8 Mei 1945, Kapitulasi dan Berakhirnya PD II Menjadi “Titik Nol” bagi Jerman | SOSBUD: Laporan seputar seni, gaya hidup dan sosial | DW | 08.05.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Berakhirnya Perang Dunia II

8 Mei 1945, Kapitulasi dan Berakhirnya PD II Menjadi “Titik Nol” bagi Jerman

Tepat 75 tahun lalu, Hitler sudah menjadi abu di antara puing-puing di Berlin, Jerman menyatakan kapitulasi dan Perang Dunia II di Eropa resmi berakhir. Sebuah awal baru bagi Jerman dalam berbagai aspek.

Karena takut mungkin bisa ditangkap hidup-hidup, Adolf Hitler bergegas menikahi pasangannya Eva Braun di persembunyian terakhir mereka di Berlin, lalu keduanya melakukan bunuh diri. Mayat mereka dibakar dan abunya disebar dekat Führerbunker, markas terakhir pemimpin NAZI Jerman. Hitler memerintahkan sendiri pembakaran mayatnya, karena dia juga khawatir mayatnya bisa jatuh ke tangan musuh. 

Laksamana Karl Dönitz, yang menggantikan Hitler sebagai pemimpin Jerman saat itu, pada 1 Mei mengumumkan kematian Hitler. Dia juga mengatakan bahwa prioritas utamanya saat itu adalah "untuk menyelamatkan nyawa warga Jerman." Untuk itu, dia menyatakan telah meminta angkatan bersenjata Jerman untuk menyerah tanpa syarat. 

"Pada 8 Mei, pukul 23:01, senjata akan diam," kata Dönitz dalam pidato yang disiarkan radio ke seluruh negeri. Itulah penampilan terakhirnya di hadapan publik Jerman sebagai pejabat. Penampilan Dönitznya yang berikutnya adalah di Pengadilan Nürnberg tahun 1946, ketika dia menerima hukuman atas kejahatan perang. Tapi dia hanya menjalani 10 tahun penjara. Karl Dönitz meninggal Desember 1980 pada usia 89 tahun di sebuah desa kecil di utara Jerman. 

Pihak sekutu memang menyetujui kapitulasi tanpa syarat itu. Waktu yang dipilih, tepat pukul 23:01, tidak terjadi secara kebetulan. Ini dilakukan atas permohonan Uni Soviet, yang punya perhitungan waktu satu jam setelah Jerman. Artinya, di Moskow jam sudah menunjukkan pukul 00.01 tanggal 9 Mei. Karena itu, Uni Soviet bisa merayakan kemenangannya pada tanggal tersendiri, berbeda dengan pihak sekutu yang lain seperti Inggris, Prancis dan AS, yang semuanya merayakan kemenangan pada 8 Mei. 

Negeri yang terbelah 

Setelah Jerman menyatakan kapitulasi dan perang resmi berakhir, pihak Sekutu memecah Jerman menjadi empat zona yang masing-masing dikuasai oleh satu negara: zona Uni Soviet, zona AS, zona Inggris dan zona Prancis. Saat itu pun, sudah terlihat perpecahan di pihak Sekutu, antara Uni Soviet dan kubu AS, Prancis dan Inggris. 

Ketegangan akhirnya bermuara dalam konflik Perang Dingin yang semakin terbuka, dan mencapai puncaknya dengan pendirian Jerman Barat di zona AS, Prancis dan Inggris, disusul pendirian Jerman Timur di wilayah zona Uni Soviet. Tidak lama kemudian terbentuklah apa yang disebut sebagai blok Barat, yang secara de facto berada di bawah kendali AS, dan blok Timur yang berada di bawah kendali Uni Soviet. 

Di blok Barat, AS tahun 1948 melancarkan program investasi besar-besaran untuk pembangunan kembali Jerman yang dikenal sebagai Marshall Plan. Persaingan Barat-Timur jadi berlanjut ke sektor ekonomi, antara sistem kapitalisme dan sistem ekonomi sosialisme di bawah bendera komunisme Uni Soviet. 

Pertentangan Barat-Timur dan reunifikasi Jerman 

Jerman Barat mengalami kemajuan ekonomi luar biasa dan membangun kekuatan militer yang murni defensif: Bundeswehr. Ketika itu, Bundeswehr hanya bertugas di dalam negeri dan tidak ada misi di luar negeri. Setelah keruntuhan rezim Jerman Timur karena aksi protes massal warganya yang menuntut demokrasi dan kebebasan, kedua negara Jerman akhirnya resmi bersatu kembali 3 Oktober 1990, yang sekarang diperingati setiap tahun sebagai Hari Reunifikasi Jerman. 

Jerman Barat, dan kemudian negara Jerman yang sudah bersatu kembali, bangkit menjadi kekuatan ekonomi dan salah satu motor integrasi Eropa melalui asosiasi negara-negara yang sekarang dikenal sebagai Uni Eropa. Seiring dengan kebangkitan Jerman, pemerintahan di Berlin juga terus-menerus menggarisbawahi tanggung jawab historisnya atas peristiwa Holocaust. Kanselir Jerman Angela Merkel bahkan berulangkali menyebutkan, eksistensi Israel dan bangsa Yahudi adalah bagian dari raison d'etre (alasan adanya) negara dan bangsa Jerman. 

Desember 2019, setelah menyatakan tidak akan mencalonkan diri lagi sebagai pemimpin Jerman pada periode berikutnya, Angela Merkel untuk pertama kalinya sebagai Kanselir berkunjung ke Auschwitz pada peringatan 75 tahun pembebasannya. 

"Kami tak akan pernah melupakan," kata Merkel di kamp konsentrasi yang dibangun Nazi di wilayah Polandia itu, dan sekarang menjadi ikon global kekejaman NAZI Hitler, "..Atau berusaha untuk merelatifkannya." 

Menurut berbagai survei, sebagian besar warga Jerman setuju dan merasakan tanggung jawab moral yang besar atas bagian sejarah mereka yang paling gelap ini. Hanya ada sebagian kecil yang masih merindukan kebesaran era Hitler, dan sebagian bernaung di bawah partai ultra kanan AfD. 

(hp/yf)