1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Kehidupan Pengungsi Ilegal di Italia

Kirstin Hausen18 Oktober 2013

Penjaga pantai Italia sudah menyelamatkan banyak pengungsi yang menyeberang dari Afrika. Tapi di italia, para pengungsi ilegal menghadapi banyak kesulitan.

https://p.dw.com/p/1A2Ax
Pengungsi di Lampedusa
Pengungsi di LampedusaFoto: picture-alliance/dpa

Banyak pengungsi ilegal dari Afrika yang tenggelam karena kapalnya karam di tengah laut. Tapi arus pengungsi tetap tidak berhenti. Kalau berhasil sampai ke Italia, mereka akan ditahan di tempat penampungan pengungsi yang sudah penuh sesak. Bagi wartawan, sangat sulit mendapat ijin masuk ke tempat seperti itu.

Uni Eropa menjanjikan bantuan 30 juta Euro bagi Italia untuk menangani kedatangan pengungsi ilegal. Menteri Luar Negeri Angelino Alfano menyambut bantuan itu. Ia berulangkali menegaskan, masalah pengungsi ilegal "bukan masalah Italia, melainkan masalah Eropa".

Menurut aturan yang berlaku, para pengungsi ilegal sebenarnya hanya akan ditahan beberapa hari, lalu dikirim kembali ke negara asalnya. Tapi kenyataannya, ada yang tinggal sampai berbulan-bulan di tempat itu. Aturan Italia bagi pendatang asing cukup ketat. Para pendatang tidak akan mendapat ijin tinggal, kecuali kalau mereka bisa mendapat kontrak kerja.

Organisasi bantuan Italia mengeritik praktek birokrasi ini karena tidak realistis. Sebab tidak mungkin ada majikan yang mau memberi pekerjaan kepada seseorang yang belum pernah mereka temui dan berasal dari Mali atau Eritrea.

Pengungsi yang sampai ke Italia biasanya berusaha menyembunyikan diri dan menunggu kesempatan untuk melanjutkan perjalanan ke Eropa Utara. Banyak pengungsi ilegal yang melarikan diri dari tempat penampungan pengungsi.

Yang Untung Sindikat Perdagangan Manusia

Diperkirakan ada ratusan ribu pengungsi ilegal yang sekarang berada di Italia, Perancis, Jerman, Belanda dan Belgia. Karena tidak terdaftar, pemerintah setempat tidak mampu mengurus atau membantu mereka. Tapi mereka tetap perlu makan dan tempat untuk tidur. Yang untung adalah sindikat perdagangan manusia.

Di kota Milan, Italia, banyak pengungsi yang tinggal di bawah jembatan, di pabrik-pabrik tua yang kosong atau di tempat pembuangan mobil tua.

Misalnya Khaled yang berusia 42 tahun dan berasal dari Tunisia. Ia sudah tinggal selama dua tahun di sebuah mobil rusak. Semua barang-barang berharga miliknya disimpan di bagasi mobil. Pakaiannya terlipat rapi di kursi belakang.

Khaled pernah tinggal selama delapan bulan di penampungan pengungsi di Pulau Lampedusa. Setelah itu ia dipindahkan ke penampungan di daratan Italia. Ia kemudian melarikan diri dan akhirnya sampai ke Milan dan mencari kerja.

Setiap pagi ia menanti di sebuah persimpangan jalan yang sudah dipenuhi oleh pendatang gelap lain dari Afrika. Ia selalu membawa sebotol air dan dua potong roti. Mereka menunggu mobil yang lewat pelahan-lahan. Itu biasanya "Caporali", orang yang mencari tenaga kerja gelap. Mereka melihat dulu dari jauh, kemudian menentukan siapa yang akan diajak pergi.

"Ini adalah pasar budak di Milan", kata Franco de Alessandri, pengurus Serikat Buruh. Dia sudah merekam pemandangan di persimpangan jalan itu dengan video dan menunjukkannya kepada polisi. Tapi polisi tidak melakukan apa-apa.

"Orang-orang ini tidak punya ijin kerja dan tidak punya hak apa-apa. Mereka akan diperas habis-habisan", kata de Alessandri. Mereka akan dipaksa bekerja sepanjang hari dan hanya menerima bayaran minimal sebagai pekerja gelap. Bagi para majikan, mereka adalah buruh yang murah. Bagi banyak pengungsi, pekerjaan gelap ini merupakan satu-satunya kemungkinan mencari nafkah.