Kenapa Kereta Api di AS Tertinggal dari Asia dan Eropa?
6 Juli 2026
Perjalanan dengan kereta api di Amerika Serikat saat ini sedang mengalami peningkatan. Jumlah penumpang kereta api di sana telah mencetak rekor baru selama dua tahun terakhir. Dengan harga bahan bakar pesawat dan bensin yang masih jauh lebih tinggi dibandingkan sebelum konflik AS-Iran, semakin banyak orang diperkirakan akan memilih kereta api untuk menghindari mahalnya biaya penerbangan dan perjalanan kendaraan pribadi selama masa liburan musim panas.
Namun, mereka yang belum terbiasa dengan jaringan kereta api AS mungkin akan kecewa. Banyak kota di Amerika Serikat tidak memiliki koneksi rel yang baik dan layanan kereta cepat seperti yang umum ditemukan di negara-negara Eropa dan Asia Timur.
Hal ini menimbulkan sebuah kontradiksi, karena Amerika Serikat sebenarnya memiliki jaringan rel kereta api terpanjang di dunia. Jadi, di mana letak masalahnya?
Kereta barang VS kereta penumpang
Pertengahan hingga akhir abad ke-19 merupakan masa kejayaan perjalanan kereta api di Amerika Serikat. Ribuan kilometer jalur rel dibangun untuk menghubungkan pantai timur dan barat serta mengangkut penumpang dan barang dari satu negara bagian ke negara bagian lain. Namun kejayaan tersebut tidak bertahan lama.
Pada pertengahan abad ke-20, pemerintah federal AS lebih memprioritaskan pendanaan untuk pembangunan jalan raya dan bandara dibandingkan jalur kereta api. Akibatnya, perjalanan dengan mobil dan pesawat menjadi jauh lebih efisien dibandingkan menggunakan kereta.
Berbeda dengan banyak negara di Eropa yang sejak lama menganggap kereta penumpang sebagai layanan publik yang penting, Amerika Serikat justru lebih memprioritaskan kereta barang yang dianggap lebih menguntungkan secara ekonomi. Warisan kebijakan ini masih terasa hingga saat ini, ketika sebagian besar infrastruktur rel di negara tersebut dirancang untuk mengangkut barang, bukan untuk membawa penumpang dalam kecepatan tinggi.
Rute paling populer milik perusahaan kereta penumpang AS, Amtrak, menjadi contoh nyata. Rute yang dikenal sebagai Northeast Corridor ini menghubungkan kota-kota antara Boston dan Washington DC. Kereta membutuhkan sekitar tujuh jam untuk menempuh jalur sepanjang 735 kilometer.
Sebagai perbandingan, kereta cepat di Italia dapat menempuh rute yang lebih panjang antara Napoli dan Milan dalam waktu kurang dari lima jam.
Allan Zarembski, Direktur Program Teknik dan Keselamatan Perkeretaapian di Universitas Delaware, mengatakan bahwa salah satu alasan mengapa Northeast Corridor tidak dapat mendukung kereta berkecepatan tinggi adalah karena jalurnya mengikuti kontur alam dan memiliki banyak tikungan. Sehingga mengubah kondisi ini akan sangat rumit dan mahal.
"Meluruskan jalur rel merupakan proyek yang sangat mahal," katanya. "Kita harus membeli lahan yang dimiliki orang lain, dan sering kali pemiliknya tidak ingin menjualnya, belum lagi jalur tersebut juga melewati wilayah paling padat penduduk di Amerika Serikat."
Kereta tanpa tujuan
Meski Northeast Corridor saat ini belum mampu mendukung adanya kereta cepat, California sempat berharap dapat memilikinya.
Pada tahun 2008, negara bagian tersebut meluncurkan proyek untuk menghubungkan Los Angeles dan San Francisco dengan kereta cepat. Proyek ini dipromosikan sebagai peningkatan besar dibandingkan perjalanan kereta yang ada saat itu, yang memerlukan waktu sekitar 12 jam dan tidak langsung.
Rencana awalnya adalah membangun jalur baru yang memungkinkan perjalanan antara kedua kota ditempuh dalam waktu kurang dari tiga jam. Pemerintah negara bagian saat itu menyatakan jalur sekitar 1200 kilometer tersebut akan selesai pada tahun 2020.
Namun, proyek tersebut belum juga terwujud sepenuhnya dan bahkan dijuluki oleh sebagian pihak sebagai "kereta tanpa tujuan". Lalu apa yang menyebabkan kegagalannya?
Awalnya, California mengalokasikan dana sebesar 9,95 miliar dolar AS (sekitar Rp.179 triliun) untuk proyek yang diperkirakan bernilai 33 miliar dolar AS (sekitar Rp. 600 triliun). Namun biaya pembangunan ternyata jauh lebih besar dari perkiraan. Saat ini, total biaya proyek diproyeksikan melampaui 100 miliar dolar AS (sekitar Rp. 1.700 triliun).
Zarembski berpendapat bahwa para pemegang proyek kemungkinan sudah mengetahui sejak awal bahwa estimasi biaya saat perencanaan terlalu rendah.
"Menurut saya mereka sengaja memasang angka yang rendah untuk alasan politik," katanya. "Mereka tahu bahwa nilai sebenarnya tidak akan lolos dalam proses persetujuan legislatif."
Proyek tersebut juga menghadapi penolakan dari sejumlah warga yang tidak ingin jalur kereta melintasi lingkungan tempat tinggal mereka.
Sambil terus mencari tambahan pendanaan, pemerintah California saat ini sedang membangun rute yang lebih pendek dari jalur tersebut, yang diperkirakan akan mulai beroperasi pada awal 2030-an. Untuk keseluruhan rute, Otoritas Kereta Cepat California tahun lalu mengumumkan target untuk menghubungkan San Francisco dengan wilayah California Utara pada tahun 2038, hampir 20 tahun lebih lambat dibandingkan target awal.
Manfaat sistem perkeretaapian yang baik
Peralihan ke kereta cepat tidak hanya menguntungkan penumpang, tetapi juga lingkungan. Menurut Amtrak, kereta listriknya menghasilkan emisi hingga 72% lebih rendah dibandingkan pesawat dan 83% lebih rendah dibandingkan mobil.
Namun, mengubah Amerika Serikat menjadi negara dengan sistem kereta penumpang yang cepat dan efisien membutuhkan biaya sangat besar. Berbeda dengan pemerintahan AS terdahulu yang memberikan dukungan besar kepada Amtrak, pemerintahan Trump sejak kembali menjabat berupaya memangkas pendanaan federal untuk infrastruktur kereta penumpang. Dalam usulan anggaran 2027, pemotongan yang diajukan mencapai 82%.
Amtrak menyatakan bahwa mereka membutuhkan tambahan anggaran lebih dari 100 miliar dolar AS (sekitar Rp. 1.700 triliun) serta waktu lebih dari 15 tahun untuk menyelesaikan seluruh peningkatan yang direncanakan di Northeast Corridor. Proyek-proyek tersebut mencakup modernisasi sistem sinyal, pembangunan kembali terowongan dan jembatan tua, pengadaan armada baru, serta berbagai peningkatan infrastruktur lainnya.
Namun, Alon Levy, peneliti transportasi dan tata guna lahan di Marron Institute, Universitas New York, berpendapat bahwa perbaikan yang diperlukan sebenarnya dapat dilakukan dengan biaya yang jauh lebih rendah.
Levy merupakan salah satu penulis dalam laporan yang menyimpulkan bahwa jalur kereta cepat di Northeast Corridor dapat dibangun dengan biaya sekitar 17 miliar dolar AS (sekitar Rp. 300 triliun) di luar dana yang sudah dialokasikan sebelumnya.
Menurutnya, Northeast Corridor adalah salah satu jalur yang standar infrastrukturnya sudah cukup baik. Oleh karena itu, alih-alih melakukan perombakan total, Amerika Serikat sebaiknya mengadopsi standar teknis dan operasional yang telah lama digunakan di Eropa dan Asia, serta menerapkan teknologi perkeretaapian yang sudah terbukti berhasil di negara-negara tersebut.
Levy menilai bahwa masalah terbesar AS bukanlah kekurangan dana, melainkan kegagalan dalam mengadopsi inovasi dari negara lain.
"Ini semacam pola pikir Amerika Serikat, jika AS bukan yang pertama menemukan sesuatu, sangat sulit untuk menerima posisi sebagai yang kedua atau ketiga," ujarnya.
Ia juga memberikan contoh kasus seperti Jepang yang telah menemukan teknologi perkeretaapiaan tertentu dan diterapkan di banyak negara Eropa, maka sangat sulit untuk Amerika Serikat dapat menerapkannya, apalagi bila tahu teknologinya tertinggal.
Artikel ini pertama kali terbit dalam Bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Athif Aiman
Editor: Yuniman Farid