Kasus Murat Kurnaz Kembali Dibuka | dunia | DW | 19.01.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Kasus Murat Kurnaz Kembali Dibuka

Kamis (18/01), kasus Murat Kurnaz warga Turki yang lahir dan menetap di Jerman dilanjutkan. Kali ini memberikan kesaksiannya dihadapan anggota parlemen Jerman.

Murat Kurnaz

Murat Kurnaz

Murat Kurnaz. Tahanan nomor 61 di penjara Guantanamo – Kuba, memegang erat mikrofon dengan tangan kanannya saat ia berbicara dengan para anggota parlemen Jerman. Ia jarang melakukan kontak mata saat ia kembali menceritakan pengalamannya selama berada di penjara milik Amerika Serikat yang menurutnya sarat dengan penyiksaan dan pelecehan. Namun, hal yang penting bagi para anggota parlemen yang tergabung dalam komite pemeriksaan dinas rahasia adalah apakah pemerintah Jerman yang lalu secara sadar melewatkan kemungkinan untuk membebaskan Kurnaz dan membawanya ke Jerman lembali pada bulan Oktober tahun 2002. Karena inilah tuduhan yang dilemparkan oleh Kurnaz. Ketua komite pemeriksaan Siegfried Kauder berusaha untuk menganalisa hal yang dulu terjadi.

„Apa yang terjadi disana menurut saya sangat merugikan hak seorang warga. Karena itu pertanyaan yang diajukan komite sudah benar. Tawaran apa yang dulu diajukan, supaya Kurnaz bisa kembali ke Jerman? Dan jika tawaran tersebut benar ditolak, apa alasannya?“

Laporan-laporan berita menyebutkan, bahwa tahun 2002 kepala dinas intelijen luar negeri Jerman mengambil keputusan untuk tidak mengijinkan Kurnaz kembali ke Jerman. Saat itu yang memegang jabatan tersebut adalah Frank Walter Steinmeier, Menteri Luar Negeri Jerman sekarang. Ia juga akan diminta keterangannya oleh komisi pemeriksaan. Namun, berdasarkan pernyataan yang telah diberikannya, Steinmeier menegaskan bahwa tidak ada hal yang dilakukannya yang melanggar hukum. Sementara, Hans-Christian Ströbele, salah seorang anggota parlemen, juga tertarik dengan adanya petunjuk yang mengatakan bahwa Kurnaz sebenarnya sudah dapat dibebaskan jauh lebih awal.

Hans-Christian Ströbele : „Sekarang kita harus berhati-hati. Karena sumbernya adalah dokumen yang tidak boleh dikutip karena tergolong dokumen rahasia negara. Namun saya tahu, bahwa pemerintahan Jerman sendiri mengartikan pengumuman dan pembicaraan dengan pihak Amerika Serikat, bahwa ada kemungkinan untuk membebaskan Kurnaz. Tapi pemerintah Jerman kemudian bereaksi dengan menutup kemungkinan tersebut.“

Selain itu, anggota parlemen lainnya juga mempertanyakan mengapa pemerintahan yang lalu tidak melakukan usaha secara langsung, seperti yang dilakukan Kanselir Jerman Angela Merkel. Merkel saat itu langsung menghubungi Presiden Amerika Serikat George W. Bush supaya dapat membantu proses pembebasan Murat Kurnaz. Hal ini juga dikatakan oleh pengacara Kurnaz, Bernhard Docke. Ia juga mengkritik sikap pemerintahan Jerman yang lalu. Kesimpulan Docke : Tanpa keterlibatan Angela Merkel, kliennya saat ini akan masih tetap mendekam di penjara Guantanamo.

Iklan