Kenya: Kembali ke Masa Diktator Moi? | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 12.12.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Kenya: Kembali ke Masa Diktator Moi?

Walaupun Kenya mengalami kekeringan di awal tahun dan banjir di musim gugur, bisnis pertanian, pariwisata dan konsumsi bir Kenya meningkat drastis. Korupsi pun bertumbuh subur.

Pendukung Kibaki, kini merasa dikhianati

Pendukung Kibaki, kini merasa dikhianati

Pemerintah Kenya tengah bergembira. Dengan 5,8 persen mereka mencapai pertumbuhan ekonomi tertinggi dalam sepuluh tahun terakhir. Menurut pengamat politik Peter Wanyade, masyarakat awam Kenya tidak turut menikmati hasil yang dicapai pemerintahnya:

Peter Wanyade:Peningkatan ekonomi tersebut tidak menyentuh mayoritas warga. Justru sebaliknya, lebih dari 60 persen warga Kenya hidup di bawah garis kemiskinan.”

Sebagian warga malah berharap kembalinya mantan diktator Daniel arap Moi yang telah menguasai Kenya selama 24 tahun. Mwai Kibaki dengan koalisi pelanginya memenangkan pemilu empat tahun lalu dan peristiwa itu dirayakan seperti jatuhnya tembok Berlin.

Mwai Kibaki: Tantangan besar menghadang kami. Tapi kami akan bersama membangun negeri makmur ini.”

Presiden reformasi juga ingin mengatasi akar masalah yang sudah lama mengganggu:

Mwai Kibaki: Kami akan berupaya membantu pemerintah berperang melawan korupsi.”

Namun koalisi menunjukkan wajah aslinya setelah beberapa bulan memerintah. Sekretaris Negara John Githongo mengalami banyak hambatan dalam melawan korupsi.

John Githongo: Ini hampir membuat putus asa. Orang-orang yang selama ini menipu negara terang-terangan melawan saya. Korupsi kembali beraksi.”

Pembukaan kasus skandal penipuan dana subsidi ekspor emas dan intan yang dilakukan pemerintah Kenya di tahun 1990-an tiba-tiba terhenti. Pemerintah baru Kenya juga melakukan perbuatan yang sama. Perusahaan-perusahaan fiktif berkedok Anglo-Leasing kroni Kibaki melakukan penipuan hingga ratusan juta dolar Amerika Serikat.

John Githongo kini mengundurkan diri karena ketakutan akan dibuang ke pengasingan. Githongo melanjutkan:

John Githongio: Saya menerima saran dari menteri lain, sebaiknya Anda keluar saja daripada jiwa terancam.”

Profesor Wanyade sama sekali tidak heran. Kibaki dan kroninya menggunakan cara-cara yang dilakukan diktator Moi. Tentu saja dengan perbedaan.

Peter Wanyade: Moi tahu segala apa yang terjadi di dalam negeri. Dia telah berbaur di segala hal kecil. Sebaliknya Kibaki membiarkan menteri-menterinya melakukan korupsi, dia tidak dapat mencampuri urusan mereka.”

Hal yang sangat khas dari politik “tak mau tahu” yang dilakukan Presiden di Kenya, empat menteri kehilangan posisinya di awal tahun. Setengahnya baru saja kembali pada jabatannya secara diam-diam. Partai oposisi marah besar. Raila Odinga dari oposisi mengatakan:

Raila Odinga: Kini merupakan saat yang mendesak supaya presiden mengundurkan diri. Dia harus membubarkan parlemen dan membuka jalan untuk pemilihan baru.”

Odinga dan Kibaki pernah bersama menjadi perancang reformasi. Kini keduanya berbeda jalur. Presiden Kibaki malah membuat jaringan teman baru dengan pendahulunya.

Masyarakat Kenya saat ini tengah menonton politik suap-menyuap yang dilakukan pemerintahnya. Walau pun begitu, Profesor Wanyade menilai situasi ini tak akan separah masa rezim Moi:

Peter Wanyade: Kesadaran politik warga telah tumbuh. Ada masyarakat sipil yang tidak lagi mudah dimanipulasi. Kesabaran rakyat negeri ini patut dihargai.”

Iklan