1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Kebijakan Luar Negeri Obama setelah Pemilu Sela

5 November 2010

Surat kabar Eropa berpendapat, dengan kekalahan Demokrat di Kongres, Obama hanya dapat bergerak menjalankan kebijakan luar negerinya. Dan Obama diharapkan dapat menunjukkan, bahwa ia masih memiliki kredibilitas.

https://p.dw.com/p/Q03n
Barack Obamadalam konferensi pers setelah hasil Pemilu Sela diumumkanFoto: AP

Mengomentai hasil Pemilu Sela di Amerika Serikat dan perjalanan kunjungan Obama ke Asia, surat kabar La Repubblica yang terbit di Roma, Italia, menulis:

"Barack Obama telah menyampaikan keinginannya untuk berunding dengan pihak Republik untuk mengakhiri kebekuan kerjasama diantara kedua partai. Akan tetapi, sebelumnya Obama melakukan perjalanan dahulu ke Asia. Ini bukan „melarikan diri“, demikian Obama menjelaskan, akan tetapi lebih kepada upaya untuk melepaskan diri dari kebuntuan ekonomi yang ada. Selain itu, kunjungan Obama di Asia diharapkan dapat memberikan satu interprestasi yang luas akan hasil pemilu yang mengejutkan ini. Karena debat dengan Republik mengenai pajak, anggaran negara serta liberalisme telah menyudutkan Obama. Yang mana Obama dituntut untuk mencari jalan keluarnya. Tuntutan yang sama bagi seluruh Amerika untuk mencari jalan keluar dari krisis ekonomi. Dan Obama memang tahu, kini Amerika Serkat tidak memiliki kemapuan yang cukup untuk dapat keluar dari masalah ini sendirian."

Surat kabar konservatif Denmark, yang terbit di Kopenhagen, Weekendavisen, mengomentari perspektif kebijakan luar negeri Amerika Serikat setelah Pemilu Sela.

"Awan kelabu bagi kebijakan politk dalam negeri Obama. Hampir tidak terdapat keajaiban bagi Obama untuk memenuhi harapan para pemilihnya. Akan tetapi ia masih bisa menjanjikan, bahwa kebijakan luar negerinya masih dapat diperjuangkan. Dalam hal ini, Obama lebih leluasa, karena tidak tergantung kepada Kongres. Akan tetapi, diperlukan waktu satu tahun sampai keluarnya satu kebijakan bagi Afghanistan. Tampkanya sudah terlambat ketika kebijakan ini dikeluarkan, sehingga membuat Taliban bersorak. Dan setelah bertahun-tahun tanpa tindakan tegas, tampaknya sangat sulit untuk menunjukkan kepada musuh-musuh Amerika Serikat bahwa Obama sekarang serius. Kita hanya bisa berharap, bahwa setidaknya Obama bisa melakukan sesuatu dalam kebijakn luar negeri. Seperti yang selalu ia katakan: Yes, we can."

Dengan sekarang berkuasanya Partai Republik di Kongres, surat kabar Le Monde yang terbit di Paris, Perancis, mengkhawatirkan:

"Amerika Serikat kini memiliki apa yang disebut „pemerintahan yang terbagi“. Di satu pihak terdapat Gedung Putih dan di pihak lain Kongres. Dan di Washington, ini merupakan konstelasi yang biasa. Di masa lalu ini tidak menyebabkan kebuntuan, ketika kedua partai besar ini masih mampu untuk saling beriringan. Akan tetapi hal ini sudah jarang terjadi. Dan sekarang dikhawatirkan, bahwa „pemerintahan yang terbagi“ ditahun 2010 ini akan menyebabkan kelumpuhan pemerintahan. Satu berita buruk. Yang terutama harus disalahkan adalah Partai Republik, yang telah menjadi partai sektarian dan menjadi gerakan dogmatis."

Sementara mengomentari Pemilu Sela di Amerika Serikat, surat kabar Austria yang terbit di Wina, Die Presse, menulis:

"Paling tidak, Demokrat masih bisa mempertahankan mayoritasnya di Senat. Dengan ini, Obama masih bisa menjalankan politik luar negerinya dengan leluasa. Kebijakan luar negeri tetap merupakan kesempatan bagi Obama untuk menunjukkan kredibilitasnya. Akan tetapi yang menentukan adalah Pemilu Presiden tahun 2012, yang kembali akan berfokus pada tema-tema kebijakan dalam negeri, terutama perkembangan perekonomian. Dan masalah ekonomi menjadi senjata ampuh bagi Republik untuk menyerang Demokrat. Meihat hal ini, skenario yang ada sekarang bukan merupakan variasi yang terburuk bagi Obama dan Partai Demokrat. Dan dilihat dari perspektif saat ini, hasil Pemilu Presiden tahun 2012 masih benar-benar terbuka.“

Yuniman Farid

Editor: Ayu Purwaningsih