Kekerasan di Irak Terus Berlanjut | Fokus | DW | 05.02.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Kekerasan di Irak Terus Berlanjut

Rangkaian kekerasan terbaru yang melanda Irak menjadi sorotan berbagai harian internasional.

default

Harian Italia La Repubblica yang terbit di Roma berkomentar:

"Jika orang mempercayai para ahli, neraca mengerikan dari tewasnya 1.000 orang dalam waktu satu minggu, yang diumumkan Kementrian Dalam Negeri Irak, bukan hanya meningkatkan ketakutan, melainkan juga menegaskan tahap kekerasan yang lebih berdarah. Oleh karena itu tidak mengejutkan, kalau pimpinan militer Amerika Serikat bertindak cepat untuk menyusun sebuah komando militer yang terpadu di Bagdad untuk menghindari pertumpahan darah lebih lanjut.

Jendral William Caldwell, juru bicara angkatan bersenjata Amerika Serikat, diharapkan untuk mengumumkan perubahan penting dalam taktik militer Amerika Serikat dalam waktu dekat. Sejak 2003 lusinan helikopter tertembak jatuh, kebanyak diserang dengan roket. Tetapi kehilangan 4 helikopter dalam waktu 14 hari saja, seperti yang sekarang terjadi, membutuhkan sebuah penyesuaian strategi militer.“

Harian Prancis Libération yang terbit di Paris juga berkomentar mengenai serangan terbaru di Bagdad. Harian ini menulis:

"Diperlukan sebuah kebencian yang luar biasa hebatnya untuk memenuhi sebuah truk dengan satu ton bahan peledak dan dengan berdarah dingin meledakkannya di sebuah kawasan perdagangan ramai, yang dihuni oleh kelompok lawan. Presiden Amerika Serikat George Bush masih mencoba dengan aksi militer terakhir untuk mencari jalan keluar yang terhormat. Tetapi ia terbentur pada kurangnya pemecahan politis di Irak sendiri. Gagasan Washington untuk menciptakan 'kerukunan nasional’ atau untuk 'memberikan semangat kepada rakyat Irak agar bersedia berkompromi’ terutama digunakan untuk menutupi kebuntuan strategi dengan cara politis. Tentara Amerika diceburkan ke kancah peperangan, tetapi terutama rakyat sipil Irak lah yang harus membayar tinggi untuk kegagalan ini.“

Tema lain yang juga disoroti oleh harian-harian internasional adalah tema perlindungan iklim. Harian Jerman Tagesspiegel berkomentar:

"Memang benar asap buangan industri hanya akan turun, jika diterapkan undang-undang yang mengatur hal itu. Tetapi seruan perubahan politik menutupi, bahwa bukan hanya pabrik-pabrik saja yang menjadi masalah utamanya, melainkan gaya hidup kita sendiri. Tidak ada yang dipaksa untuk menjemput anaknya dari penitipan anak dengan mobil Range Rover atau belanja ke London dengan pesawat terbang. Dan politik juga tidak dapat berbuat apa-apa kalau kita sebagai konsumen tidak mau membeli mobil hemat energi ketika industri mobil menawarkannya. Seperti yang dikatakan Kennedy, orang seharusnya tidak hanya bertanya apa yang dapat dilakukan negara, Uni Eropa atau PBB untuk perlindungan iklim, tetapi apakah kita masing-masing siap melakukan perubahan.“

Sementara itu harian Inggris Independent berkomentar tentang konsekuensi laporan iklim dunia terhadap industri mobil. Harian ini menulis:

“Produsen mobil Eropa, yang didominasi oleh Jerman, telah mengembangkan berbagai mobil bermesin hybrid yang cukup efektif untuk menurunkan emisi karbondioksida. Tetapi karena berbagai alasan, yang terutama berhubungan dengan citra mereknya, para produsen ini ragu-ragu untuk memasarkan mobil-mobil ini. Mereka lebih memilih untuk mempertahankan citranya sebagai pemasok mobil dengan model-model mobil yang secara tradisi tergolong mewah. Dengan begitu Jepang dapat merebut pangsa pasar dari saingan-saingannya yang lamban dan penakut.”