Kasus Haditha, Masih Ditutupi? | dunia | DW | 01.06.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Kasus Haditha, Masih Ditutupi?

Bush dan Blair akui kesalahan Abu Ghraib. Tapi masih ada kasus skandal yang ditutupi.

Rekaman video yang diajukan sebagai barang bukti kasus Haditha

Rekaman video yang diajukan sebagai barang bukti kasus Haditha

November tahun lalu di Haditha, 24 warga sipil Irak dibunuh oleh sejumlah tentara AS. Bagi anggota Kongres AS John Murtha skandal pembunuhan di Haditha merupakan sesuatu yang mengejutkan.

John Murtha: "Masalah ini sangat pelik dan membuat kami susah. Perang di Irak berlangsung atas nama demokrasi. Peristiwa seperti ini yang merupakan pukulan berat. Kejadian ini sama buruknya dengan Abu Ghraib, atau bahkan lebih parah“.

Sebelum menjadi anggota Kongres Amerika Serikat, John Murtha bertugas sebagai Kepala Pasukan Elit Angkatan Laut AS. Menurut stasiun televisi Amerika CNN, peristiwa Haditha yang terbongkar oleh jurnalis sudah dikonfirmasi oleh Kementerian Pertahanan AS.

Pada 19 November 2005 pukul 07.15 pagi, seorang tentara AS tewas oleh ledakan sebuah bom yang tersembunyi. Rekan-rekannya langsung mencari siapa yang meletakkan bom itu. Mereka menembak empat orang pemuda dan seorang supir taksi. Kemudia tentara itu memasuki sebuah rumah dan membunuh tujuh orang. Di rumah berikutnya, mereka membunuh keseluruhan 12 orang.

24 warga sipil tewas, diantaranya 8 perempuan dan seorang anak. Militer AS sebelumnya menyatakan, bahwa 15 warga Irak tewas dalam ledakan bom. Namun majalah Time dan sejumlah media AS lainnya mengungkapkan kenyataan yang pahit: Peristiwa itu merupakan pembunuhan yang didasari niat membalas dendam.

Pimpinan Militer AS, Peter Pace tidak mau memberikan komentar yang terburu-buru.

Jenderal Peter Pace: Saat ini masih berlangsung dua penyelidikan, untuk mengetahui apa yang sebetulnya terjadi dan mengapa kami di Washington begitu lambat menerima laporannya.”

Jawaban untuk pertanyaan pertama adalah, kejadian tersebut merupakan pembunuhan brutal. Memang peristiwa ini berlangsung dalam skala yang lebih kecil, bila dibandingkan dengan pembunuhan di kota My Lay tahun 1968, ketika 500 warga sipil dibunuh. Namun disebutkan, motif dibalik kasus Haditha dengan peristiwa tahun 1968 itu sama.

Pertanyaan keduapun seharusnya bisa dijawab. Bila para jenderal AS, termasuk Peter Pace, betul-betul begitu lambat mengetahui tentang kasus Haditha, maka alasannya karena ada kelompok yang berusaha menutup-nutupi kejadian itu. Demikian dilaporkan wartwawan Time, Bobby Gosh. Menurutnya:

Bobby Gosh: “Ketika ditanyai, militer bersikap sangat memusuhi. Mereka mengatakan kami menyebarkan propaganda musuh dan tetap mengaku bahwa para korban itu terbunuh oleh bom.“

Gedung Putih sudah berjanji bahwa laporan resmi tentang skandal Haditha akan dipublikasi setelah penyeledikan ini berakhir. Dalam beberapa minggu mendatang, para tentara yang diduga terlibat dalam kasus Haditha akan menghadapi tuntutan pembunuhan.

Iklan