Kemelut Eropa Hadapi Pendatang Hitam | Fokus | DW | 04.09.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Kemelut Eropa Hadapi Pendatang Hitam

Awal tahun 2006 bukan merupakan awal yang baik bagi Spanyol. Karena sejak saat itu, sudah 18.000 pengungsi ilegal dari Afrika terdampar di kepulauan Kanaria, Spanyol.

Seorang pengungsi Afrika yang berhasil berlabuh dekat pelabuhan Los Cristianos, Spanyol

Seorang pengungsi Afrika yang berhasil berlabuh dekat pelabuhan Los Cristianos, Spanyol

Bulan ini saja jumlahnya sudah melebihi jumlah keseluruhan untuk tahun 2005. Tak heran, jika Spanyol mengalami kesulitan mengendalikan pendatang ilegal Afrika itu. Pelan-pelan, Eropa pun mulai dipaksa untuk mengarahkan politik migrasinya ke arah selatan, ke arah jantung hitam benua Afrika.

Pendatang gelap bukan masalah Spanyol saja, demikian tutur perwakilan pemerintahan Spanyol, Matilede Fernandez de la Vega, di sela-sela kunjungannya di Brussel. Ucapan de la Vega itu tidak dapat dianggap hanya sekedar angin lalu. Karena suara yang meluncur dari mulut Komisaris Keamanan dan Kehakiman Uni Eropa, Franco Frattini, juga membuktikan, bahwa Uni Eropa berpenilaian sama.

Frattini: “Ini adalah masalah Eropa dan bukan hanya Spanyol, Itali dan Malta. Ribuan imigran gelap melewati laut Tengah untuk mencapai Italia dan Malta. Ratusan bayar dengan nyawa mereka.”

Namun kenyataannya, Spanyol merasa kurang mendapat dukungan dari Uni Eropa. Dan hari Rabu (30/08) minggu lalu, Brussel lagi-lagi tidak dapat menjanjikan apapun kepada pemerintahan di Madrid. Menurut Franco Frattini sendiri, masalah ini seharusnya dibicarakan di tingkat komisaris Uni Eropa. Ia mengusulkan pembentukan komisi kerja yang khusus menangani masalah pendatang gelap di kawasan Uni Eropa.

Frattini berencana, ia dan komisinya akan mencoba untuk mengetegahkan ide pembentukan komisi kerja tersebut pada pertemuan informal menteri dalam negeri dan kehakiman Uni Eropa yang akan diselenggarakan bulan depan di Tampere, Finlandia. Karena menurut Frattini, Negara-negara anggota Uni Eropa harus menyediakan sarana untuk menanggulangi masalah pendatang gelap.

Minimnya dukungan Uni Eropa dalam menangani krisis migran gelap dapat segera terlihat di perbatasan. Frontex, badan keamanan perbatasan Uni Eropa yang bertugas menangani migrasi gelap, mengalami keterbatasan sarana. Badan ini membutuhkan kapal dan pesawat yang dapat dikerahkan dalam operasi pelacakan dan penyelidikan.

Tak heran jika wakil Perdana Menteri Spanyol Fernandez de la Vega menyesali reaksi Frontex yang dinilainya terlalu lamban. Memang dalam kenyataannya, butuh waktu yang cukup lama bagi Frontex untuk mengirimkan dua kapal pengintai kepada pemerintahan Spanyol. Frattini berharap, masa tugas kapal-kapal tersebut dapat diperpanjang hingga akhir tahun.

Matilde Fernandez de la Vega mengritik, dalam kasus terakhir Frontex sama sekali tidak mengerahkan satuannya, lantaran badan tersebut sama sekali tidak memiliki pengalaman yang cukup. Spanyol hendak mengajak negara-negara Mediterania, Eropa dan negara-negara Afrika untuk membahas pengadaan patroli bersama dan penampungan para imigran gelap. Dan de la Vega tetap bersikeras dengan tuntutannya,

de la Vega: “Untuk meningkatkan pengamanan di perbatasan kita membutuhkan lebih banyak pesawat dan kapal. Kita butuh lebih banyak orang lagi, yang betul-betul bisa bekerja.”

Frattini juga merencanakan misi darurat untuk kawasan Mediterania. Diharapkan semua negara anggota Uni Eropa bersepakat membentuk kibajakan migrasi bersama.