Kerusuhan di Budapest Goyang PM Gyurcsany | Fokus | DW | 21.09.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Kerusuhan di Budapest Goyang PM Gyurcsany

Demonstrasi menuntut ditariknya kebijakan pengetatan anggaran belanja Hongaria.

Perdana Menteri Hungaria Ferenc Gyurcsany

Perdana Menteri Hungaria Ferenc Gyurcsany

Ketenangan di pusat kota Budapest baru kembali dapat dirasakan pada pukul 4 pagi hari Rabu (20/09) kemarin. Sebelumnya, terjadi bentrokan berdarah antara ratusan demonstran dan polisi. Mereka melemparkan botol dan batu ke arah kerumunan polisi. Potongan besar dari batu granit yang dicuri dari sebuah hotel, membakar tong sampah dan mobil polisi, sampai membangun barikade dengan kontainer sampah serta bangku-bangku taman. Pihak kepolisian sendiri melaporkan 50 korban luka-luka dan menangkap demonstran dalam jumlah yang sama.

Pihak keamanan Hungaria terbukti telah sangat siap menghadapi para perusuh. Mereka menggunakan gas air mata dan menyemprotkan air dari mobil pemadam kebakaran. Pihak kepolisian tanpa kesulitan dapat menghalau para demonstran dari depan gedung partai sosialis yang saat ini berkuasa di pemerintahan.

Seorang reporter dari sebuah stasiun televisi swasta melaporkan, bahwa para perusuh sama sekali tidak berhubungan dengan sepuluh ribu demosntran yang sehari sebelumnya berdemonmstrasi di lapangan Kosuth, menuntut agar Perdana menteri Ferencz Gyurcsany dan pemerintahannya mundur.

Selama berlangsungnya demonstrasi, sejumlah orang tampak berpidato meneriakkan perlunya dilancarkan reformasi moral di Hungaria. Selain itu mereka mengkritik Presiden Laszlo Solyom yang semalam sebelumnya menekankan, bahwa tidak ada hubungan antara peristiwa terbaru di Hungaria saat ini dengan pemberontakan tahun 1956.

Sebagian besar demonstran menuntut penarikan kebijakan pemerintah Hungaria pada tanggal 1 September yang mendorong pengetatan anggaran belanja. Langkah tersebut dinilai penting untuk mengeluarkan Hungaria dari defisit anggaran keuangan yang parah. Namun pandangan pemerintah Hungaria jauh berbeda dengan pendapat para demonstran. Seperti seorang ibu yang juga mengikuti demonstrasi damai,

Hidup saya menjadi sangat sulit dengan pendapatan saya yang kecil. Sementara di parlemen para politikus meraup jutaan Forint setiap bulannya. Saya harus menghidupi diri sendiri beserta anak saya yang pengangguran dengan hanya 300 Euro. Tidak ada yang tersisa untuk makan jika saya membayar uang sewa rumah, obat-obatan dan listrik. Kami harus memutar setiap Forint.”

Sementara seorang demonstran yang lain menambahkan,

Kami tetap berada di bawah bayang-bayang komunisme. Sistem itu tidak seluruhnya ditinggalkan, seperti zaman dulu di Jerman Timur. Masyarakat merasa kecewa dan pedih karena desa-desa kami dihancurkan. Sepertiga dari penduduk kota ini adalah pengangguran, pensiunan atau pemabuk.”

Perdana Menteri Ferencz Gyurcsany berulang kali menekankan pada hari Selasa (19/09) malam di stasiun milik pemerintahan, bahwa ia sama sekali tidak berpikir untuk mundur. Selain itu Gyurcsany juga berjanji tidak akan meninggalkan program pengetatan anggaran belanjanya. Pihak oposisi sendiri bereaksi dengan menyerukan rapat raksasa di lapangan pahlawan di Budapest hari Sabtu (23/09) mendatang. Seminggu kemudian akan diadakan pemilihan komunal di Hungaria. Pemimpin kelompok oposisi, Viktor Orban, menyatakan akan mengorganisir sebuah referendum yang akan memutuskan masa depan pemerintahan Gyurcsany.