1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Kesehatan

Ketika Kemampuan Bahasa Terganggu Akibat Stroke

Elisa Miebach
3 September 2019

Meskipun jarang terjadi, tetapi setelah terkena stroke, Anda bisa saja alami gangguan dalam berbahasa. Mungkin Anda akan berbicara dalam aksen asing, atau bahkan dalam bahasa asing.

https://p.dw.com/p/3OlRZ
Anatomie des Gehirns
Foto: picture-alliance/BSIPF. D. Cunha

Setelah terkena stroke, Liu Jiayu yang seumur hidupnya tinggal di Cina tiba-tiba hanya bisa berbicara dalam bahasa Inggris. Saat ditanya dalam bahasa Cina, "Berapa umur Anda?" Ia menjawab, "Ninety-four", dalam bahasa Inggris. Ia memang sudah lama mengajar bahasa Inggris.

Hal serupa terjadi pada seorang bapak-bapak Inggris hanya bisa berbahasa Welsh, meskipun ia tidak pernah tinggal di Wales selama 70 tahun terakhir. Lalu ada seorang perempuan asal Jerman Timur yang tiba-tiba hanya bisa berbahasa Jerman-Swiss, walau belum pernah ke Swiss. 

Masih banyak juga kasus-kasus lainnya, dimana orang-orang tiba-tiba berbicara dalam aksen asing atau bahkan bahasa asing setelah terkena stroke.

Bagaimana bahasa kita bisa berubah setelah stroke

"Kasus seperti ini jarang," tutur Profesor Anja Lowit, penyandang gelar doktor filsafat bidang terapi wicara. "Tapi ada penjelasan untuk kasus-kasus tersebut," ujarnya. 30 tahun lalu Lowit beremigrasi dari Jerman ke Inggris untuk melakukan riset linguistik dan terapi wicara. Ia juga menggeluti tema seputar perubahan dalam berbahasa bagi orang yang telah terkena stroke.

Kasus-kasus yang telah dibahas ini bisa dibagi ke dalam dua kategori. Ada sebuah gangguan stroke bilingual dengan afasia. Lalu ada sindrom aksen asing (foreign accent syndrome) bagi orang-orang yang berbicara dalam aksen asing.

Umumnya stroke terjadi saat aliran darah ke otak berkurang. Tetapi perubahan dalam berbicara tidak hanya terjadi pasca stroke. Contohnya, ada seorang pelajar asal Amerika yang berbicara dalam bahasa Spanyol setelah mengalami luka pada permainan sepak bola dan jatuh koma.

Lowit juga memberi contoh seorang perempuan Inggris yang memiliki aksen Prancis setelah mengalami migren. Ada juga seorang pasien yang samar-samar memiliki aksen asing setelah jatuh sakit selama seminggu karena vaksinasi.

Tiba-tiba punya aksen asing

Sindrom aksen asing adalah campuran dari beberapa gangguan bicara dan berbahasa dan bisa berbeda bagi setiap penderitanya. Perempuan Inggris yang memiliki aksen Prancis itu sebenarnya tidak benar-benar punya aksen asing. Pengucapannya yang berubah karena stroke, terdengar seperti aksen Prancis di telinga orang Inggris.

Penderita sindrom ini tidak bisa melafalkan beberapa bunyi atau mereka harus mencari-cari kata atau cara pelafalan yang benar. Tetapi dikaitkannya hal itu dengan aksen asing sebenarnya tergantung oleh orang-orang di sekitarnya. Setiap orang mendengar hal yang berbeda. 

Bahasa asing sebagai ganti bahasa ibu

Tapi bagaimana jika kita tiba-tiba berbicara dalam bahasa asing dan bukan hanya aksen asing? Dalam kasus afasia, bahasa tersebut sudah dipelajari sebelumnya, papar Lowit.

Kebanyakan orang masih bisa berbicara bahasa yang ada, tapi pengaruhnya bisa berbeda-beda. Dalam beberapa kasus, pasien stroke hanya bisa berbicara dalam bahasa ibu, tapi tidak dalam bahasa asing yang pernah mereka pelajari. Beberapa orang hanya bisa berbicara bahasa asing tapi tidak bahasa ibu, biasanya hal ini sementara.

Ada kasus yang sangat jarang, dimana pasien hanya bisa berbicara satu bahasa dalam satu hari dan bahasa lain pada hari lainnya. Tapi meskipun kita tidak lagi bisa berbicara suatu bahasa, ini tidak berarti kita tidak bisa mengerti bahasa itu.

Kata Lowit, memang ada bagian otak kita yang mengatur kemampuan kita berbahasa.

Berganti bahasa selang satu hari

Ilmuwan sudah lama berusaha untuk menjelaskan pola gangguan yang berbeda-beda ini. Secara sederhana, setelah stroke otak kita tidak memiliki energi yang cukup untuk membangun koneksi yang sudah ada pada saat bersamaan dan dengan kecepatan yang sama seperti semula. Tergantung impuls yang otak kita dapatkan, bisa saja lebih mudah untuk berbicara dalam satu bahasa, jelas Lowit.

Jika seseorang yang bilingual menderita afasia setelah terkena stroke, ada kemungkinan bahwa otak akan cenderung membangun koneksi dengan bahasa ibu, karena bahasa itu sudah dipelajari lebih dahulu.

Tapi ada teori lain yang menyatakan bahwa ada kemungkinan akan lebih mudah untuk menggunakan bahasa kedua, jika sudah biasa digunakan dalam jangka waktu panjang.

Jadi satu hari otak kita bisa terstimulasi untuk gunakan bahasa ibu, dan di hari lain bahasa kedua. 

Apakah keadaannya akan membaik?

Dalam kebanyakan kasus afasia bilingual, kedua bahasa bisa digunakkan kembali. Setelah stroke, ada bagian otak yang rusak, namun tegantung usia, otak kita masih bisa menggunakan bagian lain untuk mengambil alih fungsi otak yang rusak ini. Menurut Lowit, hal ini bisa berjalan lancar jika didukung dengan terapi.

Khususnya untuk sindrom aksen asing, penting bagi penderita untuk berkonsultasi dengan beberapa spesialis. Terapi psikologi juga bisa menjadi sangat penting, karena penderita sindrom ini juga bisa mengalami krisis identitas.

Terapi terbaik masih dalam penelitian, tetapi sulit untuk melakukan riset karena kasus-kasus ini tergolong langka.

Tidak hanya karena stroke, gangguan bicara pada usia tua juga bisa muncul dalam beberapa bentuk demensia tertentu yang mengganggu kemampuan otak untuk mencari kata, memperbaiki tata bahasa dan pengucapan. Perbedaannya adalah, setelah stroke hilangnya kemampuan ini sangat drastis pada tahap awal, namun kemampuan ini bisa meningkat lagi.

Kesulitan berbahasa yang disebabkan oleh demensia berarti kemampuan berbahasa seseorang menurun. Tapi Lowit berpendapat bahwa, apapun kasusnya, hal yang paling penting adalah untuk merujuk kepada satu spesialis atau bahkan lebih.

(vv/yp)