1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Kekuasaan Gaddafi Mulai Digugat

18 Februari 2011

Aksi protes gaya Tunisia dan Mesir menjalar dengan cepat ke negara-negara lain. Demonstrasi meluas di Libya dan Bahrain, yang selama ini kelihatan stabil.

https://p.dw.com/p/10KEK
Pemimpin Libya Muammar GaddafiFoto: picture-alliance/dpa

Harian Jerman Frankfurter Rundschau menulis:

Sejak lebih dari empat puluh tahun Muammar Gaddafi memimpin enam setengah juta rakyatnya dengan slogan-slogan revolusioner. Slogan itu dimuat dalam buku hijaunya tentang revolusi sosialisme yang disebut sebagai 'teori universal ketiga'. Banyak kelompok teror dan gerakan radikal yang dulu pernah mendapat bantuan uang dari Libya. Sekarang, setengah dari persediaan minyak Libya sudah terpakai. Selain Aljazair, tidak ada negara Arab lain yang begitu royal menghabiskan sumber alamnya seperti Gaddafi dan para pendukungnya. Rejim Libya sekarang mengalami aksi protes Hari Kemarahan, dan langsung bereaksi dengan menembak para demonstran. Tapi aksi-aksi demonstrasi kemarahan selanjutnya akan muncul. Masa jaya sang penguasa, dengan masa jabatan terlama di dunia, mungkin tidak lama lagi akan berakhir.

Harian Austria Der Standard berkomentar:

Sejak 42 tahun, Gaddafi mampu bertahan di kursi kekuasaan. Tidak hanya karena ia menindas perlawanan dengan brutal, sebagaimana diyakini di barat. Ia memang melakukan itu. Namun ia juga adalah seorang yang pandai mencari keseimbangan dan melayani berbagai kelompok kepentingan. Di Libya ada banyak suku, dan penghasilan dari bisnis minyak banyak membantu. Gaddafi berhasil melalui masa-masa kritis tahun 1990-an. Ketika itu, warga Libya belum punya perspektif untuk membebaskan diri dari penindasan. Tapi setelah Tunisia dan Mesir, situasinya lain.

Harian liberal kiri Spanyol El Pais menyoroti perkembangan politik di Bahrain dan menulis:

Gejolak politik di Bahrain akan punya dampak geopolitik yang besar. Negara teluk yang kecil ini adalah pusat keuangan untuk kawasan regional itu. Bahrain merupakan pengikut setia monarki di Arab Saudi dan menjadi lokasi pangkalan militer Amerika Serikat. Washington saat ini menghadapi keputusan berat. Presiden Amerika Serikat Barack Obama bisa mendukung rejim yang berkuasa untuk melindungi kepentingan Amerika Serikat, atau ia menerima perubahan dan membiarkan perkembangan politik di Bahrain mengalir sendiri. Opsi yang kedua adalah yang lebih santun. Tapi itu berarti, Amerika dan Eropa mengakui bahwa politik yang dijalankan selama ini sudah gagal. Selama puluhan tahun, barat menganggap kawasan ini mengalami pembekuan politik. Tapi sekarang warganya, yang selama ini dikenal pasif, berjuang membela martabatnya.

Harian Prancis La Press de la Manche berkomentar:

Kobaran api perlawanan di dunia Arab makin lama makin luas. Juga di tempat-tempat yang dulu dianggap tidak mungkin. Revolusi di Tunisia menjalar dengan cepat ke luar negeri. Rakyat di berbagai negara bergerak. Ini adalah efek domino kemarahan. Orang berdemonstrasi di Bahrain, sebuah emirat kecil yang selama ini sangat kuat dan damai. Di Libya juga terjadi kerusuhan. Polisi tidak ragu-ragu bertindak dengan keras. Memang betul, Libya sejak 42 tahun diperintah oleh Gaddafi tanpa pembagian kekuasaan. Ia mengatakan, Libya tidak perlu pemilihan umum, rakyat Libya tidak perlu pemerintah. Karena rakyat sudah memerintah dirinya sendiri. Namun ternyata, sebagian penduduk Libya tidak setuju dengan optimisme ini.

Hendra Pasuhuk/dpa/afp
Editor: Kostermans