RSF: Kebebasan Pers Berada di Bawah Tekanan Selama Pandemi COVID-19 | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 20.04.2021
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Kebebasan Pers

RSF: Kebebasan Pers Berada di Bawah Tekanan Selama Pandemi COVID-19

Sebuah laporan baru menyebutkan bahwa meskipun kebebasan pers di seluruh dunia dibatasi selama pandemi virus corona, jurnalisme tetap menjadi alat melawan informasi yang salah.

Pengunjuk rasa menuntut pembebasan semua jurnalis

Banyak negara di dunia menangani pandemi virus corona dengan membatasi pemberitaan media

Sebuah laporan Reporters Without Borders (RSF) yang dirilis pada Selasa (20/04) menyimpulkan bahwa pandemi COVID-19 menyebabkan peningkatan represi dan serangan terhadap jurnalis di seluruh dunia.

Pemberitaan tentang perkembangan virus corona telah dibatasi di banyak negara. "Pandemi virus corona telah memperkuat dan mengkonsolidasikan kecenderungan represif di seluruh dunia," kata Direktur Eksekutif RSF Jerman Christian Mihr kepada DW.

Namun, jurnalis masih memegang peranan penting dalam melawan disinformasi yang disebarkan oleh para pemimpin seperti mantan Presiden AS Donald Trump, Presiden Brasil Jair Bolsonaro, dan Nicolas Maduro dari Venezuela.

Jurnalisme independen merupakan "alat efektif tunggal melawan pandemi informasi yang salah," kata Mihr.

Indeks Kebebasan Pers Dunia 2021

Indeks Kebebasan Pers Dunia 2021

Kebebasan pers dirugikan di Eropa

Meski negara-negara Eropa menempati tujuh dari 10 teratas yang terdaftar oleh RSF dalam Indeks Kebebasan Pers Dunia 2021, laporan tersebut juga mengungkapkan bahwa hanya tiga negara teratas yakni Norwegia, Finlandia, dan Swedia yang cukup melindungi kebebasan pers.

Laporan itu juga mengecam Inggris atas perlakuannya terhadap pendiri WikiLeaks Julian Assange, membuat negara itu turun dua peringkat. "Tempat ke-33 bukanlah posisi yang baik untuk ibu pertiwi demokrasi," kata Mihr tentang Inggris.

Laporan RSF mengutuk Yunani dan Spanyol atas upaya mereka membatasi pemberitaan tentang migran serta "keputusan politik tanpa malu-malu Perdana Menteri Hongaria Viktor Orban untuk membatasi kebebasan berbicara dan kebebasan pers."

Banyaknya insiden reporter yang diserang oleh para ahli teori konspirasi pada protes anti-penguncian membantu menurunkan skor kebebasan pers Jerman dua peringkat ke posisi 13.

Situasi berbahaya bagi jurnalis di seluruh dunia

Tidak heran apabila Belarusia dinilai buruk dalam laporan tersebut. Tercatat hingga akhir tahun 2020, lebih dari 400 jurnalis telah ditangkap di sana. Sementara itu, kebebasan pers yang dibatasi di negara Eropa Timur membuatnya meraih skor terburuk dan menempatkannya di peringkat 158 dari total 180 negara yang terdaftar.

Rusia hanya bernasib sedikit lebih baik, berada di posisi 150.

Banyak negara di Afrika mencatatkan kinerja buruk, salah satunya Eritrea yang berada di peringkat terakhir. Benua Afrika dianggap menjadi wilayah paling berbahaya bagi jurnalis.

Namun, beberapa negara mendapatkan nilai bagus karena mengalami peningkatan signifikan. Burundi melonjak 13 peringkat, menempati 147, karena telah berhasil membebaskan beberapa jurnalis yang ditangkap secara sewenang-wenang.

(ha/hp)

Laporan Pilihan