Kerja Sama Anti-Teror Inggris – Indonesia | Fokus | DW | 31.03.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Kerja Sama Anti-Teror Inggris – Indonesia

Perdana Menteri Inggris Tony Blair mengajak Indonesia untuk mengimbangi radikalisme ekstrem Islam yang kerap kali melakukan aksi terorisme.

Bom Marriot, Indonesia juga merupakan korban dari terorisme

Bom Marriot, Indonesia juga merupakan korban dari terorisme

Di Ruang Jepara, Istana Merdeka, Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono dan Perdana Menteri Inggris Tony Blair sepakat untuk melangkah lebih maju dalam menanggulangi terorisme. Diantaranya dengan terus meningkatkan saling pengertian antara dunia Islam dan non-Islam. Menurut Blair ini merupakan hal yang sangat penting mengingat Inggris dan Indonesia sama-sama negara korban terorisme.

Baik Indonesia maupun Inggris, selama ini telah menjadi sasaran empuk aksi terorisme. Serangan besar kaum teroris di Indonesia antara lain peristiwa bom Bali yang terjadi sampai dua kali, bom di Kedutaan Besar Australia dan bom Hotel Marriot. Sementara di Inggris, pada Juli tahun lalu, bom bunuh diri di London menewaskan lebih dari 50 orang.

Di lain pihak, Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono mengungkapkan sebuah prakarsa lain untuk menangkal ekstremisme. Yakni suatu media dialog berbentuk Forum Kajian Islam.

Dalam kunjungan kerjanya, Blair menyambangi Pesantren Dannunajah di Kawasan Ulujami, Jakarta Selatan dan juga berdialog dengan para pemuka agama Muslim di Indonesia. Diantaranya Abdullah Gymnastiar, Azyumardi Azra dan Din Syamsuddin. Mereka berdialog untuk membangun toleransi dan upaya saling menghormati antara negara-negara Barat dengan Islam.

Inggris dan Indonesia juga menyepakati upaya-upaya untuk meningkatkan kerja sama di bidang ekonomi. Untuk itu Blair bertemu dengan para menteri ekonomi Indonesia dan Dewan Bisnis Indonesia-Inggris. Blair juga mengadakan pertemuan khusus dengan Badan Rekontruksi dan Rehabilitasi Aceh.