Kerusuhan di Bumi Lorosae Berlanjut | dunia | DW | 29.05.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Kerusuhan di Bumi Lorosae Berlanjut

Situasi di Timor Leste makin mencekam. Hari Minggu (28/5), puluhan ribu orang mengungsi dari Dili untuk menyelamatkan diri dari gerombolan yang menjarah dan membakari rumah-rumah di ibu kota Timor Leste.

Pasukan Australia di Dili

Pasukan Australia di Dili

Cekaman ketakutan menjalar ke seluruh negeri. Situasi ini mengingatkan warga Timor Timur pada kerusuhan yang berkecamuk tahun 1999 lalu. Tahun 1999 lalu, Timor Leste, yang saat itu masih berstatus provinsi ke-27 Indonesia, mengalami gelombang aksi kekerasan.

Pembunuhan, pelanggaran berat hak asasi manusia dan penghancuran infrastruktur marak menyusul referendum yang dimenangkan kelompok pro kemerdekaan. Pelaku kekerasan ini adalah para anggota milisi integrasi yang tak puas. Situasi Timor Timur baru perlahan pulih setelah pasukan mulit-nasional (INTERFET) menjejakkan kakinya di Bumi Lorosae pada tanggal 20 September 1999.

Trauma kerusuhan ini masih menghantui negara kecil berpenduduk satu juta jiwa itu. Kini, tujuh tahun setelahnya, sejarah bagai berulang di Timor Leste.Gelombang kekerasan berkecemaku di mana-mana. Puluhan tewas, ratusan rumah dibakar, puluhan ribui orang jadi pengungsi.

Bentrokan Antar Faksi Tentara

Permasalahan bermula awal tahun 2006. Sekitar 600 dari seluruhnya 1.400 tentara Timor Leste melakukan unjuk rasa. Mereka selama ini merasa diperlakukan diskriminatif, dan menuntut perbaikan kesejahteraan. Panglima militer Timor, Taur Matan Ruak menanggapi aksi protes tersebut dengan keras. Ia memecat semua pengunjuk rasa. Presiden Xanana Gusmao sebetulnya keberatan dengan pemecatan itu, tapi panglima Taur Matan Ruak jalan terus.

Para tentara yang dipecat tidak terima. Lalu mereka menggelar demonstrasi susulan. Tentara pemerintah Timor, juga tetap bersikap keras. Mereka bahkan menembaki para bekas prajurit yang berunjuk rasa. Akibatnya, sejumlah orang tewas.

Para bekas prajurit yang dipecat kemudian menyingkir ke hutan, membangun perlawanan, dipimpin Mayor Alfredo Reinado. Masalah meluas, jadi konflik etnis antara warga Loro Monu dan Loro Sae. Bentrokan berdarah terus terjadi dari hari ke hari, menewaskan puluhan korban, baik di pihak pemberontak maupun polisi dan tentara yang setia pada pemerintah.

Warga Asing Dipulangkan

Maraknya kekerasan di ibu kota memaksa sejumlah negara dan organisasi asing memanggil pulang warganya. Indonesia, Amerika, Jepang dan Cina mengevakuasi warga mereka dari Timor. Perserikatan Bangsa-Bangsa menarik hampir seluruh stafnya.

Para staf sipil asing di Dili sekarang sudah digantikan oleh pasukan multinasional berkekuatan 2.000 orang lebih. Australia, Selandia Baru, Portugal dan Malaysia mengirimkan aparat keamanan ke Timor Leste untuk membantu mengamankan situasi.

Hari Minggu (28/5), satuan militer Australia yang didukung polisi Malaysia dan Selandia Baru berpatroli di Dili. Namun, ternyata, banyak warga Timor Leste yang kurang percaya pada efektivitas pasukan di bawah pimpinan Australia itu. Karena sepertinya mereka lebih terfokus pada upaya mengamankan instalasi penting seperti gedung pemerintah dan berjaga di perempatan jalan.

Pemerintah Timor Leste yang sudah tidak berdaya, menyerahkan seluruh urusan keamanan kepada pasukan internasional yang dipimpin Australia. Aparat keamanan Timor Leste pun ditarik dari kota Dili. Namun sejauh ini keadaan masih belum terkendali. Kini muncul desas-desus, kerusuhan dua hari terakhir di Dili sudah tidak berkaitan lagi dengan pemberontakan faksi militer.

Perjuangan Negara Termuda Dunia

Sejak merdeka tahun 2002, Timor Timur masih terus berjuang untuk bisa mandiri. Hingga kini Timor masih merupakan salah satu negeri termiskin di dunia. Ekspornya cuma mengandalkan kopi. Sementara hasil penambangan minyak dan gas bumi lepas pantai masih harus dibagi dengan Australia. Kerusuhan ini seperti menjadi puncak dari permasalahan yang mendera Timor.

Hari Minggu (28/5), massa menerobos masuk lumbung padi milik pemerintah. Mereka kehabisan bahan pangan menyusul kerusuhan berhari-hari di ibu kota Dili.

Sebagian penduduk menyalahkan pemerintah yang tidak berhasil menuntaskan sejumlah permasalahan sosial ekonomi. Isu selisih paham antar Perdana Menteri Mari Alkatiri dan Presiden Xanana Gusmao membuat warga Timor Leste makin ragu akan efektivitas kinerja pemerintah saat ini. (gg/zer)

Iklan