1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Kaum Muda Tunisia Berbagi Cara Hindari Kewajiban Berpuasa 

19 Mei 2020

Menyembunyikan camilan di balik bantal menjadi jurus teranyar kaum muda Tunisia menghindari kewajiban puasa di bulan Ramadan. Di media sosial mereka berbagi tips membatalkan puasa saat dikarantina bersama kedua orangtua.

https://p.dw.com/p/3cT7s
Revolusi 2011 yang menumbangkan kekuasaan diktatur Zine El Abidine Ben Ali ikut melambungkan suara kaum muda yang haus kebebasan. Menurut studi di Princeton University, jumlah kaum muda yang meninggalkan agama mengalami peningkatan.
Revolusi 2011 yang menumbangkan kekuasaan diktatur Zine El Abidine Ben Ali ikut melambungkan suara kaum muda yang haus kebebasan. Menurut studi di Princeton University, jumlah kaum muda yang meninggalkan agama mengalami peningkatan.Foto: AP

Kesenjangan antargenerasi dalam menjalankan kewajiban agama di Tunisia mencapai level baru di tengah ruang gerak yang menyusut akibat karantina saat wabah corona. Kini kaum muda mencari cara kreatif mengelabui orangtua agar bisa menghindari kewajiban berpuasa. 

Tunisia termasuk negara Arab paling moderat. Menurut studi yang digalang sebuah jejaring penelitian di Universitas Princeton 2019 lalu, jumlah kaum muda yang menjauhkan diri dari agama bertambah pesat dalam beberapa tahun terakhir. 

Fenomena tersebut dirasa mencolok terutama saat Ramadan. Menyusul aturan karantina yang memaksa mereka mengurung diri di rumah bersama orangtua, sekelompok anak muda Tunisia membuka grup di Facebook buat berbagi tips menyembunyikan makanan selama siang hari. 

Saat ini grup bernama “Fater” atau kependekan dari fast-breaker itu sudah beranggotakan 12.000 pengguna Facebook. 

Ancaman “diusir“ dan dikucilkan 

“Bagaimana cara menyembunyikan makanan di siang hari dan makan tanpa ketahuan orangtua?” misalnya tanya seseorang di linimassa grup. Ragam jawaban bermunculan, mulai dari tips agar makan ketika mandi atau jika perempuan mengaku sedang haid. 

Zahra, seorang mahasiswi berusia 23 tahun, berkisah pernah menggunakan alasan serupa untuk membatalkan puasa. Hanya saja sang ibu tidak bisa dikelabui. “Saya bilang kepada ibu saya bukan lagi seorang muslim. Tapi dia berlaku seakan tidak pernah mendengar,” tuturnya.  

Sejak dua tahun terakhir Zahra tidak berpuasa. Dia menyadari status keagamaan ikut menentukan nasib individu di Tunisia. “Banyak yang takut diusir dari rumah,“ kata dia mengomentari sikap diam mereka yang sudah menanggalkan agama. “Tapi saya tidak takut.” 

“Jika saya mengaku tidak berpuasa kepada orangtua, mereka membayangkan saya melakukan hal yang sangat buruk.” 

Polisi tegakkan kewajiban berpuasa 

Konstitusi Tunisia yang berlaku pasca revolusi 2011 sebenarnya tidak melarang konsumsi makanan atau minuman di ruang publik selama bulan Ramadan. Meski demikian polisi tetap menangkapi warga yang kedapatan terang-terangan makan atau minum di luar saat puasa, dengan dakwaan melanggar aturan “kesopanan di ruang publik.” 

Suasana hening di pusat kota Tunis di tengah karantina massal menyusul wabah corona.
Suasana hening di pusat kota Tunis di tengah karantina massal menyusul wabah corona.Foto: picture-alliance/Anadolu Agency/Y. Gaidi

Maka rumahlah yang selama ini menjadi suaka bagi kaum muda buat menghindari puasa. Tapi aturan karantina di tengah wabah corona mengurung mereka bersama orang tua, dan sekaligus merenggut oase kebebasan terakhir itu. 

“Saya takut diusir dari keluarga jika saya mengaku kepada mereka,” kata Yasmine, mahasiswi berusia 19 tahun yang tidak lagi berpuasa sejak empat tahun terakhir.  

Warga Tunisia lain, Imen, meyakini adanya “kesenjangan antargenerasi,” terutama dalam menyikapi kewajiban berpuasa. Perempuan berusia 26 tahun itu biasaya selalu menghabiskan bulan Ramadan bersama orangtuanya di kota kecil di kawasan pesisir, Nabeul. 

Dia mengaku sebenarnya ingin memberitahu keluarga perihal pilihannya untuk tidak berpuasa. “Tapi semua orang sekarag ini sedang stress berat karena lockdown.” 

“Ibu saya akan merasa sakit hati. Ayah saya tahu, tapi kami memilih tidak membahasnya,” kisa Imen. 

Menurutnya meski warga Tunisia biasa bersikap toleran, “Ramadan adalah waktu yang istimewa, di mana orang bisa merasa punya hak untuk menghakimi orang lain.” 

“Kaum muda berpandangan lain dan media tidak merefleksikan hal itu,” imbuhnya. 

Surutnya tekanan sosial di bulan Ramadan  
 
Sebelum pecahnya wabah corona, restoran atau café di ibukota Tunis masih beroperasi meski menutupi jendela luar dengan lembaran koran. Bagi sebagian orang, tekanan sosial di bulan Ramadan perlahan mereda. 

“Ayah saya tahu saya membatalkan puasa. Tapi dia berpikiran terbuka dan hanya tertawa saja,” kisah Azer, 36 tahun. Dia mengaku sudah terbiasa menyantap makanan di hadapan teman kantor yang berpuasa dan merasa “tidak lagi dihakimi.“ 

Pendiri grup Fater di Facebook, Abdedlakrum Benadballah, mengamini klaim Azer, bahwa makan di siang hari selama Ramadan “tidak lagi terlalu dianggap tabu, dibandingkan dulu.“ 

Meski demikian kebanyakan mereka yang tidak berpuasa menahan diri “tidak makan di rumah untuk menghormati keluarga.“ 

“Agak sulit menjadi seorang hipokrit,“ kata Walid, pria berusia 40 tahun yang tinggal bersama orangtua. “Saya benci kepalsuan di masyarakat: mereka yang berhubungan seksual di luar nikah, mencuri dan meminum alkohol, lalu tiba-tiba menjadi sangat agamis selama 30 hari di bulan Ramadan”, pungkas pria warga Tunisa ini. 

rzn/as(AFP)