Kedua Cawapres Enggan Bahas Pembengkakan Utang BPJS | INDONESIA: Laporan topik-topik yang menjadi berita utama | DW | 17.03.2019
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Debat Cawapres 2019

Kedua Cawapres Enggan Bahas Pembengkakan Utang BPJS

Debat Calon Wakil Presiden mengetengahkan isu pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, sosial dan budaya. KH. Ma'ruf Amin dan Sandiaga Uno gagal menjawab pembengkakan utang BPJS dan malah menjanjikan peningkatan layanan.

Debat kali ini juga menghadirkan komite damai yang bertugas menengahi kisruh selama debat. Komisi dibentuk menyusul viralnya ujaran Presiden Joko Widodo soal kepemilikan tanah Prabowo Subianto pada debat sebelumnya.

Dalam pernyataan pembukanya, cawapres 01 Ma'ruf Amin memastikan Jaminan Kesehatan Nasional akan berlanjut. Dia berusaha menekankan dukungan pemerintah bagi perbaikan situasi kaum muda, antara lain melalui pengadaan Kartu Kuliah dan Kartu Pra-Kerja, serta menambah program beasiswa hingga ke tingkat perguruan tinggi, "supaya anak anak miskin bisa kuliah, supaya ibu-ibu bisa berbelanja dengan murah dan supaya mudah untuk mendapatkan kerja," ujarnya.

"Kalian jangan takut untuk bermimpi, Jangan takut bercita-cita. Orangtua tidak perlu khawatir akan masa depan anaknya. Jangan takut dan jangan sedih karena sekarang telah hadir dan negara akan terus hadir membantu kalian."

Ma'ruf Amin juga berjanji akan menuntaskan masalah pembekakan utang Badan Penyedia Jaminan Sosial (Kesehatan) yang kian kritis. Hal ini direncanakan akan tuntas selama 200 hari pertama kekuasaan Joko Widodo-Ma'ruf Amin.

Adapun Sandiaga Uno yang bertindak serupa seperti yang diperkirakan pengamat. Saat mengucapkan selamat ulang tahun yang ke-76, Sandi menyapa Ma'ruf Amin dengan panggilan "abah" untuk menjunjukkan rasa hormat.

Berbeda dengan Ma'ruf, Sandiaga membidik peningkatan kualitas pendidikan melalui kesejahteraan guru, "terutama tenaga honorer." Dia juga berjanji pemerintahan Prabowo Subianto akan merombak kurikulum agar memberikan fokus pada "pembangunan karakter dan akhlakul Karimah." Sandiaga juga menegaskan akan menghapus sistem Ujian Nasinal dan menggantinya "dengan penelusuran minat dan bakat."

Dia berjanji akan mengadakan program One Kecamatan One Central of Entrepreneurship (OK OCE) di tingkat nasional. Ironisnya program serupa yang digagas di DKI Jakarta hingga kini gagal berkembang.

Secara mengecewakan Sandiaga juga hanya berkomentar singkat soal intoleransi yang marak belakangan. Soal ini dia hanya mengatakan pihaknya akan "memastikan toleransi dan apa yang dimiliki bangsa ini menjadi fokus utama kita," sebelum membeberkan program paslon 02 di bidang budaya.

Kedua cawapres juga gagal menjawab masalah pembebakan utang jaminan kesehatan nasional, BPJS. Sebaliknya Sandiaga dan Ma'ruf Amin berniat menambahkan kualitas layanan kesehatan dan kemakmuran tenaga medis, tanpa merinci soal pembiayaan.

rzn/ap

 

Laporan Pilihan