Kematian Para Wartawan Pemberani | Sosial | DW | 13.10.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosial

Kematian Para Wartawan Pemberani

Dalam waktu yang berdekatan seorang wartawan Rusia dan dua wartawan Jerman, terbunuh. Dunia media berduka. Kematian mereka manandai tingginya kasus kekerasan terhadap wartawan.

Karangan bunga di depan apartemen Anna Polikovskaya

Karangan bunga di depan apartemen Anna Polikovskaya

Dua peluru yang menghujam Anna Polikovskaya menghentikan kritikan pedasnya yang selama ini membuat merah kuping pemerintahan Rusia. Sabtu (07/10) lalu, perempuan 48 tahun itu terbunuh di apartemennya, di pusat kota Moskow. Rusia pun berduka. Lebih-lebih redaksi Novaya Gazeta, media dua mingguan tempatnya bekerja. Suaranya tak lagi dapat terdengar di ruang rapat redaksi media yang terkenal kritis itu.

Motiv Pembunuhan

Ini merupakan pukulan besar bagi demokrasi dan kebebasan pers Rusia. Komite Perlindungan Wartawan yang bermarkas di New York mencatat, Politkovskaya merupakan wartawan ke-13 yang tewas, sejak Putin mulai berkuasa pada tahun 2000. Polisi menyebut, kematian Polikovskaja merupakan hasil kerja pembunuh profesional. Tetapi dunia meyakini, Politkovskaja dibunuh sehubungan aktivitas jurnalistiknya yang kritis terhadap pemerintah Rusia, lebih-lebih menyangkut kebijakan Rusia di Chechnya. Ini ditegaskan hasil penyelidikan yang diungkap seorang penyidik yang tak mau disebut namanya, dalam pernyataan kepada Kantor Berita Russia. Kebetulan, bertepatan dengan kematian Politskovskaya, Putin yang sering menjadi sasaran kritik Politkovskaya yang tajam, berulangtahun ke-54.

Laporan Penyiksaan di Chechnya

Menjelang kematiannya, Politkovskaja tengah menyiapkan laporan tentang berbagai tindakan penyiksaan yang dilakukan tentara Rusia di Chechnya. Laporan itu, lengkap dengan fotonya, mestinya diterbitkan Novaya Gazeta Senin (09/10) lalu. Namun batal karena kematiannya. Baru Kamis (12/10) kemarin, laporan itu diterbitkan. Namun hanya sebagian. Karena sebagian lainnya lenyap bersama tewasnya sang wartawan.

Anna Politkovskaya dikenal sebagai wartawan yang tajam mengungkap berbagai pelanggaran HAM tentara Rusia di Chechnya, serta para pejabat Chechnya pro Rusia. Sebagian di antaranya dibukukan dalam judul "Perang Yang Kotor: Catatan Seorang Wartawan Rusia“

Ada Kaitannya dengan Masalah di Checnya

Menjelang kematiannya, Politkovskaya sempat berbicara pedas menyangkut kasus kejahatan yang diduga melibatkan Perdana Menteri Chechnya yang didukung Rusia, Ramzan Kadyrov. Pasukan keamanan Kadyrov selama ini dituduh sering menculik dan bertindak kejam terhadap warga sipil. Karenanya Pelapor Khusus Uni Eropa untuk urusan Chechnya Rudolf Bindig yakin betul kematian Politkovskaja berhubungan erat dengan kekerasan yang terjadi di Chechnya.

Anna Politkovskaya juga kerap melontarkan kritik pedas terhadap Putin. Ia menyebut Putin selalu membatasi kebebasan dan gagal meninggalkan karakternya sebagai agen dinas rahasia Uni Soviet KGB dulu. Sebuah buku Anna Politkovskaya yang lain, bahkan diterbitkan dengan judul yang menohok Putin, yakni “Rusia di Bawah Putin: Kegagalan Demokrasi”.

Kasus Harus Diungkapkan

Federasi Jurnalis Internasional, IFJ, menyebut pembunuhan Politkovskaya sebagai pelanggaran hukum oleh negara yang mengancam keseluruhan kegiatan kewartawanan di Rusia. Sekjen IFJ Aidan White menuntut Presiden Vladimir Putin untuk sungguh-sungguh membongkar kasus ini dan mengadili pelaku serta dalang pembunuhan itu.

Dua tahun silam, Anna Politkovskaya sudah pernah menjadi sasaran pembunuhan. Waktu itu, dalam perjalanan meliput kasus penyanderaan di Beslan terhadap ratusan anak sekolah oleh gerilyawan Chechnya, ia diracun. Namun nyawanya masih bisa diselamatkan. Kali ini, Sabtu (07/10) lalu, Politkovskaya tak bisa lagi lolos dari kejaran para pembunuhnya.

Kematian Wartawan Deutsche Welle

Kematian Politkovskaya melipatkgandakan duka yang melanda dunia kewartawanan. Sehari sebelum tragedi itu, Jum'at (06/10), dua wartawan Deutsche Welle (DW), juga terbunuh di Afghanistan. Karen Fisher dan Christian Struwe tewas ditembak orang-orang tak dikenal tatkala berada di tenda tempat beristirahat, sekitar 100 mil dari barat laut Kabul. Kasus ini belum jelas motivnya, namun dipastikan bukan perampokan, karena berdasarkan laporan awal, tidak ada barang-barang mereka yang hilang dalam serangan itu.

Kedua wartawan itu tengah menyusun sebuah film dokumenter tentang Afghanistan. Kebetulan, Jerman menerjunkan 2.750 anggota pasukan dibawah komando Perserikatan Bangsa bangsa PBB ke Afghanistan.

Taliban Sanggah Keterlibatannya

Baik Struwe maupun Fischer mengenal Afghanistan dengan baik. Karen Fischer merupakan wartawan yang memiliki spesialisasi konflik Timur Tengah dan Afghanistan. Sementara Christian Struwe pernah bertugas melakukan pelatihan penyiaran di Afghanistan.

Pimpinan DW, Eric Bettermann, meminta pejabat Afghanistan dan Pasukan Perdamaian Internasional untuk Afghanistan ISAF untuk mengungkap latar belakang pembunuhan tersebut. Gubernur Provinsi Baghlan di utara Afghanistan, Sayed Ekram Masumi, mengatakan telah mengidentifikasi pelakunya. Sementara kelompok Taliban membantah terlibat dalam pembunuhan itu.

Pembunuhan terhadap Wartawan Meningkat

Beberapa tahun terakhir ini, pembunuhan terhadap wartawan mencatat angka yang tinggi. Organisasi pembela kebebasan pers, Reporter Lintas Batas atau Reporters Sans Frontier (RSF) mencatat, di tahun 2004, tercatat 53 orang wartawan tewas terbunuh dan di tahun 2005, angkanya meningkat menjadi 63 orang. Vincent Brossel dari RSF mencatat kasus-kasus kekerasan terhadap wartawan tidak hanya terjadi di wilayah krisis atau perang. Namun juga banyak terjadi di negara demokratis. Namun dari sekian banyak kasus kekerasan dan pembunuhan terhadap wartawan, RSF mencatat, sedikit sekali yang pelakunya diadili.