Kenangan Tiga Dasawarsa Bersama Deutsche Welle di Jerman | BLOG: Eropa menurut warga Indonesia dan Indonesia di mata warga Eropa | DW | 04.10.2019
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Blog

Kenangan Tiga Dasawarsa Bersama Deutsche Welle di Jerman

Tidak kurang dari tiga dasawarsa saya memiliki kenangan dengan Deutsche Welle. Entah bertugas di Köln, Bonn maupun ketika memproduksi siaran di Indonesia. Oleh Asril Ridwan.

30 tahun bersama Deutsche Welle Jerman, banyak kenangan dan suka duka serta bertemu dan berbicara dengan berbagai orang dan profesi. Mulai dari ibu rumah tangga, politisi, pengusaha, seniman, menteri, perdana menteri dan presiden.

Pada bulan September 1976, saya ditugaskan mengunjungi parlemen Eropa di Strassburg, Perancis. Kebetulan disana diadakan pertemuan dengan beberapa Kepala Pemerintahan negara Eropa Barat. Antara lain juga hadir Perdana Menteri Portugal Mario Soares. Saya pikir ini kesempatan baik untuk dapat mewancarainya mengenai masalah Timor Timur yang menjadi pembicaraan di forum internasional setelah Indonesia melakukan invasi militer di Timor Timur, yang merupakan koloni Portugal, bulan Agustus 1975.

Deutsche Welle Indonesische Redaktion (DW)

Asril Ridwan

Usaha saya untuk mewancarainya berhasil. Muncul kendala soal bahasa Saya hanya bisa berbahasa Inggris dan bahasa Jerman yang pas-pasan. Sedangka Perdana Menteri Mario Soares hanya mau menjawab pertanyaan dalam bahasa Portugis dan bahasa Prancis. Dua bahasa yang sama sekali tidak saya kuasai.

Akhirnya ditempuh "kompromi", saya bertanya pakai bahasa Inggis. Mario Soares menjawab dalam bahasa Prancis. Tak apalah, yang penting kesempatan yang berharga ini tidak sia-sia. Toh nanti jawaban bisa minta tolong rekan wartawan yang fasih berhasa Prancis untuk menerjemahkannya. Inilah debut pertama saya ditingkat Internasonal.

Sebagaimana diketahui, di Jerman banyak tinggal warga Indonesia. Menarik untuk menggali, kisah hidup mereka di Jerman. Untuk itu saya berkunjung dari kota kekota untuk menemui mereka yang punya berbagai profesi. Ibu rumah tangga, seniman, dokter, rohaniwan , pemilik restoran. Umumnya mereka sudah cukup lama tinggal di Jerman.

Seorang pemerhati Indonesia, Prof. Dr. Bernard Dahm dari Universitas Passau, menggambarkan orang Indonesia yang lama "nongkrong" di Jerman sebagai berikut: "mula-mula semuanya mengeluh tentang Jerman, tidak ada nasi putih, udaranya dingin dan orang Jerman kaku. Tapi lama-lama ada yang menikah dengan orang Jerman dan betah tinggal berlama-lama."

Di kota Karlsruhe saya bertamu dan berbincang dengan seorang Ibu rumah tangga yang bersuami orang Jerman. Ia bercerita, saya mencintai suami saya, selama dia mencintai saya. Dan di rumah kalau "ngedumel" saya sih pakai bahasa Indonesia.

Nampaknya dia sedikit kecewa, ketika makan siang disuguhkan sambal terasi. Katanya dia mengira saya orang Sunda, bukan orang Padang. Maaf, katanya. Toh saya makan enak di rumahnya dengan menu lain yang tersedia: empal, ikan asin, tahu tempe dan lalap. Dia juga bingung, kenapa saya tidak menjamah goreng ayam. Dia bertanya apakah saya dukun, pantang makan sesuatu.

Tidak kataku, mungkn Ibuku tidak membiasakan aku makan daging ayam dari kecil. Kami pun tertawa terbahak-bahak dan tanpa terasa hampir setengah bakul nasi ludes. Makan siang yang berkesan, jauh dari kampung halaman.

Selama bekerja di Deutsche Welle, saya berjumpa dan berbicara dengan dua orang Presiden. Yakni Presiden Jerman Richard von Weszacker dan Presiden Indonesia BJ Habibie. Presiden Jerman bertemu ketika menunggu kedatangan Presiden Suharto di Villa Hammerschmidt di Bonn tanggal 3 Juli 1971,  dengan Presiden BJ Habibie disela-sela Pekan Raya Industru Jerman "Technogerma" di Jakarta awal Maret 1999.

Bertemu untuk melakukan wawancara tak selamanya mulus. Suatu hari menjelang gelombang reformasi di Indonesia, saya melakukan wawancara dengan seorang anggota DPR di Brussels, Belgia. Ketika dalam pertanyaan saya menyebut rezim Suharto, dia lantas berdiri dan minta wawancara dihentikan.

Dia tidak terima saya menyebut "rezim" Suharto yang selalu dibangggakan sebagai Bapak Pembangunan. Saya ikuti permintaannya, lantas pergi. Sepekan kemudian, Suharto lengser. Tapi di beberapa harian saya baca pernyataan kerasn anggota DPR itu "adili Suharto". Saya berpikir, inilah jenis politisi busuk dan penjilat di Indonesia.

Kemudian saya sempat mengadakan wawancara dengan Ketua Umum Golkar saat itu, Amir Murtono. Di bungkus kaset wawancaranya saya tandai dengan tulisan "wawancara terkonyol". Karena ketika ditanya apakah akan terjadi efek domino di Indonesia setelah Presiden Filipina Marcos tumbang, dia hanya menjawab, pertama- tama kami di Indonesia menganggap permainan domino itu haram. Titik. Masih banyak lagi jawabannya yang konyol.

Lain lagi dengan Menteri Luar Negeri Malaysia Abdulah Ahmad Badawi, yang kemudian mejadi Perdana Menteri. Wawancara terpaksa dihentikan sejenak, karena dia tak faham apa arti kata "dikucilkan". Saya bertanya apakah Myanmar akan dikucilkan dalam ASEAN. Setelah saya terangkan, wawancarapun bisa  dilanjutkan.

Pengalaman "pahit" lain adalah ketika Menteri Sekretaris Negara Murdiono mengadakan jumpa pers dengan wartawan yang mengikuti kunjungan Presiden Suharto ke Jerman, Juli 1991. Tempatnya di Wisma Negara Petersbeg dekat kota Bonn. Ketika saya masuk, dia langsung bertanya, Anda dari media mana. Saya jawab Deutsche Welle. Lantas dengan nada keras yang gagap, dia berkata, silahkan keluar. Kami tidak menerima wartawan asing. Acara ini khusus untuk wartawan Indonesia. Alah mak...

Selamat Ulang Tahun DW Indonesia, 30 September 1963 – 2019. (hp)