Kiat Mendidik Anak Supaya Cerdas Seperti Einstein | KOLOM: Bersama berdialog untuk mencapai pemahaman | DW | 14.03.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Kolom

Kiat Mendidik Anak Supaya Cerdas Seperti Einstein

Di Indonesia banyak orang tua yang ingin memiliki anak jenius. Ukuran yang diidamkan bahkan seperti Albert Einstein, penemu teori relativitas. Para orangtua percaya ada kiat-kiat khusus yang dapat membuat anak cerdas?

Albert Einstein tahun 1951

Albert Einstein

Pernahkah Anda mendapat pesan terusan dari seseorang di WhatsApp Anda tentang kebiasaan ibu Yahudi yang sedang hamil, agar anak-anak mereka cerdas?

Saya menerima pesan itu beberapa kali, tapi hingga saat ini saya tidak bisa menemukan sumber atau penulis info tersebut yang tertulis bernama Dr. Stephen Carr Leon.

Meski penulis informasi tampaknya tidak eksis, namun tulisan tersebut dimuat di sejumlah media daring Indonesia. Misalnya, sebuah media daring di Makassar, Sulawesi Selatan memberi judul, "Mengapa Orang Yahudi Pintar, Ini Rahasia yang Tak Banyak Diketahui” atau sebuah media daring yang menyasar anak muda memberi judul, "9 Kebiasaan Unik Perempuan Yahudi Saat Hamil Agar Anak Cerdas”.

Selain info dari Dr. Stephen Carr Leon itu, saya juga mendapat pertanyaan langsung dari sejumlah ibu tentang rahasia supaya punya anak cerdas ala Yahudi karena saya menulis beberapa info tentang pengasuhan anak di Facebook saya dan beberapa kali diundang untuk seminar pengasuhan anak.

Banyak orangtua di Indonesia rupanya berpatokan pada Albert Einstein, penemu teori relativitas yang dikenal sebagai manusia jenius dan ilmuwan terbesar di dunia. Karena Albert Einstein kebetulan seorang berdarah Yahudi-Jerman maka banyak orangtua penasaran dengan pola pengasuhan dan pendidikan agar anak-anak bisa menjadi secerdas Albert Einstein atau minimal kreatif seperti pendiri Facebook Mark Zuckenberg.

Kecenderungan atau minat memiliki anak cerdas seperti orang Yahudi bukan hanya melanda Indonesia tetapi juga di Cina, Korea Selatan dan Jepang.

Sejumlah buku pengasuhan anak ala Yahudi terbit dalam bahasa lokal dan menimbulkan kegairahan dalam mengundang pembicara-pembicara Yahudi untuk datang ke negara-negara Asia ini dan memberikan seminar.

Kekaguman pada kecerdasan Yahudi itu sampai diwujudkan dengan membuka Universitas Technion, yang asalnya dari Israel, di Guandong, Cina. Cina memang menjadi negara yang paling masif dalam mengembangkan kerjasama riset dan penelitian dengan Israel.

Tak bisa dipungkiri secara statistik ditemukan data, orang Yahudi hanya berjumlah 15 juta orang dari total populasi dunia yang mencapai tujuh miliar orang tetapi yang mendapat hadiah Nobel, penghargaan untuk ilmu pengetahuan, sastra dan perdamaian mencapai 206 orang. Negara terbanyak penerima Nobel adalah Amerika Serikat yakni 368 orang, tetapi 120 orang adalah Yahudi dan sekitar 20 orang setengah Yahudi.

Sebuah buku diterbitkan oleh Derek Taylor berjudul "Jewish Nobel Prize Winners” awal tahun 2019 menyebutkan dari 206 penerima Nobel berdarah Yahudi itu terdapat satu kesamaan yang dimiliki yaitu umumnya beragama Yahudi Ortodoks.

Apakah ada hubungan antara ritual keagamaan dengan tingkat kecerdasan? Pemikiran ini muncul sebab indikasinya meski orang Yahudi terserak (diaspora) di sejumlah negara, dari hasil penelitian ditemukan data jumlah orang terdidik di sejumlah negara umumnya berasal dari kalangan Yahudi.

Sebagai contoh di Amerika, 30% elit kampus di Amerika adalah orang Yahudi dan kaum profesional di Hungaria (bankir, pengacara, dokter, pemilik pabrik) adalah orang Yahudi meski secara jumlah orang Yahudi sangat sedikit. Artinya ada satu kesamaan yang membuat orang Yahudi di mana pun berada akan memiliki standar kecerdasan yang tinggi, tanpa bergantung pada mutu pendidikan di negara tempat mereka berdomisili.

Berdasarkan ras IQ atau tingkat kecerdasan intelektual orang Yahudi Askenazi atau Yahudi Eropa tercatat paling tinggi yakni mencapai 115.

Namun jangan anggap hal ini istimewa sebab orang Tionghoa, Korea dan Jepang mencapai IQ 106. Sementara orang Eropa rata-rata mendapat poin 100 dan orang Indonesia 87. Jika melihat dari data tingkat IQ rata-rata pada sebuah negara yang bersumber dari penelitian Lynn Richard dan Tatu Vanhanen yang dipublikasikan dalam "Intelligence: A Unifying Construct For The Social Sciences” ditemukan negara dengan penduduk IQ tertinggi rata-rata tertinggi adalah Singapura dengan nilai 107, tempat kedua adalah Cina dan Hong Kong dengan nilai rata-rata IQ 105 dan tempat ketiga dengan nilai rata-rata IQ 104 adalah Korea Selatan, Taiwan dan Jepang. Finlandia yang memiliki pola pendidikan baik memiliki IQ penduduk rata-rata 100.

Jika orang Yahudi Ashkenazi atau Yahudi Eropa menjadi ras yang dianggap dengan IQ tertinggi, Israel yang berpenduduk mayoritas orang Yahudi malah memiliki penduduk dengan IQ rata-rata 97 atau hanya menempati urutan ke 41. Sedangkan penduduk Indonesia memiliki IQ rata-rata 87, sama dengan poin rata-rata IQ menurut ras.

@monique_rijkers adalah wartawan independen, IVLP Alumni, pendiri Hadassah of Indonesia, inisiator Tolerance Film Festival dan inisiator #IAMBRAVEINDONESIA.

Penulis: Monique Rijkers

Dengan demikian kecerdasan Yahudi secara ras tidak otomatis menempatkan Israel sebagai negara dengan penduduk dengan IQ tinggi di dunia walau Israel termasuk salah satu negara dengan inovasi dan teknologi terdepan di dunia khususnya dalam bidang pertanian, medis, telekomunikasi dan militer.

Jika merujuk pada tulisan Dr. Stephen Carr Leon tentang cara memiliki anak cerdas seperti Yahudi yang dibagikan berulang-ulang oleh banyak orang itu, bisa jadi belum tentu valid.

Menurut info yang mengatasnamakan Dr. Stephen Carr Leon, ibu Yahudi kala hamil akan mengerjakan soal-soal matematika agar otak jabang bayi menjadi jenius.

Selama perjalanan saya ke Israel beberapa kali, saya sering melihat orang-orang Yahudi mengerjakan teka-teki silang atau mengisi sudoku, namun belum pernah melihat langsung ibu hamil yang mengerjakan soal matematika.

Hal lain yang dilakukan oleh ibu hamil menurut Dr. Stephen Carr Leon adalah menghindari merokok, meminum minyak ikan, memakan buah-buahan lebih dulu daripada menu utama dan setelah anak lahir anak diajarkan musik yakni bermain piano dan biola serta olahraga. Sepertinya tidak ada kiat spesifik yang membedakan dengan cara para ibu hamil non-Yahudi dalam merawat perkembangan janin dan bayi setelah lahir. Lantas apa yang menyebabkan anak-anak Yahudi lebih unggul sehingga mendapat Nobel lebih banyak dan menjadi penemu-penemu yang terkenal di dunia? 

Saya menyimpulkan kecerdasan orang Yahudi bukan hanya karena pemberian dari ‘sononya' tetapi karena pengaruh tradisi dan budaya Yahudi itu sendiri. Tradisi Yahudi sangat kuat dalam ritual, ritual yang erat kaitannya dengan berbagai macam doa harian yang harus dibaca, diulang-ulang dan diingat.

Membaca buku-buku Yahudi adalah rutinitas sejak usia dini hingga dewasa bahkan menjadi kewajiban bagi seorang ayah mengajarkan Kitab Suci, Hukum-hukum Yahudi dan berbagai tradisi lisan kepada anak-anaknya. Seorang Yahudi wajib membaca selembar halaman Talmud setiap hari dan Talmud itu akan selesai dalam waktu tujuh tahun.

Kebiasaan mempunyai bacaan harian, mingguan, bulanan dan tahunan ini secara tidak langsung melatih otak anak. Dalam buku-buku tulisan para rabbi (pemimpin agama Yahudi) yang terdapat dalam Talmud Babilonia misalnya, ditekankan pentingnya belajar, "Orang yang mempelajari pelajarannya 100 kali tidak sama dengan orang yang mempelajarinya 101 kali.” Sedangkan dari Talmud Yerusalem tertulis, "Jika Anda meninggalkan belajar selama satu hari, Anda akan ketinggalan dua hari.” Setiap anak Yahudi dididik untuk menggunakan otak mereka setiap hari dengan membaca.

Selain menerapkan keharusan dan merangsang kehausan untuk belajar, tradisi Yahudi juga mengembangkan kebiasaan bertanya. Pada setiap Paskah, setahun sekali seorang anak paling kecil dalam keluarga akan diharuskan bertanya, "Mengapa diadakan makan malam Paskah?”

Membiasakan bertanya ini diteruskan dalam keseharian bukan hanya terbatas saat Paskah saja. Selain melatih keberanian bertanya, anak-anak dibiasakan untuk bertanya-jawab dengan rekan sebaya di sekolah. Tanya jawab berpasangan secara berhadap-hadapan ini disebut havruta.

Dalam havruta dilatih berkomunikasi, beradu argumentasi dan menyampaikan pendapat. Pertanyaan yang diajukan tidak seadanya atau apa adanya, karena "seorang anak/siswa yang baik adalah orang yang mengajukan pertanyaan bagus dan membuat orangtua/gurunya lebih bijaksana.”

Tradisi Yahudi ini sejalan dengan kiat membuka kejeniusan anak yang diulas oleh Andrew Fuller dalam bukunya, "Unlocking Your Child's Genius” yakni menetapkan rutinitas (orang Yahudi mempunyai bahan bacaan harian, mingguan, bulanan), mengembangkan rasa ingin tahu (membiasakan anak mengajukan pertanyaan), mencari sebab-akibat atau keterkaitan dan toleran pada kesalahan anak (tanya-jawab berpasangan atau havruta).

Tentu saja setiap orangtua bisa menentukan metode pendidikan dan pola pengasuhan yang paling cocok untuk anak mereka dan paling sesuai dengan kebiasaan orangtua karena bagaimana pun juga orangtua menjadi aktor utama dan faktor yang terutama dalam mendidik anak agar cerdas. Dari kisah sukses pengasuhan anak Yahudi yang menjadi peraih Nobel terbanyak, siapa tahu kelak anak Anda-lah yang berhasil mendapat Nobel pertama untuk Indonesia.

@monique_rijkers adalah wartawan independen, IVLP Alumni, pendiri Hadassah of Indonesia, inisiator Tolerance Film Festival dan inisiator #IAMBRAVEINDONESIA.

*Setiap tulisan yang dimuat dalam #DWNesia menjadi tanggung jawab penulis

*Bagi komentar Anda dalam kolom di bawah ini.