Kerjasama Senjata Indonesia-Rusia | dunia | DW | 02.12.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Kerjasama Senjata Indonesia-Rusia

Dalam kunjungannya ke negara Beruang Merah, Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono menyepakati beberapa kerjasama dengan Rusia.

Penjualan senjata Rusia ke Indonesia menjadi agenda utama dalam perbincangan kedua pemimpin negara, dalam lawatan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono ke Moskow kali ini. Pemerintah Rusia memberikan kredit untuk pembelian alat utama sistem senjata (alutsista), termasuk pesawat tempur sukhoi 27, kapal selam Kelas Kilo dan heli serbu Mi 35.

Pengamat militer yang juga pakar hubungan internasional Makmur Keliat mencatat kerjasama tersebut merupakan respon jangka pendek terhadap berbagai hal. Pertama, untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap peralatan militer Amerika.

Sebelumnya, Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono mengatakan, pembelian persenjataan dari Rusia ini menjadi penting untuk menjaga keseimbangan politik pertahanan Indonesia, disamping memberikan keuntungan teknis dari sisi teknologi.

Pada tahun 1960 an, Indonesia pernah menggunakan alutsista buatan Uni Soviet. Kehadiran alat utama sistem pertahanan Uni Soviet tersebut di masa lalu menyumbang keperkasaan Angkatan Laut dan Udara Indonesia. Makmur Keliat dari Hubungan Internasional Universitas Indonesia menyayangkan, meski kini dijalin kerjasama, tidak tampak adanya upaya alih teknologi dari Rusia untuk indutri militer di Indonesia.

Selain di bidang militer, kerjasama juga dilakukan di bidang ruang angkasa. Lokasi Indonesia yang berada di kawasan katulistiwa merupakan lokasi ideal untuk peluncuran satelit. Biak diusulkan menjadi lokasi peluncuran roket di masa mendatang. Kerjasama lainnya di bidang pengembangan tenaga nuklir di Indonesia dengan bantuan teknologi Rusia, bekerjasama dengan perusahaan listrik Rusia Raoues. Indonesia dan Rusia juga menandatangani perjanjian kerjasama antara perusahaan energi Gazprom dan Lukoil untuk pemanfaatan proyek minyak dan gas bumi di Kalimantan.

Dalam kunjungannya di Negara Beruang Merah itu, Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono menyampaikan ucapan terimakasih atas dukungan Rusia, sehingga Indonesia dapat memperoleh kursi anggota tidak tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa.

  • Tanggal 02.12.2006
  • Penulis Ayu Purwaningsih
  • Cetak Cetak halaman ini
  • Permalink https://p.dw.com/p/CPAe
  • Tanggal 02.12.2006
  • Penulis Ayu Purwaningsih
  • Cetak Cetak halaman ini
  • Permalink https://p.dw.com/p/CPAe
Iklan