Keluarga Pengganti Bagi Yatim Piatu | Seri Uni Jerman | DW | 09.05.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Seri Uni Jerman

Keluarga Pengganti Bagi Yatim Piatu

Sebuah program sosial bagi yatim piatu di Rusia dan Kenya. Anak-anak tersebut dikenalkan pada konsep hidup di tengah keluarga.

Sandra, seorang anak yang tinggal di SOS - Desa Anak-anak

Sandra, seorang anak yang tinggal di SOS - Desa Anak-anak

Tidak seorang anak pun di dunia ini yang ingin menjadi yatim piatu. Peperangan, kemiskinan, dan masalah sosial lainnya menyebabkan berjuta-juta anak di bumi tidak bisa menikmati indahnya hidup bersama ayah dan ibu. Ada yang beruntung, dapat diasuh oleh nenek, kakek atau paman dan bibi. Tapi banyak anak yang tidak mengetahui satu pun keluarga dekat dan jauhnya. Sebagian besar anak-anak tersebut harus tinggal di panti-panti asuhan. Mari kita ikuti beberapa anak yatim piatu yang dapat menikmati hidup di tengah keluarga, walau pun bukan keluarga kandung mereka.

Lebih dari 650 anak di Rusia terpaksa hidup tanpa kasih sayang orang tua. 60 persen dari mereka tinggal di panti-panti asuhan. Setiap tahunnya sekitar 15 ribu anak meninggalkan panti asuhan untuk memulai hidup baru mereka sebagai orang dewasa. Hal yang tidak mudah, karena mereka tidak pernah tinggal dalam keluarga. Sebuah alternatif ditawarkan bagi anak-anak malang tersebut untuk dapat mengenyam indahnya tinggal bersama keluarga, dikasihi dan disayangi. Enam sampai delapan anak diasuh oleh pasangan pembimbing, dididik, dicintai dan dikasihi seperti layaknya anak kandung. Kita kunjungi Ivan, remaja berusia 16 tahun yang sedang merawat kelinci-kelincinya:

„Inilah beberapa kelinci dan anak kelinci. Yang ini betina dan yang hitam itu jantannya…“

Ivan memiliki cita-cita yang sederhana:

“Saya ingin sekali mengelola peternakan, dan tentu saja memelihara kelinci. Saya senang sekali kelinci:”

Sejak dua tahun lalu Ivan tinggal di rumah “Boldino”. Sebentar lagi Ivan harus meninggalkan rumah itu dan memulai hidup mandiri. Dan itu tidak akan sulit baginya karena Ivan belajar banyak hal di rumah “Boldino”. Di rumah itu, Ivan dan enam anak yatim piatu lainnya diasuh oleh pasangan pendidik dan mereka diajarkan banyak hal sebelum memulai hidup mandiri.

Rumah “Boldino” merupakan satu dari tiga rumah pengasuhan anak yatim piatu di daerah Vladimir, 180 kilometer dari Moskow. Sebuah konsep keluarga yang ditawarkan bagi anak-anak yatim piatu oleh yayasan amal yang bernama “Nadezhda”, yang berarti “Harapan.” Proyek ini sudah berjalan sekitar enam tahun. Konsep yang ditawarkan adalah meringankan beban psikologis remaja yatim piatu yang akan meninggalkan panti asuhan dan memulai hidup mandiri. Elena Charitonova, wakil dari Yayasan “Nadezhda” menjelaskan beberapa hal yang tidak diajarkan di panti asuhan biasa di Rusia:

“Misalnya, anak-anak tidak diizinkan untuk membersihkan kakus karena ada pegawai panti asuhan yang mengerjakannya. Masak dan banyak hal lainnya juga tidak diizinkan. Begitu si anak meninggalkan panti asuhan, dia bahkan tidak tahu cara membuka kaleng makanan. Jelas saja, karena dia tidak pernah melakukannya. Mereka juga tidak tahu apa itu sewa rumah dan biaya tambahannya. Dan tidak ada pemimpin panti asuhan memperhatikan hal seperti itu.”

Setelah masalahnya diketahui dan dipelajari, tercetus solusi bahwa anak-anak yang beranjak dewasa tersebut harus dikenalkan dengan kehidupan dalam keluarga. Akhirnya berdirilah pusat-pusat pengasuhan dengan konsep keluarga.

Tatjana Mironovitch bekerja dengan suaminya Nikolai di rumah “Boldino” untuk remaja putra. Tujuh remaja putra dan dua orang dewasa tinggal di rumah bertingkat dua di desa Andreevskoye yang sengaja dibeli oleh Yayasan “Nadezhda”. Profesi utama Tatjana dan Nikolai adalah guru bimbingan dan penyuluhan. Tapi tak hanya itu. Di rumah “Boldino” pasangan Mironovitch itu berperan sebagai orang tua. Setiap saat Tatjana dan Nikolai ada untuk ketujuh anak asuhannya, sebagai tempat bertanya, tempat mengadu dan berbagi kebahagiaan. Selain itu tujuh remaja putra yang tinggal di rumah “Boldino” belajar untuk saling menghargai. Tatjana Mironovitch mengatakan:

“Remaja-remaja itu mulai tinggal dengan kami ketika masuk kelas 10 untuk pengenalan sosial. Dalam masa tersebut kami mengajari mereka masak, mencuci, membersihkan rumah, mengelola uang, bekerja di kebun dan memelihara binatang.”

Hal terpenting bagi remaja-remaja pria itu adalah hidup bersama dengan laki-laki dewasa. Di Rusia, hampir seluruh pekerja panti asuhan adalah perempuan. Nikolai Mironovitch berperan sebagai panutan dan membantu pekerjaan rumah. Nikolai mengajari semua hal yang dikuasainya. Nikolai dan tujuh anak asuhannya membangun lumbung, merapikan gudang dan membuat banyak mebel.

Tapi tidak semua anak yatim piatu di Rusia dapat bermukim di tempat seperti rumah “Boldino”. Kesulitan dana adalah masalah utamanya.

Sekarang, mari kita kunjungi Buru-buru, sebuah kawasan pemukiman padat dan industri di ibukota Kenya, Nairobi. Di tengah rumah-rumah yang berdempetan dan pabrik-pabrik yang mengepulkan asap industri, terdapat desa mungil, asri dan terawat. Rumah-rumah kecil, taman kanak-kanak, klinik, balai remaja, lapangan bermain anak-anak dan sebuah pohon besar merupakan isi desa tersebut. Di dalam salah satu rumah mungil terdengar suara-suara:

Mary, Sheillah, dan Mama Mwende sedang mencuci piring bekas sarapan tadi pagi. Mary dan Sheillah sangat senang karena sebentar lagi berangkat ke sekolah.

Mama Mwende bertanya, Mary dan Sheillah mau makan apa malam ini. Keduanya menjawab nasi dan kacang polong. Mary dan Sheillah kemudian bergegas mengangkat tas mereka dan berangkat.

Desa tersebut adalah salah satu desa SOS-Kinderdorf atau Desa Anak-anak. Penggagas SOS Kinderdorf adalah mendiang Hermann Gmeiner dari Austria. Ide SOS Kinderdorf adalah mengumpulkan anak-anak korban perang dunia kedua untuk hidup dan diasuh dalam sebuah keluarga. Saat ini lebih dari 57 ribu anak dan remaja di 132 negara tinggal di desa anak-anak.

Di desa anak-anak Nairobi, 147 anak tinggal di 16 keluarga. Salah seorang kepala keluarganya adalah Mama Mwende. Sebenarnya, Grace Okode adalah nama Mama Mwende. Dan Mwende adalah nama anak termuda yang diasuh Mama Mwende.

„Waktu saya pertama kali masuk rumah ini, dia juga datang. Akhirnya saya ingin dipanggil Mama Mwende, karena dia adalah anak yang termuda.“

Grace Okode ingin dipanggil sebagai Mama-nya Mwende, sesuai tradisi Afrika. Ketika baru tiba di rumah itu, Mwende masih bayi, kurang gizi dan menderita infeksi paru-paru. Sekarang ibu dan anak itu tengah duduk di dapur dan bersantai.

Tapi Mama Mwende masih menemukan kesulitan.

„Yang paling sulit adalah ketika ada anak baru. Berkenalan, mereka harus saling membiasakan diri. Itu memerlukan waktu.“

Masalah lain yang biasanya ditemukan adalah ketika mereka beranjak remaja dan memiliki banyak pertanyaan.

„Mereka ingin tahu siapa sebenarnya mereka dan dari mana mereka berasal. Itu dapat menimbulkan krisis besar.“

Tak terasa, hari sudah siang. Mary pulang sekolah.

Mary kemudian ke kamarnya dan berganti baju. Lalu kembali ke Mama Mwende di dapur. Tak lama kemudian datang Moses dari sekolah.

Hari menjelang sore. Anak-anak berlarian ke lapangan untuk bermain sepakbola.

Dan di sore itu, duduk Mama Mwende dan puteri terkecilnya, menonton anak-anak bermain sepakbola. Seperti layaknya sebuah keluarga.