Ogah Divaksin, Kelompok Anti-Vaksin Ancam Para Dokter di Jerman | JERMAN: Berita dan laporan dari Berlin dan sekitarnya | DW | 15.11.2021

Kunjungi situs baru DW

Silakan kunjungi versi beta situs DW. Feedback Anda akan membantu kami untuk terus memperbaiki situs DW versi baru ini.

  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Wabah Corona

Ogah Divaksin, Kelompok Anti-Vaksin Ancam Para Dokter di Jerman

Tenaga kesehatan di Jerman harus menghadapi agresi dan ancaman dari kelompok penentang vaksin. Selain itu, kelelahan dan rasa frustasi akibat pandemi meningkatkan ketegangan antara pasien dan tenaga medis.

Dilaporkan kelompok anti-vaksin di Jerman semakin bertindak agresif

Dilaporkan kelompok anti-vaksin di Jerman semakin bertindak agresif

Dilaporkan terdapat peningkatan pelecehan yang dialami para dokter di Jerman di klinik mereka. Para dokter juga menerima ancaman kekerasan yang dikirim melalui surat dari kelompok anti-vaksin di seluruh negeri.

Sejumlah organisasi dokter yang dihubungi DW pekan lalu melaporkan suasana agresif dan ketegangan di banyak klinik di Jerman. Ini terjadi ketika pandemi virus corona mencapai tingkat infeksi yang belum pernah terjadi sebelumnya di negara itu. Pada hari Kamis (11/11) pekan lalu, Jerman melaporkan jumlah kasus baru tertinggi dari negara mana pun di dunia, dengan mencatat 50.377 kasus.

Salah satu laporan yang paling mengkhawatirkan datang dari negara bagian timur Sachsen, di mana mencatat tingkat kejadian 7 hari infeksi baru tertinggi (569 per 100.000 penduduk) dan tingkat penyerapan vaksin terendah (hanya 57% dari populasi Sachsen yang sepenuhnya divaksinasi). Di seluruh Jerman, 67,5% populasi saat ini telah divaksinasi.

"Agresi dan ekstremisme di antara orang-orang telah menjadi jauh lebih buruk," kata Erik Bodendieck, Ketua Asosiasi Medis Sachsen dan dirinya sendiri seorang dokter umum. "Beberapa dokter bahkan menerima ancaman pembunuhan."

Bodendieck mengatakan dia sendiri sudah terbiasa menerima ancaman karena perannya sebagai ketua asosiasi. "Ini adalah email di mana saya diserang secara pribadi, di mana saya diancam dengan tindakan hukum," katanya kepada DW. "Dan ada surat yang mengatakan hal-hal seperti: 'Kalian semua harus dieksekusi.' Hal semacam itu."

"Kemarin saya menyerukan wajib vaksin, dan terlepas dari semua dukungan di media sosial, saya yakin penentang vaksin akan bermunculan lagi," tambah Bodendieck, sebelum mengatakan dia khawatir beberapa dokter di Sachsen bahkan mungkin memutuskan untuk tidak memberikan vaksin, sebagian karena takut akan ancaman.

Diperkirakan sebanyak 15 juta orang di Jerman menolak divaksin

Diperkirakan sebanyak 15 juta orang di Jerman menolak divaksin

Amarah para pasien

Ulrike Schramm-Häder, juru bicara Asosiasi Medis Thüringen, mengatakan 25 dokter telah melaporkan menerima surat ancaman. "Surat-surat itu terutama mengatakan bahwa vaksinasi itu berbahaya dan menuduh para dokter melakukan eksperimen pada manusia," katanya kepada DW.

Schramm-Häder, yang tak luput menerima surat semacam itu meski dia bukan yang bertugas memberikan vaksin, mengatakan bahwa para pengirim surat kadang-kadang menuliskan soal teori konspirasi. Ada yang percaya bahwa terdapat kekuatan bayangan yang mengendalikan pemerintah federal, tetapi ada juga orang yang menolak begitu saja tanpa alasan. Mereka yang menentang vaksin sampai menelusuri nama lengkap hingga alamat para dokter.

Namun, kejadian ini bukan hanya tentang masalah surat ancaman semata. Suasana sehari-hari di banyak klinik di Thüringen juga menjadi tegang. Asosiasi Medis Thüringen mengadakan konferensi pada bulan September lalu di mana beberapa dokter melaporkan pertemuan dengan pasien yang marah di klinik mereka.

"Kadang-kadang pasien bereaksi sangat agresif terhadap pertanyaan normal, seperti tentang status vaksinasi mereka. Itu hanya sesuatu yang perlu diketahui dokter," kata Schramm-Häder.

Beberapa dokter memilih untuk mengajukan tuntutan atau melaporkan surat ancaman kepada polisi, tetapi ada juga yang hanya mengabaikan ancaman tersebut. Seperti banyak asosiasi medis di Jerman, asosiasi Thüringen merilis pernyataan yang mengutuk perilaku tersebut, menekankan pentingnya vaksinasi, dan mengatakan bahwa dokter bertanggung jawab atas kesehatan karyawan mereka dan pasien lain yang menunggu di ruang tunggu.

Tak terpengaruh oleh agresi dan ancaman

Beberapa asosiasi medis yang dihubungi oleh DW telah mengumpulkan angka konkret tentang berapa banyak jumlah ancaman yang diterima. Kelelahan akibat pandemi, baik di antara pasien dan staf pun mengakibatkan meningkatnya ketegangan di kedua sisi.

Berlin adalah tempat dari salah satu kasus yang serius yag terjadi pada bulan Oktober, ketika sebuah klinik yang memberikan vaksin terpaksa ditutup selama beberapa hari dan menyewa pihak keamanan swasta karena adanya ancaman anonim yang dianggap sangat serius. Asosiasi Medis Berlin mengatakan bahwa identitas klinik dirahasiakan dan para dokter tidak mau berkomentar secara terbuka untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.

Ancaman tersebut sudah menjadi rutinitas, terutama bagi para dokter yang aktif mempromosikan vaksin di media sosial. Thomas Spieker, juru bicara Asosiasi Medis Niedersachsen, mengatakan tenaga kesehatan garda depan harus menanggung beban berat karena harus berdebat dengan publik yang semakin emosional tentang penanganan virus corona.

"Kadang-kadang orang menelepon ke klinik dan tampaknya salah mengira dokter sebagai pembuat kebijakan," katanya kepada DW.

Meski diancam, para dokter berkomitmen untuk tetap melaksanakan program vaksinasi

Meski diancam, para dokter berkomitmen untuk tetap melaksanakan program vaksinasi

Namun, Wolfgang Kreischer, Ketua Asosiasi Dokter Umum Berlin dan Brandenburg, tidak gentar. Dia juga telah menerima surat ancaman anonim dan memiliki pengalaman tidak menyenangkan di tempat kerja, di mana salah satu pasiennya mengatakan dia berharap semua dokter akan dihukum karena menawarkan vaksin.

Kreischer juga memperhatikan pasien yang datang untuk mendapatkan vaksin hanya karena mereka merasa terpaksa melakukannya. Mereka pun lantas mengeluh soal vaksinasi. "Mereka tidak menginginkan informasi apa pun tentang vaksin. Mereka hanya ingin mendapatkan vaksin dan pergi, dan Anda dapat mengatakan bahwa mereka melakukannya sekarang karena tekanan," katanya.

Terlepas dari ancaman-ancaman tersebut, Kreischer menegaskan bahwa dia dan timnya tetap "sangat termotivasi" dan berencana untuk melanjutkan vaksinasi.

"Sebagian besar pasien sangat bersyukur mendapatkan suntikan," katanya.

(rap/ha)

Laporan Pilihan