Kilas Balik: Serangan Bom London | Fokus | DW | 07.07.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Kilas Balik: Serangan Bom London

Setahun yang lalu di London, empat teroris melakukan serangan bom bunuh diri di kereta bawah tanah dan sebuah bis kota.

Seorang polisi membaca pesan pada karangan bunga di Tavistock Square, lokasi peledakan bis no 30

Seorang polisi membaca pesan pada karangan bunga di Tavistock Square, lokasi peledakan bis no 30

Ledakan pada 7 Juli 2005 itu mengakibatkan 52 orang tewas dan ratusan orang cedera. Bagi rakyat Inggris, serangan tak terduga itu menimbulkan perasaan galau dan tidak aman. Berkaitan dengan peristiwa itu, biro investigasi Inggris menanyai 13.000 orang, memeriksa 29.500 barang bukti dan mengevaluasi 6.000 jam rekaman video dari kamera-kamera pengawasan yang terdapat di kota London.

Hasil penyelidikan biro investigasi Inggris menunjukan, bahwa pelaku aksi teror itu adalah empat lelaki beragama Islam. Mereka bergerak sendiri, mendanai aksi yang membutuhkan biaya 12.000 Euro itu sendiri dan merakit bom berukuran 2,5 kg itu sendiri. Mereka memilih jalur rute kereta api dan bis yang sampai sekarang masih dikategorikan sebagai jalur yang rawan.

Pagi hari 7 Juli 2005, London sesak dengan orang-orang yang berangkat ke tempat kerja. Surat kabar memberitakan tentang dana tambahan yang diterima kota London untuk Olympiade 2012 mendatang. Suasana gembira itu perlahan sirna, ketika media menyiarkan laporan awal tentang insiden di kereta bawah tanah. Awalnya orang mengira terjadi korslet di jaringan listrik kereta bawah tanah terpicu tegangan yang terlalu tinggi. Namun laporan berubah, dan mengatakan adanya ledakan.

Suasana tegang melanda kota London. Ambulans dan mobil pemadam kebakaran berlari kencang melintasi kota. Dengungnya memenuhi udara. Polisipun memblokir stasiun kereta api dan jalan-jalan. Beberapa menit sebelum pukul sepuluh, pekikan darurat kembali berkumandang. Sebuah bis meledak di tengah kota.

Reporter: „Ada enam ledakan, satu di dalam biskota, yang lainnya di dekat sejumlah stasiun bawah tanah. Banyak yang luka, tapi situasi masih terkendali. Saat ini semua bis dan kereta bawah tanah dihentikan. Yang paling aman, setiap orang tidak beranjak dari lokasi mereka masing-masing.“

Awalnya Kepala Kepolisian London, Ian Blair, juga tidak memiliki gambaran pasti mengenai peristiwa yang berlangsung. Beberapa waktu kemudian diketahui bahwa tiga bom meledak di kereta bawah tanah dansatu bom meledak dalam bis bertingkat. Bom yang berada dibawah tanah meledak 50 detik setelah didetonasi.

Gill Hicks seorang warga Australia berada di kereta bawah tahun jalur Picadilly, yang ditumpangi Germaine Lindsey, salah seorang pelaku bom bunuh diri yang menewaskan 26 orang.

Gill Hicks: „Kedua kaki saya hampir putus, tapi masih bergantung pada bagian kaki lainnya yang tinggal tulangnya saja. Saya gunakan selendang untuk mengangkat dan mengikat kedua kaki itu dan berhasil menaruhnya di atas senderan tangan di kursi, kemudian saya menunggu“.

Setengah jam kemudian bantuan darurat datang. Ratusan orang, doktor, perawat, pemadam kebakaran turun tangan berusaha membantu para korban. Satu hari setelah kejadian Ratu Inggris, Elisabeth II, mengunjungi rumah sakit di mana korban dirawat. Ia menyampaikan terima kasihnya kepada korban selamat dan masyarakat yang bersikeras menunjukkan akan melanjutkan kehidupan secara normal.

Seluruh Inggris menunjukkan bahwa aksi teror itu selanjutnya gagal membuat mereka panik. Hal itu juga dibuktikan oleh Gill Hicks, yang akhir Desember lalu dengan bantuan kaki palsu berjalan menuju altar pernikahan.