1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Kian Terdesak, Militer Afganistan Berniat Serang Taliban

5 Juli 2021

Situasi di utara Afganistan memanas menyusul serangan Taliban yang mendorong ribuan serdadu melakukan desersi. Kini Kabul merencanakan serangan balasan terhadap distrik-distrik yang direbut pemberontak.

https://p.dw.com/p/3w2jk
Serdadu Afghanistan berjaga-jaga di pangkalan milter Shorab di Lashkar Gah, Afghanistan
Serdadu Afghanistan berjaga-jaga di pangkalan milter Shorab di Lashkar Gah, AfghanistanFoto: Wakil Kohsar/AFP/Getty Images

Lebih dari 1.000 serdadu Afganistan melarikan diri ke Tajikistan pada Senin (05/07) dini hari menyusul serangan Taliban. Hal ini dipastikan Komite Keamanan Nasional di Dushanbe seperti dilansir kantor berita AFP.

Sejak beberapa hari pekan terakhir, Taliban menggiatkan serangan terhadap wilayah minoritas di utara Afganistan. Bulan lalu, kelompok Islamis itu berhasil merebut pintu perbatasan utama ke Tajikistan yang menjadi koridor dagang antara kedua negara. 

Menurut pemerintah Tajikistan, sebanyak 1,037 tentara itu menyebrang ke wilayahnya "untuk menyelamatkan nyawa mereka sendiri,” usai serangan Taliban pada Minggu (04/07) malam.

"Sebagai tetangga yang baik dan netral dalam urusan dalam negeri Afganistan, kami mengizinkan personel militer Afganistan untuk memasuki wilayah Tajikistan,” tulis komite keamanan dalam keterangan persnya, seperti dilansir kantor berita Khovar.

Komite yang mengawasi situasi keamanan luar negeri itu mencatat bahwa Taliban telah mengambilalih "kekuasaan penuh” di enam distrik yang berbatasan dengan Tajikistan. Sejak Mei silam, Talban menggiatkan operasi di kawasan utara, dan sejauh ini sudah merebut 12 distrik dari pemerintah.

Perang bereskalasi di Afganistan di tengah perundingan damai antara pemerintah dan Taliban. Jelang penarikan mundur pasukan NATO dan negosiasi soal pembagian kekuasaan, kelompok Islam garis keras itu dituduh memperluas wilayah kekuasaan demi memperkuat daya tawar.

Pertumpahan darah di Afghanistan kembali marak selama perundingan damai antara pemerintah dan Taliban
Pertumpahan darah di Afghanistan kembali marak selama perundingan damai antara pemerintah dan Taliban

Bagaimana militer Afganistan serang balik Taliban?

Ekspansi Taliban membuat pemerintah di Kabul kian terdesak. Usai mendapat janji kucuran dana bantuan dari AS dalam pertemuannya dengan Presiden Joe Biden akhir Juli silam, Presiden Ashraf Ghani kini merencanakan serangan balasan terhadap pemberontak.

Operasi militer di wilayah utara itu dihembuskan seorang penasehat presiden kepada kantor berita Rusia, RIA. Hamdullah Mohib yang mengurusi keamanan nasional, bertandang ke Moskow, Senin (05/07) untuk bertemu pejabat tinggi Rusia.

Dalam wawancara dengan RIA, dia mengakui pihaknya tidak memprediksi derasnya serangan Taliban, tetapi memastikan militer "tentunya, dan sudah pasti,” akan melancarkan serangan balasan. 

Rusia yang mengoperasikan pangkalan militer di Tajikistan mengatakan pihaknya harus menutup kantor konsulat di Mazar-I-Sharif lantaran masalah keamanan. Ibu kota Provinsi Balkh itu kian terancam menyusul penarikan mundur pasukan Jerman pertengahan Juni silam

Saat ini kondisi militer Afganistan diwartakan kian melemah. Dalam serangannya, Taliban turut menyita ratusan kendaraan lapis baja yang dihibahkan AS, dan kini digunakan untuk menyerang pasukan pemerintah.

Serangan Taliban sedemikian ampuh, tentara di sejumlah distrik memilih menyerah dan meninggalkan posnya tanpa melawan. "Pasukan Afganistan sudah kehilangan moral,” kata Atta Noori, analis keamanan di Kabul.

"Para serdadu ini kebingungan,” imbuhnya. "Di hampir semua distrik, Taliban hanya menyuruh para tetua adat untuk berbicara dengan para serdadu dan meminta mereka menyerahkan diri.”

"Situasinya sudah gawat bagi pemerintah Afganistan. Mereka secepatnya harus menggiatkan serangan balasan.”

rzn/hp (afp,dpa,rtr)