Kanselir Merkel Bertemu Presiden Abbas | dunia | DW | 23.02.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Kanselir Merkel Bertemu Presiden Abbas

Hanya penyelesaian dua negara yang dapat membawa perdamaian di Timur Tengah.

default

Hal itu disepakati oleh kanselir Jerman Angela Merkel dan presiden Palestina Mahmud Abbas. Kanselir Merkel mengatakan: "Yang ingin dicapai adalah penyelesaian dua negara, dimana Israel dapat hidup dengan aman dan Palestina dapat mengharapkan perkembangan yang damai dan positif di bidang ekonomi. Untuk mencapainya masih banyak yang harus dilakukan."

Pertama-tama pembentukan pemerintahan baru Palestina yang terdiri dari Hamas dan Fatah harus dituntaskan. Kanselir Merkel mengulang kembali tuntutan Kuartet Timur Tengah, yaitu bahwa pemerintah baru Palestina nanti harus mengakui hak eksistensi Israel dan juga semua perjanjian yang sudah ditanda-tangani. Dikemukakannya: " Sekarang kesulitannya adalah dengan Hamas, karena mereka menolak prinsip-prinsip tsb. Itu harus dibicarakan, karena inilah masalahnya. Kami menyambut baik semuanya yang dapat membawa Hamas ke jalan itu. Penyelesaian dua negara tidak dapat dirundingkan, kalau eksistensi salah satu negara tidak diakui."

Presiden Abbas juga berharap bahwa pembentukan pemerintahan dengan Hamas dapat menggerakkan kembali perundingan dengan Israel: "Bagi kami perundingan menuju status akhir harus segera dimulai, karena merupakan hukum internasional. Kami tidak menuntut lebih dari yang tercantum dalam "road map", yaitu penyelesaian dua negara, diakhirinya pendudukan dari tahun 1967 dan penyelesaian masalah pengungsi. Kami akan melakukan negosiasi mengenainya. Itu adalah prinsip dan persyaratan kami."

Sebagai langkah berikutnya untuk meredakan ketegangan, Kanselir Merkel menuntut dibebaskannya tentara Israel Gilad Shalit yang diculik bulan Juni tahun lalu. Ia diperkirakan ditahan di Jalur Gaza. Abbas menerima tuntutan itu, tetapi juga mengajukan syarat: "Tentara Israel Shalit harus dibebaskan dan penembakan roket ke Israel harus dihentikan. Ketenangan antara Palestina dan Israel harus menyeluruh. Tetapi di lain pihak terdapat lebih dari 10.000 warga Palestina yang ditahan dan kami menuntut mereka dibebaskan. Kita tidak dapat menghendaki kebebasan bagi Shalit tanpa menuntut pula kebebasan bagi tahanan Palestina."

Abbas menuntut diakhirinya boikot bantuan keuangan internasional yang diberlakukan sejak Hamas menang pemilu. Pemboikotan itu tidak adil karena membuat kehidupan bangsa Palestina tidak manusiawi. Kanselir Merkel berulang kali menunjuk pada persyaratan yang harus dipenuhi oleh Palestina sebelum perembukan dimulai, tetapi ia tidak menyampaikan tuntutan apa pun pada Israel. Ia hanya mengatakan secara umum, bahwa ketentuan yang tercantum dalam "road map" harus berlaku bagi kedua pihak.

Iklan