1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Kepercayaan ASEAN ke Eropa Meningkat, Indonesia Beda Sendiri

10 April 2026

Asia Tenggara semakin melihat Uni Eropa sebagai penyeimbang dalam rivalitas AS-Cina. Namun, analis menilai Brussels perlu memperkuat keterlibatan politik agar kepercayaan ini berbuah pengaruh strategis nyata.

https://p.dw.com/p/5By9A
Belgia | Pembicaraan Uni Eropa–Indo-Pasifik di Brussel
Uni Eropa merupakan mitra dagang terbesar ketiga bagi ASEAN, setelah Amerika Serikat dan Cina, serta sumber investasi asing langsung terbesar kedua bagi kawasan tersebut.Foto: Bogdan Hoyaux /EU

Menurut survei kawasan yang dirilis pekan ini, posisi Eropa di Asia Tenggara menunjukkan perbaikan dalam setahun terakhir.

Untuk tahun keenam berturut-turut, Uni Eropa muncul sebagai "pihak ketiga” yang paling dipercaya untuk menyeimbangkan rivalitas antara Amerika Serikat dan Cina. Demikian hasil penelitian berdasarkan survei tahunan State of Southeast Asia yang diterbitkan ISEAS-Yusof Ishak Institute.

Sebanyak 37,7% responden, naik dari 36,3% tahun lalu menyebut Uni Eropa sebagai mitra strategis yang paling dipercaya oleh ASEAN.

Survei itu juga menunjukkan 19,2% responden melihat Uni Eropa sebagai pengusung utama agenda perdagangan bebas global, mengungguli AS, meski masih di bawah ASEAN dan Cina.

Selain itu, 55,9% responden menyatakan percaya Uni Eropa akan "melakukan hal yang benar” dalam menjaga perdamaian, keamanan, kemakmuran, dan tata kelola global. Persentase tersebut meningkat dari 51,9% tahun sebelumnya. Dalam periode yang sama, tingkat ketidakpercayaan turun dari 27,8% menjadi 22,3%.

Uni Eropa merupakan mitra dagang terbesar ketiga ASEAN setelah AS dan Cina, serta sumber investasi asing langsung terbesar kedua bagi kawasan tersebut.

Uni Eropa: mitra yang dapat diprediksi

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepercayaan negara-negara Asia Tenggara terhadap Uni Eropa terus meningkat, tapi masih terbatas. "Kepercayaan itu lebih didasarkan pada citra EU sebagai pihak yang menjunjung nilai dan aturan internasional, bukan karena kekuatan politik atau militernya," ujar peneliti Melinda Martinus dari ISEAS.

Uni Eropa telah memiliki perjanjian perdagangan bebas dengan Singapura dan Vietnam, serta menyelesaikan negosiasi kesepakatan besar dengan Indonesia tahun lalu.

Brussels juga tengah mengupayakan perjanjian serupa dengan Filipina, Malaysia, dan Thailand. Harapannya, kesepakatan bilateral ini menjadi fondasi menuju perjanjian perdagangan kawasan dengan ASEAN.

Menurut Martinus, meningkatnya kepercayaan menunjukkan bahwa Uni Eropa semakin dipandang sebagai mitra yang stabil di tengah ketidakpastian kepemimpinan AS.

Ia menambahkan, citra ini diperkuat oleh "asosiasi kuat Uni Eropa dengan hukum internasional, multilateralisme, dan kepemimpinan dalam isu iklim,” yang membuatnya dilihat sebagai penyeimbang.

"Namun, keraguan dalam internal Uni Eropa dan kemampuannya bertindak tegas di panggung global menunjukkan adanya kesenjangan antara reputasi dan dampak nyata,” tambahnya.

Di tengah tren meningkatnya kepercayaan terhadap Uni Eropa,Indonesia menjadi satu-satunya negara ASEAN dengan tingkat ketidakpercayaannya lebih tinggi dalam setahun terakhir.

Meski begitu, Indonesia tetap termasuk negara yang paling melihat Uni Eropa sebagai penyeimbang dalam rivalitas AS-Cina. Sebanyak 40,7% responden memilihnya sebagai mitra strategis pihak ketiga.

Mencari alternatif di tengah rivalitas global

Para analis menilai hubungan Uni Eropa dan negara-negara Asia Tenggara yang sebelumnya bersifat normatif, kini bergeser menjadi lebih strategis. Pergeseran ini bukan karena Uni Eropa tiba-tiba menjadi aktor yang kuat. Namun, Asia Tenggara tengah mencari mitra yang dapat diandalkan di tengah gonjang-ganjing kepemimpinan AS dan menguatnya pengaruh Cina.

Survei yang sama menunjukkan kekhawatiran geopolitik utama adalah kepemimpinan Presiden Trump. Ia dinilai menerapkan kebijakan luar negeri yang sepihak dan sulit diprediksi.

Menurut Hunter Marston dari Center for Strategic and International Studies (CSIS), pola ini "semakin memperjelas alasan Uni Eropa dan negara-negara Asia Tenggara perlu mendiversifikasi hubungan dengan cepat.”

Bagi negara-negara Asia Tenggara, kebutuhan tersebut muncul seiring ASdianggap semakin tidak konsisten, sementara peran ekonomi Cinakian tak terhindarkan.

Di sisi lain, Asia Tenggara juga semakin penting bagi Uni Eropa, terutama dalam upaya mendiversifikasi rantai pasok, mengurangi ketergantungan pada Cina, dan menegaskan perannya di kawasan Indo-Pasifik. 

ASEAN Dorong Deeskalasi Konflik Timur Tengah

"Uni Eropa dan ASEAN tidak hanya menghadapi tantangan yang sama, tetapi juga memiliki kepentingan bersama dalam mendorong hukum internasional dan multilateralisme,” kata Alfred Gerstl, pakar hubungan internasional Indo-Pasifik.

"Sebagai dua organisasi kawasan terkuat di dunia, keduanya punya kepentingan untuk mempererat kerja sama dalam mempertahankan tatanan global berbasis aturan,” ujarnya.

Meski demikian, hasil survei ISEAS tidak sepenuhnya menguntungkan bagi Uni Eropa.

Uni Eropa hanya berada di posisi ketiga sebagai pengusung perdagangan bebas global, setelah ASEAN dan Cina. Ia juga menempati peringkat ketiga dalam menjaga tatanan global berbasis aturan, di bawah ASEAN dan AS.

Uni Eropa hadapi sejumlah tantangan

Dalam beberapa bulan terakhir, Uni Eropa juga dikritik karena tidak mengirim pejabat tinggi ke sejumlah pertemuan penting ASEAN.

Chris Humphrey dari EU-ASEAN Business Council menyoroti absennya Uni Eropa dalam pertemuan menteri digital ASEAN di Vietnam pada Januari. Sementara AS, Cina, dan Rusia justru menghadirkan perwakilan seniornya dalam pertemuan tersebut.

"Uni Eropa tidak hadir di pertemuan tingkat menteri saat pihak lain hadir, dan hal itu diperhatikan serta menjadi bahan komentar,” ujar Humphrey. Menurutnya, walau Cina mengirim delegasi ke hampir semua pertemuan ASEAN, "Eropa tampaknya tidak tertarik.”

Humphrey mengatakan bahwa meski hubungan perdagangan kedua pihak berkembang dalam beberapa tahun terakhir, masih banyak bidang lain yang perlu kerja sama lebih erat. Terutama di tengah dinamika geopolitik global saat ini.

Vietnam Hanoi 2026 | Presiden Dewan Uni Eropa António Costa bertemu Presiden Vietnam Lương Cường
Uni Eropa memiliki perjanjian perdagangan bebas dengan Vietnam dan Singapura, serta sedang merundingkan kesepakatan dengan beberapa negara ASEAN lainnya.Foto: Bui Lam Khanh/VNA/dpa/picture alliance

Humphrey mencontohkan dukungan Uni Eropa terhadap ASEAN Power Grid, transisi energi, dan keterlibatan di level tinggi dalam isu digital.

"Kabar baiknya adalah Uni Eropa mulai menunjukkan minat yang lebih besar, dan kami berharap akan ada lebih banyak keterlibatan di tingkat komisioner dalam pertemuan ASEAN tahun ini,” katanya.

Ujian yang lebih besar akan datang tahun depan. Saat ASEAN dan Uni Eropa memperingati 50 tahun hubungan mereka.

Momentum ini menjadi peluang bagi Brussels untuk membuktikan bahwa ambisinya di Indo-Pasifik bukan wacana belaka.

"Eropa perlu benar-benar menunjukkan secara terbuka bahwa mereka serius terhadap hubungan ini, ingin memperdalamnya, dan bekerja sama dengan ASEAN di berbagai bidang kepentingan bersama,” kata Humphrey.

Artikel ini pertama kali ditulis dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Felicia Salvina

Editor: Ayu Purwaningsih