Kanselir Merkel Berjanji Akan Mempelopori Upaya Pemulihan Corona di Uni Eropa | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 30.06.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Uni Eropa

Kanselir Merkel Berjanji Akan Mempelopori Upaya Pemulihan Corona di Uni Eropa

Kanselir Jerman Angela Merkel sebut Jerman akan pastikan pemulihan yang efektif ketika mengambil alih kursi kepresidenan Uni Eropa pada 1 Juli. Pernyataannya itu muncul usai bertemu Presiden Prancis Emmanuel Macron.

Kanselir Jerman Angela Merkel memastikan bahwa Jerman akan mempelopori berbagai upaya pemulihan yang efektif pasca-pandemi COVID-19 di Uni Eropa, saat Jerman mengambil alih kursi kepresidenan Dewan Eropa pada 1 Juli mendatang.

“Kami akan bekerja sama memperkuat Eropa dalam menanggulangi krisis ini,” kata Merkel usai pertemuannya dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron di Berlin, Senin (29/06). “Saya sangat senang karena kami sepakat dalam tantangan-tantangan yang akan dihadapi bersama”, tambahnya.

Merkel sebut memang “ekspektasi tinggi”, tapi ia meyakinkan bahwa Prancis dan Jerman siap bekerja menjalankan tugas.

“Dunia akan berbeda setelah pandemi,” kata Merkel. “Kita perlu berinvestasi lebih banyak di masa depan untuk menghadapi tantangan tersebut.”

Meski begitu, Merkel mengatakan bahwa pertanyaan tentang pembatasan anggaran dan dana pemulihan pasca-pandemi akan ditangani lebih lanjut selama KTT Dewan Eropa pada akhir Juli mendatang. “Eropa adalah masa depan kita,” ujarnya.

Rencana pemulihan Uni Eropa

Jerman, Prancis, dan negara-negara Uni Eropa lainnya tengah mendorong usulan dana penyelamatan senilai 750 miliar euro (setara dengan 12.000 triliun rupiah) yang akan diberikan sebagai hibah kepada negara-negara terpukul melalui Komisi Eropa tanpa kewajiban untuk menggantinya.

Kelompok negara yang menentang gagasan itu dijuluki sebagai “Frugal Four”, yaitu Austria, Denmark, Belanda, dan Swedia, yang menentang penyatuan hutang negara-negara anggota.

Sebelumnya pada minggu lalu, Presiden Prancis mengunjungi Perdana Menteri Belanda Mark Rutte di Den Haag, pertemuan yang dilaporkan menghasilkan kemajuan menuju rencana pemulihan. Namun, sebuah sumber dari Istana Elysee mengatakan Prancis tetap optimis bahwa kesepakatan dapat dicapai, meski mengakui bahwa “kita belum sampai di sana.”

‘Pertahankan demokrasi kita’

Di momen yang sama, Macron mengatakan bahwa pandemi belum mencapai puncaknya, sehingga langkah-langkah penanganan di tingkat Uni Eropa perlu diambil untuk menghadapi tantangan yang muncul.

“Saya dan kanselir telah menuliskan itu: Ini adalah prioritas mutlak kami. Tanpa ini, Eropa tidak akan bisa menghadapi tantangan,” kata Macron, merujuk pada rencana pemulihan pasca-pandemi. “Kita harus mempertahankan demokrasi kita,” tambahnya.

Macron juga menekankan bahwa pemerintah Prancis terinspirasi oleh respons Jerman dalam mengatasi krisis keuangan pada 2008 silam. Ia menyebut program Kurzarbeit Jerman sebagai kunci sukses pemulihan ekonomi saat itu.

Saat agenda makan malam, kedua pemimpin Eropa ini diperkirakan akan membahas hubungan dengan Cina, AS dan Turki, bersama dengan rincian konflik di Libya dan kampanye kontra-terorisme di wilayah Sahel di Afrika Barat. gtp/rap (dpa, AFP)