Kekhawatiran Janji Palsu G8 Heiligendamm | dunia | DW | 21.05.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Kekhawatiran Janji Palsu G8 Heiligendamm

Konferensi Tingkat Tinggi G8 di Heiligendamm baru akan berlangsung bulan Juni mendatang. Namun, berita menjelang pertemuan tersebut semakin hari semakin banyak.

Satu hal yang tidak diinginkan oleh Tayudeen Abdul Raheem, pejabat khusus PBB bagi kampanye millenium di Afrika adalah rencana Afrika yang baru dan janji-janji muluk G8 bagi negara-negara miskin di Afrika saat konferensi tingkat tinggi G8 mendatang di Heiligendamm. Namun, Abdul Raheem sebenarnya yakin bahwa kemiskinan di dunia sebenarnya dapat dikurangi.

„Jika kemungkinan yang ada dilihat dari segi teknis, kemungkinan yang diberikan oleh manusia dalam beberapa tahun terakhir. Banyak sekali kemungkinan untuk menolong bagian dunia yang menderita kelaparan. Ada cukup banyak bahan pangan untuk semua. Ini hanya masalah usaha dari segi politik.“

Usaha politik juga kurang dari negara pemberi bantuan. Janji yang tercetus dalam KTT G8 di Gleneagles tahun 2005 masih harus ditepati. Saat itu G8 berjanji untuk melipatgandakan dana bantuan bagi Afrika hingga tahun 2010, dari 25 milyar Dolar Amerika menjadi 50 milyar Dolar Amerika. Lembaga non pemerintah seperti Oxfam mengeritik bahwa janji tersbeut tidak ditepati. Namun, menteri pembangunan Uni Eropa baru-baru ini mengumumkan bahwa dana bantuan sasaran internasional bagi tahun yang telah lewat melebihi angka yang disepakati sebelumnya. Dua berita yang saling bertolak belakang. Berita manakah yang benar? Berikut komentar Renee Ernst, pejabat khusus PBB bagi kampanye Milennium di Jerman.

„Menurut angka resmi dan sesuai dengan rencana tahapan Uni Eropa, Jerman memang tidak tertinggal. Namun, ini adalah angka resmi yang kalau benar-benar diperhatikan dibaliknya tersembunyi angka seperti penghapusan hutang Nigeria atau Irak atau biaya kuliah mahasiswa asing. Jika ini turut dihitung, maka kami berada di bahwa 0,23 persen dan ini jauh di bawah tuntutan sebenarnya.“

Ernst menambahkan bahwa pemilihan negara yang mendapatkan bantuan kadang tidak berdasarkan tingkat kemisikinan negara tersebut melainkan karena alasan politis. Seperti misalnya lima negara pertama yang menerima bantuan pembangunan dari Jerman adalah bukan negara miskin melainkan negara dengan tingkat pendapatan kelas menengah. Menurut Ernst ada perbedaan yang nyata antara kata-kata dan perbuatan. Tayudeen Abdul Raheem pejabat khusus PBB bagi kampanye millenium di Afrika sependapat dengan Ernst.

„Sayangnya, hasil konkrit G8 yang lalu sangatlah tidak jelas. Jarang kesepakatan tersbeut ditepati. Jika pembebasan hutang tidak dihitung, maka dana bantuan pembangunan menurun. Bagi Jerman ada dua hal yang saya inginkan. Pertama, tidak ada janji-janji lagi. Dan kedua tepatilah janji yang telah disepakati sebelumnya.“

Iklan