Kericuhan Kembali Merebak di Paris | Fokus | DW | 01.06.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Kericuhan Kembali Merebak di Paris

Bentrokan antara kepolisian dan kaum muda kembali menjadi berita utama di media Prancis.

Kerusuhan serupa marak November 2005

Kerusuhan serupa marak November 2005

Selasa (30/5) malam lalu, kaum muda kembali membakar mobil-mobil dan melempari polisi dengan batu. Enam polisi cedera dan 13 orang ditangkap. Sementara politisi Prancis ramai bertikai mengenai kerusuhan yang lagi-lagi terjadi.

Menteri Dalam Negeri Prancis Nicolas Sarkozy meyakini, pembuat onar adalah penjahat yang berjumlah lebih dari seratus orang dan bertopeng. Melihat tekad mereka untuk merusak, maka dapat disimpulkan bahwa tindakan itu memang direncanakan.

Pada malam berikutnya kerusuhan meluas. Polisi dikerahkan secara besar-besaran. Seperti pada Perang Dunia II, lampu-lampu terang benderang menyoroti jendela-jendela berbagai bangunan apartemen bertingkat tinggi. Helikopter dan ratusan polisi khusus CRS turun ke jalan. Untuk kebanyakan warga Prancis, situasi demikian merupakan ulangan peristiwa yang terjadi musim gugur tahun lewat.

Sepekan yang lalu, Perdana Menteri dan Menteri Dalam Negeri mengajukan rencana Undang-Undang pencegahan tindak kriminal kaum muda. Dalam dokumen tersebut misalnya disebutkan, ke depan, walikota dapat menghentikan bantuan sosial bagi keluarga atau anak dari keluarga yang melakukan tindak kekerasan. Mengenai UU itu Stephane Beaudet, walikota Courcouronnes yang terletak di pinggir kota Paris, berpendapat ia tidak mau menjadi sheriff. Menurutnya, seorang walikota tidak dipilih untuk tugas itu.

Pernyataan yang mirip antara lain dikeluarkan oleh Claude Dilain, walikota Clichy-sous-Bois, sebuah kawasan ghetto, di mana mobil-mobil dibakar pada musim gugur tahun lalu. Dia mengatakan, dia dipilih tidak untuk melakukan tugas yang seharusnya dilaksanakan kejaksaan.

Butir lain dalam rencana UU tadi menyangkut pencabutan hak rahasia tugas dari pekerja sosial. Ke depan, mereka diijinkan memberikan laporan mengenai keluarga yang bermasalah. Selain itu juga tercantum bahwa aparat keamanan lokal akan dibentuk serta dana untuk perbaikan kamera video keamanan akan disediakan. Butir lain yang sifatnya tidak menekan menyebutkan, remaja pelaku kejahatan akan mendapat hukuman bekerja untuk kepentingan umum. Perdana Menteri Dominique de Villepin mengatakan, harus ada pilihan lain dari pada hanya penjara.

Sementara Menteri Dalam Negeri Nicolas Sarkozy mengetengahkan pemerintah ingin agar kaum muda tertentu, tidak merasa dihukum. Sarkozy merujuk pada penjahat kambuhan.

Namun, harian Prancis Nouvel Observateur menulis, UU itu diinginkan menimbulkan ketakutan bagi kaum muda. Pendapat umum menyatakan, melalui UU yang keras itu Sarkozy hendak memobilisasi kubu kanan untuk pencalonannya sebagai presiden dalam pemilu tahun depan.