Kemitraan Strategis UE - Cina | dunia | DW | 18.01.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Kemitraan Strategis UE - Cina

Kedua pihak menginginkan perjanjian yang lebih sesuai dengan keadaan dewasa ini.

Benita Ferrero-Waldner dan Li Zhaoxing

Benita Ferrero-Waldner dan Li Zhaoxing

Perjanjian perdagangan antara Uni Eropa dan Cina sudah berusia 20 tahun. Komisaris urusan Luar Negeri UE Benita Ferrero-Waldner bertolak ke Beijing untuk menciptakan dasar perjanjian yang lebih baik dan sesuai dengan kondisi sekarang.

Bersama Menlu Cina Li Zhaoxing, ia meletakkan batu pertama bagi rumusan baru perjanjian bersejarah Cina-Eropa dari tahun 1985 yang masih dipakai sampai saat ini. Ferrero Waldner mengatakan:

"Dua puluh tahun lalu kemitraan UE dan Cina terutama dalam perdagangan, tetapi kini kami adalah mitra strategis dengan bidang kerjasama yang luas dan besar. Sekarang kita membutuhkan persetujuan yang menggambarkan kenyataan ini."

Dewasa ini, UE adalah mitra dagang terbesar Cina. Namun, selain ekonomi, kedua pihak juga bekerjasama di bidang transportasi, pendidikan, ilmu pengetahuan, informasi, energi dan juga masalah hukum.

Cina tidak lagi dianggap hanya sebagai kekuatan ekonomi yang tengah bangkit, tetapi lebih sebagai kekuatan besar internasional yang harus dipandang serius. Seperti dikatakan Ferrero Waldner:

"Jumlah penduduk UE dan Cina mencapai 1/3 populasi dunia. Itu berarti, di bidang-bidang di mana kita sepakat dan bekerjasama, kita membuat suatu perubahan. Bukan hanya bagi rakyat kita tetapi juga bagi dunia. Dan itu sebabnya mengapa kemitraan strategis ini sangat penting."

Perhatian khusus diberikan pada perjanjian baru Cina-Eropa mengenai perubahan iklim dan energi. Dengan kemajuan ekonomi yang dicapainya, Cina berkembang menjadi salah satu pengguna energi terbesar, sekaligus pencemar lingkungan terbesar.

Topik lain yang menjadi ganjalan para mitra Cina, juga dibicarakan dalam kunjungan Komisaris Urusan Luar Negeri UE Benita Ferrero Waldner. Misalnya, tuduhan dari pihak UE mengenai minimnya perlindungan terhadap kekayaan intelektual, syarat-syarat dagang yang tidak fair dan juga tentang hak asasi manusia.

Sementara Cina, seperti sebelumnya, menuntut status perdagangan yang utuh dan pencabutan embargo senjata yang dijatuhkan UE setelah pembantaian di Lapangan Tiananmen tahun 1989. Ferrero Waldner menanggapi:

"Kami berupaya ke arah pencabutan embargo. Tapi kami ingin melihat kondisi yang tepat untuk itu, misalnya Cina meratifikasi konvensi hak asasi PBB bagi hak-hak sipil dan warga negara, membebaskan para tawanan kasus Tiananmen dan menghapus kamp re-edukasi paksa. Kami ingin melihat kemajuan dalam masalah itu yang akan membantu pencabutan embargo."

Tetapi pemerintah Cina belum melangkah sejauh itu, dan perundingan mengenai rumusan baru kerjasama Cina-Eropa diperkirakan berjalan alot. Sedikitnya butuh waktu 2 tahun sampai prosesnya tuntas.

Iklan