis hukuman mati

Kim Dae-Jung: “Ketika saya divonis hukuman mati, di Jerman banyak yang aktif memprotes keputusan tersebut. Terutama kanselir Willy Brandt, Presiden Richard von Weizsäcker, Helmut Schmidt dan Hans Dietrich Genscher. Tanpa partisipasi mereka saya sekarang sudah tidak lagi hidup. Saya sangat berterima kasih terhadap Jerman.“

Untuk kesekian kalinya politik perdamaian Kim Dae Jung dibandingkan dengan politik Jerman Timur tahun 70-an. Mantan presiden Korea Selatan yang kini berusia 81 tahun itu tampak duduk di antara 100 tamu yang hadir di kementerian luar negeri di Berlin dengan rasa optimis. Dalam pidatonya Kim tanpa lelah menekankan, bahwa Jerman dan Korea sama-sama menanggung apa yang disebutnya beban perpecahan negara. Contoh berhasilnya reunifikasi Jerman juga akan diikuti Korea secara bertahap.

Iklan