Kabinet Baru Perancis | dunia | DW | 18.05.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Kabinet Baru Perancis

Kabinet pimpinan PM Francois Fillon terdiri dari delapan menteri pria dan tujuh menteri wanita.

PM Perancis Francois Fillon (kiri) dan Presiden Sarkozy (kanan)

PM Perancis Francois Fillon (kiri) dan Presiden Sarkozy (kanan)

Presiden baru Perancis, Nicolas Sarkozy, sudah mulai membentuk pemerintahannya. Dimulai dengan Francois Fillon dari pihak konservatif yang ditunjuk hari Kamis lalu sebagai perdana menteri perancis yang baru. Fillon yang berumur 53 tahun terkenal sebagai mitra berunding Sarkozy yang sangat dekat dalam kampanyenya sebagai calon presiden Perancis dan bersama-sama mereka merancang program reformasi Perancis. Komentar Fillon dalam penyerahan jabatan di Paris

„Rakyat Perancis telah memilih politik baru. Ini adalah tugas saya. Saya akan mengerjakan semua tugas yang dipercayakan kepada saya.“

Fillon yang dahulu menjabat sebagai menteri sosial dan pendidikan menggantikan perdana menteri perancis Dominique de Villepin yang meletakkan jabatannya. Kesempatan ini seharusnya merupakan kepuasan tersendiri bagi Fillon, karena Villepin lah yang melepaskan Fillon dari pemerintahan Perancis dua tahun yang lalu. Setelah itu Fillon langsung bergabung dengan Sarkozy.

Francois Fillon digambarkan sebagai orang yang tenang dan obyektif. Ia terlihat berhati-hati dalam perundingan tetapi ia merupakan orang yang tegas dan tidak menyimpang dari tujuannya. Ia diduga lebih keras dari imagenya sendiri dan mendahulukan dialog dan permufakatan. Program yang ingin ia jalankan adalah reformasi pasar tenaga kerja, penurunan birokrasi, otonomi lebih bagi universitas dan reformasi pensiun.

Sementara itu hari Jum’at ini Presiden Perancis Sarkozy juga telah mengumumkan kabinetnya yang ia bentuk bersama dengan Fillon. Kabinet yang terdiri dari 15 menteri ini merupakan campuran antara wajah baru dan tokoh-tokoh yang sudah menjabat sebagai menteri dibawah pemerintahan Jaques Chirac. Kabinet yang terdiri dari 8 lelaki dan 7 perempuan ini diharapkan dapat membuat pembaharuan dalam politik Perancis.

Seperti diumumkan oleh sekertaris istana Elysée, Claude Guéant, Sarkozy menunjuk Bernard Kouchner dari partai sosialis sebagai menteri luar negeri dan Eropa. Politisi berumur 67 tahun yang dahulu bekerja sebagai dokter ini merupakan pendukung rival Sarkozy dalam pemilihan presiden, Segolene Royal. Ini adalah pertama kalinya seorang presiden Perancis memberikan jabatan senior seperti ini kepada seseorang dari pihak lawan. Kouchner yang turut mendirikan LSM ‚Dokter tanpa Perbatasan’ ini merupakan utusan tinggi PBB di Kosovo dan merupakan salah satu politisi yang paling populer di Perancis.

Sementara itu, Alain Juppe, mantan perdana menteri, ditunjuk mengepalai kementrian lingkungan hidup dan energi yang akan didirikan. Menteri pertahanan saat ini Michele Alliot-Marie menjabat posisi lama Sarkozy menjadi menteri dalam negeri dan Jean-Louis Borloo ditunjuk menjadi menteri ekonomi, keuangan dan tenaga kerja untuk memimpin reformasi ekonomi Perancis. Dan Herve Morin dari partai demokratis Perancis ditunjuk sebagai menteri pertahanan.

Sebuah penunjukkan tinggi lainnya, adalah Rachida Dati yang dahulu merupakan juru bicara Sarkozy dalam kampanye pemilihan presiden. Perempuan yang sekarang menjabat sebagai menteri kehakiman ini merupakan wanita asal Afrika Utara pertama yang menjabat posisi tinggi di pemerintahan Perancis.

Dengan penujukkan tujuh perempuan menjadi menteri, Perancis telah bergabung dengan Cili, Finlandia, Spanyol dan Swedia sebagai negara yang ingin mengakhiri dominasi kaum pria dalam dunia politiknya dengan menciptakan keseimbangan gender dalam pemerintahannya.

Iklan