Kadyrov Jadi Presiden Chechnya | Fokus | DW | 05.04.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Kadyrov Jadi Presiden Chechnya

Ramzan Kadyrov, bekas pemberontak garis keras Islam ini dilantik sebagai presiden Checnya. Berbagai tudingan pelanggaran HAM berat dialamatkan kepadanya..

default

Tangannya diletakan di atas konstitusi Rusia, konstitusi Chechnya dan sebuah kitab al-Qur'an. Ramzan Akhmadovitch Kadyrov mengangkat sumpah sebagai presiden baru Chechnya, sebuah republik kecil di selatan, bagian dari Federasi Rusia:

O-tone Kadyrov

: "Saya bersumpah, dalam melaksanakan tugas sebagai presiden Republik Chechnya, saya akan menegakkan hak dan kebebasan warga, melindungi hak minoritas dan akan patuh pada konstitusi Chechnya

Kadyrov diambil sumpahnya dalam usia 30 tahun lebih sedikit di Gudermes, kota kedua terbesar Chechnya. Istana kepresidenan Chechnya di Grozny, ibukota Chechnya, memang masih dalam pembangunan.

Ramzan Kadyrov adalah tokoh etnik Chechnya yang penuh kontroversi. Pendidikannya tergolong sangat rendah. Namun Rusia menggambarkannya sebagai orang yang berhasil memulihkan stabilitas Chechnya dan membangun kembali Grozny, ibu kota Chechnya, dari kehancuran perang. Sementara berbagai kelompok pembela hak asasi manusia, bahkan Dewan HAM Eropa, menggambarkan Kadyrov sebagai tokoh yang bergelimangan darah.

Ia dituding bertanggung jawab atas sejumlah pembunuhan, penyiksaan, penculikan dan berbagai pelanggaran berat hak asasi lainnya, terhadap para rakyat sipil serta pemberontak Chechnya. Wartawan Rusia yang terbunuh, Anna Politskovskaya pernah membuat laporan yang menggambarkan kekejian milisi yang dikenal sebagai Kadyrovit, dalam sebuah aksi yang diperintahkan langsung Ramzan Kadyrov.

Sebetulnya Kadyrov sendiri dulunya adalah seorang tokoh pemberontak. Ia putera Ahmad Kadyrov, salah satu ulama Chechnya yang berusaha memisahkan diri dari Rusia. Milisi Kadyrovit dibentuk Ramzan saat ia baru berusia 16 tahun. Namun pada tahun 1999, saat Perang Chechnya kedua mulai meletus, Ahmad Kadyrov membelot ke pihak Rusia. Ahmad Kadirov kemudian dilantik sebagai presiden Chechnya, namun tewas pada tahun 2004, dibunuh oleh kelompok Chechnya yang masih memberontak.

Sepeninggal ayahnya, Ramzan diangkat sebagai perdana menteri tahun 2005. Namun sebetulnya sejak awal ia diyakini akan diangkat sebagai presiden. Namun karena konstitusi mensyaratkan usia minimun 30 tahun, baru tahun ini, sesudah lewat 30 tahun, Ramzan Kadyrov ditunjuk dan dilantik sebagai presiden.

Kadyrov: Saya tidak bisa menggambarkan perasaan saya dengan kata-kata. Untuk mencapai apa yang terjadi hari ini, saya telah melakukan segalanya agar perdamaian di Chechnya bisa tercapai. Selanjutnya saya akan berusaha melayani rakyat dan menjaga keamanan.

Mengenai keterlibatannya dalam berbagai pelanggaran HAM, Ramzan Kadyrov dan Kremlin berulang kali membantah. Malah ia berjanji untuk mewujudkan Chechnya sebagai negara paling damai di dunia.

Di lain pihak, Kadyrov juga dikenal sebagai tokoh Islam garis keras yang pernah menuntut pelaksanaan syariah di Chechnya. Ia misalnya mewajibkan perempuan untuk berjilbab. Karenanya, tidak jelas, sejauh mana bulan madu Kremlin dengan Kadyrov bisa berlangsung.