Kemampuan Berbahasa | Iptek | DW | 01.08.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Iptek

Kemampuan Berbahasa

Bayi yang baru lahir adalah jenius bahasa. Demikian hasil penelitian ahli bahasa Angela Friederici yang mendapat penghargaan ilmiah di Jerman.

default

Mereka adalah jenius bahasa terbesar di dunia, tetapi meskipun demikian mereka tidak mampu membentuk sebuah kalimat pun yang mengandung suatu makna. Siapakah jenius yang dimaksudkan itu? Mereka adalah bayi yang baru lahir.

Hanya merekalah yang dapat belajar suatu bahasa apa pun juga di dunia ini. Oleh sebab itu, orang tua hendaknya jangan melewatkan potensi besar ini dengan begitu saja. Pasalnya kemampuan tersebut akan menghilang sebelum bayi mulai berbicara bahasa ibunya. Demikian menurut peneliti bahasa Angela Friederici. Dia memperoleh penghargaan „Lebniz-Preis“ atas publikasi hasil penelitiannya mengenai permasalahan tersebut. „Leibniz-Preis“ adalah hadiah penghargaan Jerman yang sangat bergengsi dalam bidang ilmu pengetahuan untuk para peneliti yang berprestasi tinggi.

Bayi yang baru lahir langsung menyimpan semua yang dikatakan oleh ibu, bapa, tante dan pamannya ke dua tempat atau katakanlah ke semacam dua laci. Kata-kata yang berulang kali didengar oleh bayi dimasukkan ke dalam laci pertama dan kata-kata lainnya atau yang jarang didengar dimasukkan ke laci lainnya. Setiap bahasa misalnya, memiliki melodi bahasa yang karakteristik. Para pakar menamakan melodi tersebut „Prosodie“. Alunan Bahasa Prancis memang lain dari alunan Bahasa Rusia. Akan tetapi, mulai kapan bayi dapat membedakan alunan itu? Peneliti bahasa Angela Friederici menemukan jawaban yang mencengangkan

Angela Friederici: „Bayi berusia empat hari sudah dapat membedakannya. Ada studi yang dinamakan „sucking-Experimente“ atau eksperimen isapan. Dalam eksperimen tersebut bayi-bayi diberikan sebuah dot. Sejumlah besar penelitian menunjukkan bahwa jika bayi-bayi dengan dot itu merasa bosan, maka yang dinamakan „sucking rate“ atau jumlah isapan, menurun. Di sini, bosan berarti kalau sebuah stimulus atau rangsangan, diperdengarkan berulang kali. Namun, jika stimulus baru yang diperdengarkan, misalnya sebuah kontur prosodi atau melodi dari bahasa lain, maka „sucking rate“ kembali naik. Dan ini merupakan petunjuk bahwa bayi tersebut dapat membedakan kedua informasi akustik tadi.“

Jadi kesimpulannya, bayi terutama merasa tertarik pada sesuatu yang baru dan yang belum dikenal. Tetapi pada dasarnya, yang akan tetap teringat adalah bunyi yang selalu diulang kembali, yaitu bunyi dari bahasa ibu. Sisanya akan terdesak dan terlupakan oleh seorang anak yang berusia satu tahun. Siapa yang ingin membina potensi ini, dia harus berbicara dengan bayi dalam berbagai bahasa. Dan ini harus dilaksanakan dari hari pertama, ketika memasang baju, menyuapi, bermain dan pada semua aktivitas lainnya yang dilakukan dengan bayi bersangkutan.

Tetapi harap dicatat, bahasa dan pemakainya jangan dicampur aduk. Artinya, satu orang hendaknya hanya mempergunakan satu bahasa yang sama dengan bayi itu. Misalnya, ibu yang selalu berbahasa Jerman dan bapak yang selalu berbahasa Inggris dengan anaknya. Dan peranan ini jangan ditukar-tukar. Dengan demikian, tanpa mengalami kesulitan anak akan tumbuh dalam dua atau bahkan multibahasa. Anak-anak sudah tentu akan membuat kesalahan dalam semua bahasa. Namun, kesalahan adalah bagian dari sebuah proses belajar.

Dalam hal ini, membuat kesalahan lebih baik ketimbang tidak mempergunakan bahasa kedua. Menunda pelajaran bahasa kedua sampai anak pergi ke sekolah, juga diyakini tidak ada gunanya. Angela Friederici menjelaskan:

Angela Friederici: „Ada pendapat yang mengatakan bahwa saya hanya bisa menjadi seorang bilinggual atau pengguna dua bahasa yang sempurna jika saya mempelajarinya sejak berumur enam tahun. Setelah umur itu memang saya masih bisa menjadi „very proficient“ atau sangat fasih, tetapi meskipun demikian dalam sebuah tes yang rumit saya dapat melihat bahwa bahasa utama atau bahasa ibu, bekerja lebih cepat daripada bahasa kedua atau bukan bahasa ibu, juga dalam proses di otak. Semakin tua, semakin sulit untuk mempergunakan parameter prosodis dan parameter fonologis secara benar.“

Maksudnya, semakin tua semakin sulit untuk mengujarkan melodi dan bunyi yang benar dari bahasa yang bukan bahasa utama. Hampir semua orang mengenal fenomena ini: Barang siapa yang tidak tumbuh multilinggual segera dapat dikenal sebagai „orang asing“ begitu orang bersangkutan mulai membuka mulutnya atau berbicara.

Sudah tentu ada orang yang menguasai bahasa asing seolah-olah dia dibesarkan dengan bahasa tersebut. Namun, gejala ini merupakan pengecualian. Masalahnya: bunyi atau nada kata yang tidak dikenal, dan melodi bahasa adalah seni tersendiri. Selain itu, kosakata dan nuansa tata bahasa acap kali tidak dikuasai. Sedangkan kalau kita mendengarkan sebuah kalimat, yang pertama-tama dianalisa otak adalah tata bahasa, dan bukan arti dari kata-kata. Hal ini telah disimpulkan Angela Friederici dalam studinya mengenai proses pengolahan bahasa, beberapa waktu yang silam.

Sekarang Friederici adalah direktur bagian neuro-psikologi di Max-Planck-Institut untuk ilmu pengetahuan kognisi dan neurologi. Sembilan tahun yang lewat dia menerima penghargaan “Leibniz-Preis” yang diberikan oleh Perhimpunan Peneliti Jerman. Hingga kini dia masih antusias atas dampak penerimaan hadiah tersebut.

Angela Friederici: “Hadiah itu saya terima pada tahun pertama ketika saya di sini, di Leipzig dan mulai membangun institut ini. Di sini semuanya disediakan dan saya mendapat kesempatan untuk menginvestasikan uang hadiah “Leibniz” ke dalam proyek-proyek pembinaan peneliti muda. Semua yang menerima uang “Leibniz”, kini mempunyai kedudukan. Ada beberapa yang tidak lama lagi bisa menjadi profesor.”

Sekarang, belajar bahasa asing di jerman dimulai di sekolah dasar. Di kebanyakan negara Uni Eropa ada tren untuk menawarkan mata pelajaran dalam bahasa asing tselain pelajaran bahasa yang secara tradisional memang sudah diberikan. Jadi, bahasa asing ini ditawarkan dalam mata pelajaran nonbahasa. Para siswa misalnya, tidak hanya berbicara bahasa Prancis dalam mata pelajaran Bahasa Prancis, tetapi juga dalam pelajaran Geografi atau Sejarah. Dan siapa yang belajar bahasa asing dalam usia dewasa juga harus cepat-cepat belajar dan yang dipelajari tidak hanya terbatas pada kalimat seperti “nama saya...”, “saya tinggal di...” dan “sampai jumpa lagi”:

Angela Friederich: “Dalam pekerjaan biasanya orang merasa harus langsung mengungkapkan pemikirannya mengenai masalah-masalah yang sangat rumit ke dalam bentuk bahasa. Kami pernah melakukan sebuah eksperimen di mana kami memberikan kursus mini Bahasa Jepang kepada sebuah kelompok. Saya kira yang diberikan hanya empat kata benda, empat kata kerja, dua kata sifat, dan dua kata depan untuk kata benda. Dan kursus mini ini membawa hasil yang memuaskan. Setelah itu para siswa tersebut dapat mengatakan dengan sangat baik, apakah sebuah kalimat yang didengarnya benar atau salah. Meskipun training itu hanya berlangsung seminggu dan setiap harinya hanya beberapa jam saja.”