Karnaval - Musim ke Lima di Jerman | Sosial | DW | 16.02.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosial

Karnaval - Musim ke Lima di Jerman

Musik yang hingar-bingar, orang-orang berbaju warna-warni di jalanan, arak-arakan mobil yang dihias hingga berbentuk seperti rumah, atau istana, di mana seorang putri duduk di atas kursi kerajaan dan melambai-lambaikan tangannya.

default

“Karneval”. Itulah namanya di Jerman. Di Indonesia pawai seperti itu juga dikenal, dan disebut Karnaval. Walaupun pawai mobil berhias juga dikenal di Indonesia, latar belakangnya sangat berbeda. Di Jerman, “Karneval” berawal pada tradisi Katolik, di mana selama 40 hari menjelang Paskah merupakan masa puasa. Pada hari Jumat tidak makan daging. Ada pula yang pantang merokok, pantang minuman beralkohol dan sebagainya.

Oleh sebab itu, masa “Karneval“ merupakan saatnya bagi banyak orang untuk melakukan berbagai hal, yang biasanya tidak dia lakukan, karena tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Profesor Albert Gerhards yang mengajar liturgi Katholik di Universitas Bonn mengatakan, akar perayaan Karnaval masa kini terletak pada sifat alamiah manusia sendiri. Yaitu selalu menolak peraturan yang sudah ada, dan ingin membuat aturan sendiri. Contoh yang paling negatif adalah: minum alkohol tnapa batas sampai mabuk.

Bergembira dengan Keluarga dan Teman

Tetapi yang juga penting dalam masa ini adalah kebersamaan. Bersama dengan keluarga atau teman-teman bergembira dan bersenang-senang. Jadi tidak heran kalau satu keluarga kerap berani “tampil beda“ dengan menggunakan kostum yang sama. Misalnya, kostum Jimmy Hendrix. Ayah, ibu, dan anak-anak mereka tampil dengan kemeja lengan panjang serta celana cutbrai yang dihiasi manik-manik serta payet, lengkap dengan wig rambut kribo yang besar sekali.

Inilah memang saatnya untuk berbuat yang lucu dan berpenampilan kocak. Ada juga sekelompok orang yang mengenakan seragam awak pesawat Enterprise dalam serial “Star Trek“, yang di Indonesia juga sangat dikenal. Di antara mereka juga bisa dikenali Mr. Spock dengan rambut poni serta telinganya yang lancip. Kostum apa, yang kemungkinan menjadi trend tahun ini? Alfred Westenhöfer yang menjual kostum anak-anak menjawab, kemungkinan besar yang banyak diminati adalah kostum bajak laut atau koboy. Kostum yang klasik adalah baju Indian, baju pastur dan yang bermotifkan tengkorak.

Selain itu, yang juga sangat digemari adalah kostum dari kisah-kisah seribu satu malam. Dengan sorban dan celana balon Ali Baba, perayaan Karnaval jadi semakin ramai dan meriah. Selain terlihat pada kostum yang dipakai, kebudayaan asing juga dapat didengar dalam lagu-lagu khas Karnaval. Seperti misalnya yang dinyanyikan oleh kelompok asal Köln, "Höhner", artinya ayam-ayam, dengan judul "Die Karawane Zieht Weiter...Dä Sultan Hät Doosch" atau “Kafilah melanjutkan perjalanan, sang sultan kehausan“.

"Sitzung" pada masa Karnaval

Berbagai perayaan Karnaval dinamakan “Sitzung“, yang artinya sidang, rapat atau pertemuan. Setiap organisasi atau perusahaan biasanya juga mengadakan perayaan “Karneval“ sendiri. Perayaan “Karneval“ di Deutsche Welle contohnya, diadakan Jumat (16/02). Mereka mengundang pemusik dan pelawak yang menampilkan kemahiran mereka di panggung. Orang-orang yang mengenakan kostum duduk di meja-meja panjang, bernyanyi dan tertawa bersama mendengarkan banyolan pelawak. Lawakan sering memuat kritik atas kebijaksanaan politik aktual pemerintah Jerman. Selain itu, yang kerap dijadikan tema oleh para komedian adalah masalah sehari-hari dan masalah rumah tangga. Pada intinya, mereka mengeritik pandangan sempit dan kepicikan yang sering ditemukan dalam hidup bermasyarakat.

Yang juga sering didengar dan menjadi elemen penting dalam pertemuan “Karneval“ adalah adalah apa yang disebut “Tusch“, yang dibunyikan saat pemimpin “Sitzung“ menyambut tamu-tamu dengan salam yang khas. Di kota Köln atau Bonn yang diserukan adalah kata “Alaaf!“, yang artinya kira-kira “hidup Köln“. Sementara di Düsseldorf dan Mainz, yang juga pusat perayaan Karnaval, kata yang lazim digunakan adalah “Helau!“, yang kemungkinan asalanya dari kata bahasa Inggris “Hallo!“. Jika sang pemimpin menyerukan nama kotanya, maka ia akan disambut semua orang yang hadir dengan menyerukan kata “Alaaf“ atau “Helau“.

Ciri Khas Kota Köln

Kota Köln, yang menjadi salah satu pusat perayaan “Karneval“ memiliki ciri khas tersendiri. Yaitu apa yang disebut “Dreigestirn“, yaitu tiga karakter yang menjadi seperti pemerintah tidak resmi selama masa Karnaval. Mereka adalah pangeran, petani dan gadis. Tetapi karakter gadis selalu dimainkan seorang pria.

Selama masa Karnaval ketiga orang ini harus hadir pada sekitar 400 acara atau "Sitzung" tadi. Selain itu, mereka juga harus merogoh kocek sekitar 300.000 Euro, untuk membiayai berbagai pengeluaran perhimpunan karnaval. Jadi hanya orang-orang yang memiliki penghasilan besar dapat menjadi anggota “Dreigestirn“.

Namun demikian, mereka tidak hanya tampil dalam perayaan. Separuh dari 400 jadwal yang harus dipenuhi adalah kegiatan sosial di panti jompo atau rumah sakit. Rüdiger Höffgen yang menjadi petani pada masa “Karneval“ lalu mengisahkan keharuannya saat berkunjung ke rumah sakit anak-anak, dan bertemu anak yang sakit kanker. Menurut Höffgen, tentu saja tidak mudah masuk ke rumah sakit anak-anak, dan kami keluar dengan perasaan haru dan bahagia, karena kami sudah memberikan sedikit harapan dan kegembiraan untuk anak-anak. Melihat mata mereka yang berkilauan jauh lebih indah daripada memasuki ruang pesta.

Bergembira Hingga "Rabu Abu"

Pendengar, mulai Kamis (15/02), kota-kota yang menjadi pusat perayaan “Karneval“ dipenuhi orang-orang berkostum menarik dan lucu. Puncak perayaan adalah hari Senin mendatang, yang disebut “Rosenmontag” atau “Senin Mawar”. Pada Senin itulah pawai mobil-mobil berhias bergulir di jalan-jalan. Dan masa “Karneval“ akan berakhir Rabu mendatang yang disebut “Aschermittwoch“ atau “Rabu Abu“. Di hari itu dimulailah masa puasa bagi penganut agama Katolik selama 40 hari, yaitu sampai perayaan Paskah. Pada "Aschermittwoch", berakhirlah musim ke lima di Jerman.

  • Tanggal 16.02.2007
  • Penulis Marjory Linardy
  • Cetak Cetak halaman ini
  • Permalink https://p.dw.com/p/CPVO
  • Tanggal 16.02.2007
  • Penulis Marjory Linardy
  • Cetak Cetak halaman ini
  • Permalink https://p.dw.com/p/CPVO