Kehidupan di Zona Karantina Wabah Corona Italia | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 26.02.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Virus Corona

Kehidupan di Zona Karantina Wabah Corona Italia

Otoritas Italia menempatkan sekitar 50 ribu penduduk di utara negara itu di bawah karantina karena virus corona. Penduduk desa mencoba menyesuaikan diri dengan situasi baru itu.

Kontrol suhu tubuh penumpang | Italia (DW/B. Riegert)

Pemeriksaan suhu tubuh di Bandara Italia

"Kami sudah berhenti berjabat tangan dan saling cium pipi," kata Marco. Dia tinggal di Vittadone, sebuah desa kecil di wilayah Lombardy, Italia. Sejak hari Minggu (23/2) dia selalu mengenakan masker wajah kalau keluar rumah. Dia mengeluh bahwa harga masker sekarang mahal, apotek menuntut sepuluh euro untuk satu masker. "Sudah keterlaluan”, katanya.

Masker wajah dan desinfektan tangan akhir-akhir ini memang sangat sulit didapat di wilayah ini. Tidak semua penduduk desa memakai masker seperti Marco. Banyak yang menganggapnya tidak terlalu penting, sekalipun desa mereka bertetangga dengan "zona merah" Italia - sepuluh distrik yang ditempatkan di bawah karantina karena ada infeksi virus Corona yang dikonfirmasi.

Pihak berwenang telah memutuskan bahwa tidak ada yang dibolehkan masuk atau keluar dari zona karantina. Polisi berseragam menjaga jalan masuk dan keluar desa-desa. Tetapi polisi beberapa kali juga membiarkan petani dengan traktor lewat, begitu juga pengendara sepeda dan penduduk setempat yang ingin pergi ke supermarket atau ke apotek di "zona merah".

Enzo, warga lokal Vittadone lainnya, mengatakan bahwa para petugas akan membiarkan siapa pun lewat asal dengan alasan yang kuat. Dia sendiri berpendapat, tidak benar membuat penduduk setempat "terkunci seperti ini”. Menurut dia, tindakan yang diambil oleh otoritas lokal dan pemerintah nasional Italia terlalu drastis.

Coronavirus | Guiseppe (links), Enzo. Dorfbewohner Cittadone, Italien (DW/B. Riegert)

Enzo (kiri), warga Vittadone di Italia

"Pasien nol” berhasil dilacak?

Sebagian besar dari lebih 200 kasus infeksi virus Corona dilaporkan berada di kawasan pedesaan Lombardy dan Veneto yang lokasinya berdekatan. Perdana Menteri Italia Giuseppe Conte ingin bertindak cepat untuk meredam penyebaran epidemi ini. Karena itu pemerintahnya segera mengumumkan penutupan kawasan-kawasan itu.

Giuseppe, seorang pensiunan lokal, mengatakan dia tidak takut dengan virus corona, tapi menganggapnya serius. Sejak karantina diberlakukan pada daerah-daerah tetangga, kehidupan di Vittadone menjadi lebih sunyi dan "tidak ada yang tahu, berapa lama ini akan berlangsung," katanya.

Pemerintah Italia memang tidak mengatakan sampai kapan kebijakan itu akan berlangsung. Otoritas kesehatan mengatakan, mereka cukup yakin sudah berhasil melacak keberadaan "pasien nol”, yaitu orang pertama yang membawa virus Corona ke kawasan itu. Pria yang dimaksud berusia 38 tahun dan dirawat di rumah sakit di Codogno. Media lokal memberitakan, hampir semua kasus infeksi dapat dikaitkan dengan pria itu. Itu sebabnya dia diyakini menjadi orang pertama yang menularkan virus kepada orang-orang lain.

Geschlossene Bar Renzo in dem ziemlich verlassenen Dorf Vittadone, Italien (DW/B. Riegert)

Bar "Renzo" tempat warga biasanya berkumpul, sekarang ditutup karena virus corona

Situasi darurat medis

Seorang narasumber yang tidak mau disebutkan namanya yang bekerja di rumah sakit Codogno mengatakan kepada kantor berita ANSA lewat telepon, orang-orang sekarang panik "karena tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi selanjutnya dan apa yang harus dilakukan” dalam keadaan darurat medis ini.

Sampai saat ini masih belum jelas di mana sang "pasien nol" tertular virus Corona. Dia sendiri diberitakan tidak melakukan perjalanan ke Cina, tapi berinteraksi dengan seorang teman yang baru saja kembali dari sana, sekalipun temannya sudah dites virus Corona dengan hasil negatif.

Enzo Vittadone tidak bisa lagi mengunjungi restoran favoritnya yang terletak di "zona merah". Sebagai gantinya, dia akan mencoba restoran yang berbeda di utara. Di antara sekelompok remaja yang bergerombol, ada satu anak yang justru mengenakan masker selam. Dia mengaku tidak punya cukup uang untuk membeli masker wajah, tapi masker untuk menyelam terlihat cukup "keren".

(hp/gtp)