Kematian Herliyanto Diduga Terkait Pemberitaan | Fokus | DW | 17.05.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Kematian Herliyanto Diduga Terkait Pemberitaan

Aliansi Jurnalis Independen AJI meminta agar polisi mengusut tuntas pembunuhan Herliyanto. Diduga ia dibunuh berkaitan dengan berita-beritanya yang sering mengungkap korupsi di daerah tempatnya bertugas.

Di sebuah jalan setapak di kawasan hutan jati Klenang Desa Tarokan, Banyuanyar, Probolinggo, tubuh Herliyanto ditemukan tewas mengenaskan dua pekan lalu. Setidaknya 9 luka sabetan senjata tajam memenuhi tubuh korban. Sepeda motor korban juga ditemukan di tempat kejadian. Wartawan lepas harian Radar Surabaya itu dikenal sebagai wartawan yang kritis dalam mengungkap kasus-kasus korupsi di Probolinggo. Terakhir, Herliyanto menelisik penyimpangan dana di Desa Tulupari, Probolinggo, Jawa Timur.

Kepolisian Probolinggo telah memanggil beberapa saksi untuk mengungkap kasus pembunuhan Herliyanto. Saksi-saksi itu berasal dari keluarga korban dan warga desa yang sempat bertemu dengan Herliyanto sebelum ia dibunuh. Setelah memeriksa sejumlah saksi dan barang bukti, polisi mulai mendapat titik terang. Diperkirakan pelakunya berjumlah lima orang.

Aliansi Jurnalis Independen AJI dan organisasi-oraganisasi wartawan internasional mengutuk pembunuhan tersebut. Mereka mendesak kepolisian agar serius dalam menyelidiki pembunuhan itu. AJI menduga kuat kematian Herliyanto memang terkait pemberitaan yang dibuatnya. Meski tak tertutup kemungkinan lain.

Kasus tewasnya Herliyanto ini memunculkan dugaan motif pembunuhan berlatar masalah pemberitaan. Yaitu seputar korupsi yang terjadi di daerahnya. Herliyanto juga menulis penyelewengan beras untuk rakyat miskin yang terjadi di Kecamatan Tiris. Polisi kemudian menyelidiki penyelewengan itu dan berhasil memenjarakan kepala desa tersebut. Seperti dikisahkan Bibin Bintaryadi, AJI Malang.

Belakangan, kasus penyerangan terhadap wartawan makin semarak di Indonesia. Sejak awal 2006, sudah terjadi 11 kasus kekerasan fisik. Ancaman terhadap wartawan yang sedang melakukan tugasnya, tidak hanya terjadi di Indonesia. Dari Paris, organisasi Wartawan Lintas Batas atau Reporters sans Frontieres, kelompok perlindungan wartawan melansir 21 jurnalis tewas serta 120 lainnya dipenjarakan sebelum paruh pertama 2006 di seantero dunia. Di Filipina, 16 Mei ini, seorang wartawan foto ditembak mati saat menjalankan tugas. Sementara dua wartawan radio terluka parah karena serangan granat.