1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Kandidat Capres Prancis Mengeritik Imigrasi di Luar Kendali

25 November 2021

Michel Barnier, mantan negosiator Uni Eropa untuk masalah Brexit dan saat ini menjadi kandidat calon presiden Prancis, mengatakan Prancis kehilangan kendali atas masalah imigrasi dan rasa impunitas berlaku di negara ini.

https://p.dw.com/p/43On0
Michel Barnier
Kandidat calon presiden Prancis, Michel BarnierFoto: Emmanuel Dunand/AFP/Getty Images

Michel Barnier yang masuk untuk nominasi partai kanan tengah Les Republicains, menyesali "penurunan besar" Prancis dan mengatakan gaya kepemimpinan Presiden Emmanuel Macron terlalu arogan dan berpikiran tunggal untuk menyembuhkan perpecahan.

"Imigrasi di luar kendali," kata Barnier yang berusia 70 tahun, kepada Reuters sebelum berbicara kepada anggota partai di Paris pada Senin (22/11) malam. "Keamanan kami tidak lagi terjamin. Ada rasa impunitas dan rasa tidak aman di seluruh negeri."

Barnier mengusulkan moratorium imigrasi untuk memperbaiki aturan migrasi Eropa dan Prancis yang dilanggar. Barnier ingin tentara berpatroli di beberapa komunitas di mana saat ini terlihat polisi kehilangan kendali dan menganjurkan referendum untuk memulihkan dinas militer.

Barnier yang dulunya moderat dari kanan tengah, menolak anggapan bahwa dia ditarik ke sayap kanan untuk memenangkan kembali pemilih konservatif dari tokoh sayap kanan Marine Le Pen dan Eric Zemmour.

"Saya melihat masalah yang dihadapi negara saya," katanya.

Pemerintah Macron menolak tuduhan bahwa mereka telah kehilangan kendali atas banyaknya jumlah imigran di Prancis. INSEE, badan statika resmi, mengatakan jumlah migrasi bersih telah meningkat sejak awal tahun 2000-an.

Data resmi INSEE menunjukkan 272.000 kedatangan imigran di wilayah Prancis pada 2020, dibandingkan dengan 259.000 imigran pada 2016, dan 211.000 imigran pada 2010.

Perebutan kandidat dari sayap kanan tengah dipimpin oleh Xavier Bertrand, yang mengepalai wilayah utara Hauts-de-France, dan Valerie Pecresse, pemimpin wilayah Ile de France di sekitar Paris, tetapi Barnier muncul sebagai penantang yang kredibel. 

Mengejar dukungan suara

Partai yang bersaing mengatakan mereka akan mendukung siapa pun yang memenangkan pemungutan suara dua putaran minggu depan oleh anggota partai yang mendaftar.

Popularitas Barnier sebagian terletak pada kesetiaannya kepada partai. Beberapa menganggapnya "presiden" karena menjaga persatuan di antara negara-negara Uni Eropa yang tersisa selama pembicaraan Brexit dengan Inggris.

"Prancis tidak membutuhkan kandidat ketiga yang terlalu dekat dengan politik sayap kanan. Prancis membutuhkan seseorang yang menyatukan kita," kata pendukung Barnier, Aurelien Boulanger.

Barnier mengatakan dia khawatir dengan ketidakpercayaan antara London dan negara-negara Eropa, sejak Brexit terjadi awal tahun ini. Inggris terlibat dalam sengketa izin penangkapan ikan dengan Prancis dan perselisihan dengan Brussel mengenai aturan perdagangan untuk barang-barang yang mengalir ke Irlandia Utara.

Saat ditanya apakah dia mempercayai Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, Barnier menjawab: "Pertanyaannya adalah apakah dia menghormati tanda tangannya sendiri dan komitmen yang dilakukan oleh pemerintahnya."

Kritikus mengatakan Barnier tidak memiliki karisma dan kekuatan. Bagi Barnier, yang mengajukan dirinya sebagai konsiliator, itulah intinya.

"Istri saya memberi tahu saya bahwa saya harus lebih humoris. Ini masih dalam proses," kata Barnier kepada pendukung partai, kebanyakan dari mereka berkulit putih, kelas menengah dan setengah baya atau lebih tua. "Tapi kepresidenan itu serius."

pkp/hp (Reuters)