1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Ketegangan Meningkat, Cina-AS di Ambang Perang Dingin Baru?

25 Mei 2020

Perseteruan dua kekuatan ekonomi terbesar dunia AS-Cina tentang pandemi telah meningkatkan ketegangan berkepanjangan antar keduanya. Menlu Cina sebut pemerintahan Trump terlalu banyak mengarang kebohongan tentang Cina.

https://p.dw.com/p/3ci4e
Menteri Luar Negeri Cina Wang Yi
Menlu Cina Wang Yi sebut hubungan AS-Cina berisiko memburuk hingga ke titik "Perang Dingin baru"Foto: picture-alliance/Photoshot/C. Yang

Menteri Luar Negeri Cina Wang Yi mengatakan pada Minggu (24/5) bahwa hubungan antara Cina dan Amerika Serikat (AS) berisiko memburuk hingga ke titik "Perang Dingin baru" bisa saja menjadi kenyataan.

Pada konferensi pers tahunannya, ia mengatakan kepada wartawan bahwa pemerintahan Trump telah menodai hubungan dengan Cina, dan disebutnya sebagai sebuah kampanye kotor.

Pertengkaran terkait masalah perdagangan antara AS-Cina yang belum terselesaikan, ditambah dukungan AS untuk Taiwan, sejatinya telah memperlemah kerja sama antara keduanya.

AS mendukung keikutsertaan Taiwan dalam memerangi COVID-19 bersama Badan Kesehatan Dunia (WHO), karena dinilai mampu menangani penyebaran pandemi. Namun, Cina menolak usulan tersebut karena menganggap Taiwan sebagai bagian dari negaranya dan tidak memiliki legitimasi untuk menjadi anggota WHO.

"Telah menjadi perhatian kami bahwa beberapa kekuatan politik di AS menyandera hubungan Cina-AS dan mendorong kedua negara ke ambang Perang Dingin baru," ujar Wang, seperti dilansir dari kantor berita theFrench. Namun Wang tidak merinci "kekuatan" apa yang dia maksud.

Ketegangan yang berkepanjangan antara pemerintahan Presiden AS Donald Trump dan Presiden Cina Xi Jinping dalam beberapa pekan terakhir pun kian memburuk karena pandemi COVID-19. Selain itu, usulan terbaru dari Cina untuk memberlakukan undang-undang keamanan baru di Hong Kong, yang menurut Wang harus diberlakukan "tanpa penundaan sedikit pun” turut semakin memperburuk keadaan.

"Selain dari kerusakan yang disebabkan oleh virus corona, ada juga virus politik yang menyebar di AS," kata Wang.

"Virus politik ini adalah penggunaan setiap kesempatan untuk menyerang dan mengotori Cina. Beberapa politisi sama sekali mengabaikan fakta dasar dan telah mengarang terlalu banyak kebohongan yang menargetkan Cina, dan merencanakan terlalu banyak konspirasi," tambahnya.

Cina 'terbuka' terhadap upaya internasional untuk mengungkap sumber virus

Trump dan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo menuduh Cina kurang transparan atas wabah COVID-19. Mereka berulang kali mengatakan bahwa virus itu bocor dari laboratorium di Wuhan, sebuah tuduhan yang dibantah keras oleh Cina.

Dalam beberapa minggu terakhir, AS dan Australia pun telah menyerukan penyelidikan tentang asal-usul COVID-19.

Selama konferensi, Wang mengkritik upaya politisi AS yang disebut "mengarang rumor" tentang asal COVID-19 untuk memberi stigma negatif terhadap Cina.

Meski begitu, sebagian besar anggota komunitas ilmiah percaya bahwa virus itu berpindah dari hewan ke manusia. Diyakini berasal dari pasar Wuhan yang menjual berbagai hewan eksotis yang biasanya tidak akan bersentuhan satu sama lain.

WHO telah meminta Cina untuk melibatkan mereka dalam penyelidikan sumber virus.

"Cina terbuka untuk bekerja dengan komunitas ilmiah internasional untuk menyelidiki sumber virus," kata Wang. "Keadilan berarti proses penyelidikan bebas dari campur tangan politik, menghormati kedaulatan semua negara, dan menentang praduga bersalah."

pkp/gtp (AFP, Reuters, dpa)