Kasus Penculikan dan Ancaman Terhadap Jerman | Fokus | DW | 11.03.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Kasus Penculikan dan Ancaman Terhadap Jerman

Semenjak empat setengah minggu yang lalu, komisi darurat kementrian luar negeri Jerman berusaha membebaskan dua warga Jerman yang diculik di Irak.

Komisi Darurat Jerman

Komisi Darurat Jerman

Namun, hingga kini semua usaha tersebut belum membuahkan hasil. Dalam pesan video yang muncul Sabtu lalu, tampak kedua sandera, yaitu seorang perempuan berusia 61 tahun dan anak laki-lakinya. Perempuan itu sambil terisak memohon bantuan kanselir Jerman Angela Merkel. Menteri Luar Negeri Jerman Frank Walter Steinmeier mengatakan pemerintahan Jerman sangat khawatir akan nasib kedua warga Jerman itu.

„Kini kami di komisi darurat memiliki kemungkinan untuk menjadi pihak pertama yang menilai video yang dipublikasikan ini dan tentu saja kemudian para ahli yang akan menganalisanya dengan cermat.“

Sabtu lalu, Steinmeier menyatakan akan memimpin komisi darurat secara langsung. Seperti biasa, langkah-langkah yang akan diambil dalam penyelesaian masalah penculikan tidak akan diungkap oleh mereka.

„Saya yakin, anda semua mengerti bahwa saya tidak bisa mengatakan secara terperinci akan pekerjaan komisi darurat dan pihak keamanan yang bekerja sama dengan kami. Tapi Anda dapat memastikan, bahwa kami akan melakukan semua cara untuk mengembalikan kedua warga Jerman yang diculik ini kepada keluarga mereka dalam keadaan sehat.“

Perempuan dan anak laki-lakinya yang berusia 20 tahun diculik 6 Februari lalu di Bagdad. Perempuan yang menikah dengan seorang profesor ilmu kedokteran asal Irak sudah lama menetap bersama keluarganya di Irak. Dalam video, tampak ia terus menggenggam tangan anaknya yang menangis. Perempuan ini juga mengatakan, bahwa para penculik akan membunuh anaknya di depan matanya dan kemudian dirinya, jika pemerintahan Jerman tidak menarik mundur pasukan mereka dari Afganistan. Di belakang mereka tampak tiga pria yang tertutup wajahnya. Seorang dari mereka menyampaikan pesan bahwa kaum muslim di dunia adalah satu bangsa. Dan pemerintahan Jerman memiliki waktu 10 hari untuk mengumumkan dan memulai penarikan mundur pasukannya dari Afganistan. Alasan tuntutan ini, menurut kelompok penyandera, karena Jerman memerangi warga muslim di Afganistan.

Setelah video dari para penyandera di Irak, kemudian muncul video kedua dari kelompok teror lainnya, yang juga menuntut mundurnya pasukan Jerman dari Afganistan. Mereka juga mengancam akan melakukan serangan di Jerman. Kelompok yang menyebut diri mereka sebagai ‚suara khalifah’, mengatakan bahwa kerjasama dengan pasukan yang dipimpin Amerika Serikat dapat memprovokasi adanya serangan. Video tersebut dipublikasikan melalui internet. Situs internet ini sering digunakan oleh kelompok ekstrimis dan jaringan Al Qaida. Selain Jerman, ancaman ini juga ditujukan bagi Austria. Negara yang sangat bergantung dengan bidang pariwisata mereka sebenarnya termasuk ke dalam kategori negara yang paling aman di Eropa. Pemerintahan di Wina menggambarkan ancaman tersebut sebagai sesuatu yang sangat abstrak – tidak jelas. Namun, mereka tetap meningkatkan kemanan bagi pasukan Austria di Kabul dan menghimbau tentara untuk tidak meninggakkan wilayah mereka dalam pasukan perdamaian ISAF.

Tentara Jerman sendiri yang berada di Afganistan tidak melakukan perubahan untuk meningkatkan keamanan mereka. Juru bicara kementrian pertahanan mengatakan, tingkat keamanan bagi perlindungan tentara Jerman sudah sangat maksimal. Lagipula, berakhirnya penugasan di Afganistan tampaknya tidak akan terjadi.

Parlemen Jerman Jumat lalu menyetujui penambahan penugasan di Afganistan melalui pengiriman enam pesawat pengintai Tornado dan 500 tentara. Saat ini sekitar 3000 tentara Jerman ditugaskan di Afganistan.