Kedekatan Musharraf dengan Taliban Bikin AS Gerah | Fokus | DW | 02.03.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Kedekatan Musharraf dengan Taliban Bikin AS Gerah

Langkah yang dilakukan Presiden Pakistan Perves Musharraf, dalam bernegosiasi dengan Taliban, membuatnya kehilangan dukungan dari para pengambil keputusan di Amerika Serikat.

Musharraf dan Bush di Gedung Putih, 22 Sept. 2006

Musharraf dan Bush di Gedung Putih, 22 Sept. 2006

Menurut beberapa pengamat, kesepakatan yang dibuat Musharraf dengan Taliban di perbatasan Afganistan, Waziristan, malah memberi kesempatan bagi Taliban untuk mengendalikan kawasan tersebut untuk melancarkan operasi mereka di perbatasan. Fraksi Demokrat di Washington hanya dapat membantu Pakistan, dalam konteks kebijakan Anti-Taliban.

Para pengambil kebijakan Amerika Serikat menuding, Pemerintahan Pakistan yang dipimpin Musharraf tidak berbuat banyak dalam mengendalikan Taliban di kawasan perbatasan dengan Afghanistan. Selig Harrison, pemikir dari "Pusat Kebijakan Internasional“ di Washington berujar:

"Tidak ada fakta yang membuktikan bahwa agen-agen intelejen mereka sendiri mencoba menolong Taliban, namun banyak hal yang membuktikan bahwa agen-agen intelejen dan pasukan keamanan tak melakukan apapun terhadap aktivitas Taliban di pernbatasan.“

Harrison menambahkan bahwa Musharraf kurang memiliki kemauan politik dan meyakinkan melawan kelompok Muslim radikal. Sejak peristiwa aksi terorisme 11 September, Musharraf telah ditekan Amerika Serikat dan tidak punya pilihan lain, selain bekerjasama dengan Amerika Serikat dalam perang melawan terorisme. Musharraf sendiri sangat terbuka tentang hal ini. Namun dalam waktu yang bersamaan, dia juga bekerja sama secara terselubung dengan kelompok militan Islam di Pakistan. Kembali Harrison:

"Masalah utamanya adalah bahwa Presiden Pakistan Musharraf masih tergantung pada partai politik Islam di Pakistan, selain ketergantungan terhadap dukungan kekuatan pasukan bersenjata. Dan kenyataannya, ia menolong mereka untuk memperoleh kekuasaan di wilayah perbatasan. Dan saya pikir apa yang tejadi adalah kelompok-kelompok Islam ini sangat aktif bekerjasama dengan Taliban.“

Menurut perhitungan Harrison, Amerika Serikat telah merogoh kocek lebih dari 27,5 milyar Dollar AS untuk membantu Pakistan sejak peristiwa 11 September. Mayoritas Fraksi Demokrat di Kongres Amerika mengharapkan timbal balik setimpal dengan pengeluaran itu. Parlemen Amerika Serikat mengeluarkan kebjiakan bahwa bantuan Amerika Serikat terhadap Pakistan tergantung dari usaha Pakistan dalam menghentikan operasi Taliban.

"Apa yang dikhawatirkan pemerintah Amerika Serikat adalah bahwa bila Musharraf tidak lagi berkuasa, maka akan ada penggantinya. Kemungkinan penggantinya malah lebih buruk ketimbang dia. Namun saya rasa pemikiran ini tidak pada tempatnya. Saya menduga, kelompok Islam semakin kuat di bawah kepemimpinannya sebab ia bersekutu dengan mereka. Saya rasa keadaan akan berubah bila pemilihan umum dimenangkan baik oleh Benazir Butho atau Nawaz Sharif. Saya rasa tidak ada satupun dari mereka yang sudi bekerjasama dengan partai-partai Islam, seperti yang dilakukan Musharraf.“

Dua eks Perdana Menteri Pakistan di pengasingan, Benazir Butho dan Nawaz Sharif, ingin kembali bertarung memenangkan pemilu musim gugur mendatang, namun Musharraf jelas-jelas tidak membiarkan hal itu terjadi.

Harrison yakin Amerika Serikat enggan merusak hubungannya dengan badan inetelejen Pakistan, ISI. Amerika Serikat pernah menggunakan ISI untuk membantu pertahanan Afganistan melawan Uni Soviet di tahun 1980. Dan dalam situasi kawasan itu saat ini, ISI menjalankan fungsii-fungsi lain.

„Pakistan telah digunakan sebagai basis operasi keamanan khusus di sebelah timur Iran untuk membantu kelompok pengacau yang melawan pemerintahan Teheran, yang didominasi orang-orang Persia. Ini penting bagi Amerika Serikat, termasuk bagi agen Pentagon maupun intelejen Amerika CIA.“

Ketika baru-baru ini bom meledak di Iran dan menewaskan belasan anggota pasukan Garda Revolusi Iran, Pemerintah Iran menuding Amerika Serikat dan Inggris berada di balik serangan tersebut.