Kasus Haditha Diproses di Pengadilan | Fokus | DW | 22.12.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Kasus Haditha Diproses di Pengadilan

November tahun lalu di Haditha, Irak, 24 warga sipil tewas dalam serangan 8 orang marinir Amerika Serikat. Kini kedelapan marinir ini menghadapi pengadilan militer AS di Kamp Pendleton.

default

"Berdasarkan temuan dari penyelidikan terhadap kasus tersebut, sejumlah gugatan ditujukan kepada empat marinir yang terkait dengan kematian warga sipil Irak pada 19 November 2005. Dakwaan lain juga ditujukan kepada empat marinir lainnya, yang lalai melaporkan dan/atau tidak menginvestigasi sebab-musabab kematian para warga sipil itu. Para marinir ini menghadapi tuduhan pembunuhan, lalai melakukan tugas, memberikan pernyataan yang salah dan menghambat keadilan.“

Demikian dikatakan Kolonel Stewart Navarre di kamp Pendleton sebelum pengadilan dimulai. Pernyataan ini ditunggu-tunggu oleh warga Irak di Haditha, yang dini hari Jumat (22/12) sudah berkumpul menunggu pemberitaannya di televisi. Kemarahan tersirat dalam pernyataan para warga ini. Mereka menyatakan antara lain, marinir Amerika Serikat yang terdakwa itu seharusnya dihukum mati.

Khaled Salman yang saudara perempuannya juga tewas dalam peristiwa itu, menilai pengadilan ini hanya bersifat politis dan tidak akan menjunjung hak warga Irak yang terinjak. Kemarahan ini cukup berdasar. Bila terbukti bersalah, Sersan Frank Wuterich, Sersan Sanick Dela Cruz, Korporal Justin Sharat dan Korporal Stephen Tatum, tidak akan menghadapi hukuman mati. Tuduhan terhadap mereka adalah pembunuhan yang tak direncanakan. Sementara pengacara tertuduh Neal Pucket bersikeras bahwa mandatarisnya hanya melakukan tugas.

„Tidak diragukan bahwa warga tak berdosa telah tewas, namun Sersan Wuterich mengaku bahwa mereka hanya melakukan tugasnya dalam membela diri.“

Tuntutan Warga Irak

Di pihak lain para saksi Irak menyatakan bahwa marinir-marinir ini datang ke kota itu dan dengan berang menembaki warga sipil di rumah mereka karena ingin membalas dendam. Diketahui, seorang rekan dekat mereka, Korporal Miguel Terrasaz sebelum itu tewas dalam sebuah serangan bom di Haditha. Namun sampai sekarang belum diketahui apa yang terjadi sesudah itu.

Yang pasti hanya bahwa 24 warga sipil yang termasuk perempuan dan anak-anak tewas ditembak oleh kelompok marinir yang dipimpin oleh Sersan Frank Wuterich tersebut. Setelah kejadian itu, para marinir yang terlibat ini melaporkan bahwa sejumlah warga sipil di Haditha tewas oleh ledakan bom.

Vonis Seumur Hidup

Namun kemudian terdengar desas desus yang berbeda dan majalah Times berusaha membongkar cerita itu. Hal ini akhirnya mendesak dilancarkannya penyelidikan resmi. Sekarang diketahui, semua korban ini mati karena ditembak. Menghadapi pengadilan ini, ibu dari Korporal Justin Sharat, salah seorang marinir yang dituduh melakukan pembunuhan itu berusaha tegar.

„Justin telah memberikan seluruhnya kepada negaranya dan tidak melakukan apapun yang memalukan“.

Bila terbukti bersalah, keempat marinir yang dituduh melakukan pembunuhan ini, menghadapi hukuman penjara seumur hidup. Di samping kasus Abu Ghraib, peristiwa di Haditha merupakan salah satu kasus terberat yang dihadapi militer Amerika Serikat sehubungan dengan Irak.