Kabul Bahas Kasus Abdul Rahman | Fokus | DW | 25.03.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Kabul Bahas Kasus Abdul Rahman

Presiden Karzai terjepit antara kritik barat dan tuntutan petinggi agama Afghanistan.

Presiden Karzai berada dalam posisi yang sulit

Presiden Karzai berada dalam posisi yang sulit

Pemerintah Afghanistan mengadakan sidang darurat Sabtu (25/3) ini untuk membahas kasus warga Afghanistan Abdul Rahman yang beralih menjadi pemeluk agama Kristen. Tekanan dunia barat makin menyudutkan Presiden Afghanistan Hamid Karzai. Dalam pembicaraan telpon dengan Kanselir Jerman Angela Merkel, Karzai menandaskan, hidup Abdul Rahman tidak terancam. Menlu AS Condoleezza Rice menyatakan, kebebasan beragama adalah bagian penting pengertian kebebasan dan hak asasi manusia. Sementara, di jalan kota Kabul, seruan “Bunuh Rahman!” terus terdengar. ’

Amnesti bagi Rahman?

Sampai Sabtu pagi, jalan keluar terbaik dari dilema ini belum ditemukan. Sebelumnya, sejumlah pakar memperkirakan, Rahman akan segera dibebaskan dengan alasan terdakwa dalam kondisi mental labil. Namun, setelah pernyataan Rice yang menitik-beratkan pada kebebasan beragama sebagai pilar demokratisasi Afghanistan , solusi ini sulit diterapkan. Kini, ada kemungkinan Karzai menggunakan haknya untuk memberi amnesti bagi terdakwa. Dengan demikian, Rahman akan lolos dari vonis mati.Benarkah ini penyelesaian yang ideal?

Karzai, yang kerap dijuluki ‘walikota Kabul’ oleh lawan politiknya, sangat bergantung pada bantuan dunia barat. Eksistensi pemerintah Karzai dijamin oleh dana bantuan dan penjagaan pasukan perdamaian internasional. Faktor ini digunakan sejumlah tokoh agama untuk menyulut kemarahan massa. Mereka menyerukan “Negara ini milik rakyat Afghanistan, bukan Bush!”

Kini, Karzai harus pandai memainkan kartunya. Ia harus menemukan jalan tengah. Di satu pihak, ia harus menenangkan dunia internasional dan memberi jaminan bahwa proses demokratisasi di Afghanistan tetap berjalan baik. Di lain pihak, Karzai harus menghindari kesan bahwa ia hanya lah boneka Washington dan negara Uni Eropa.

Aksi Demonstrasi

Aparat keamanan menyiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan terjadinya demonstrasi massal di Kabul dan kota Afghanistan lainnya. Seorang petinggi pemerintah di Kabul menyatakan kekhawatiran bahwa pembebasan Rahman dapat menyulut aksi kekerasan, seperti yang terjadi saat sengketa karikatur Nabi Muhammad yang kontroversial. Untuk mengantisipasi hal ini, pemerintah memperketat penjagaan keamanan di ibu kota. (zer)